RADAR TRENGGALEK - Desa Cikandang Garut kembali mencuri perhatian warganet.
Desa Cikandang Garut yang berada di dataran tinggi lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dikenal sebagai salah satu daerah terdingin di Kabupaten Garut.
Dalam suasana sore hari yang berkabut, suhu di Desa Cikandang Garut bahkan bisa turun hingga 12 derajat Celsius.
Pada Selasa, 21 Januari sekitar pukul 15.00 WIB, kabut tebal mulai menyelimuti kawasan pedesaan tersebut.
Jarak pandang yang sebelumnya masih terlihat jelas, perlahan tertutup kabut.
Rumah-rumah warga yang tadinya tampak dari kejauhan, mendadak menghilang di balik kabut putih pekat.
Desa Cikandang Garut memang dikenal memiliki udara dingin ekstrem.
Suhu rata-rata harian berada di kisaran 17 hingga 19 derajat Celsius.
Bahkan pada musim kemarau, suhu bisa lebih rendah dan terasa menusuk hingga ke tulang.
Dataran Tinggi dengan Udara Ekstrem
Secara geografis, Desa Cikandang berada di wilayah dataran tinggi Kabupaten Garut.
Kondisi ini membuat udara di kawasan tersebut jauh lebih dingin dibanding wilayah lain di Garut.
Tak heran jika muncul istilah bercanda di masyarakat, “Kalau Garut dingin, berarti Cikandang lagi bocor kulkasnya.”
Kabut yang turun biasanya tidak menetap di satu titik.
Dalam hitungan menit, kabut bisa berpindah dari satu sudut desa ke sudut lainnya.
Fenomena ini membuat suasana desa terasa sunyi, hening, sekaligus dramatis, terutama menjelang petang.
Mayoritas masyarakat Desa Cikandang berprofesi sebagai petani sayuran.
Komoditas unggulan di antaranya kentang, kol, wortel, dan cabai.
Tanaman cabai di wilayah ini tumbuh subur karena didukung suhu dingin dan tanah yang subur.
Selain pertanian sayur, peternakan Domba Garut juga menjadi potensi unggulan desa.
Hampir setiap rumah warga memiliki kandang domba di samping atau belakang rumah.
Aktivitas warga seperti mencari rumput untuk pakan ternak menjadi pemandangan sehari-hari.
Kehidupan Warga di Tengah Dingin Menyengat
Udara dingin ekstrem membuat warga memiliki cara tersendiri untuk beradaptasi.
Banyak rumah masih menggunakan tungku tradisional atau hawu untuk menghangatkan badan.
Selimut tebal menjadi perlengkapan wajib setiap malam.
Menjelang sore, aktivitas di luar rumah mulai berkurang.
Warga lebih memilih berada di dalam rumah untuk menghindari udara dingin dan gerimis yang kerap turun bersamaan dengan kabut.
Suasana desa pun terasa lengang, meski sesekali terlihat warga yang baru pulang dari ladang atau mengantar anak mengaji.
Menariknya, Desa Cikandang masih mempertahankan sejumlah rumah panggung berbahan kayu dan bilik.
Meski sebagian sudah beralih ke bangunan permanen, nuansa tradisional masih terasa kuat.
Warung-warung sederhana dengan desain lama juga masih bisa ditemui.
Selain sayuran dan peternakan, potensi kopi juga mulai berkembang di kawasan ini.
Tanaman kopi tumbuh di beberapa lahan warga, menambah variasi komoditas hasil bumi desa.
Infrastruktur dan Potensi Wisata Alam
Meski berada di dataran tinggi, akses jalan desa tergolong baik.
Jalan sudah diperlebar dan dipadatkan, memungkinkan kendaraan roda empat masuk untuk mengangkut hasil pertanian.
Hal ini menjadi faktor penting dalam mendukung distribusi hasil panen ke pasar.
Suasana berkabut dengan latar pegunungan serta hamparan kebun sayur sebenarnya menyimpan potensi wisata alam yang besar.
Lanskap desa yang diselimuti kabut tebal pada sore hari menghadirkan pemandangan yang eksotis dan fotogenik.
Bahkan, saat matahari mencoba menembus kabut, cahaya yang muncul hanya terlihat samar sebelum kembali tertutup awan tipis.
Perubahan cuaca yang cepat menjadi ciri khas tersendiri bagi Desa Cikandang.
Bagi pendatang dari luar daerah, suhu dingin di desa ini bisa terasa ekstrem hingga menyebabkan hidung berair dan tubuh menggigil.
Namun bagi warga setempat, kondisi tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian.
Desa Cikandang Garut membuktikan bahwa kehidupan di dataran tinggi dengan suhu dingin ekstrem tetap bisa berjalan produktif.
Pertanian, peternakan, serta potensi alam menjadi kekuatan utama desa ini dalam bertahan dan berkembang di tengah udara yang menusuk.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan