Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi, Desa Adat di Kaki Gunung Halimun dengan Cadangan Pangan 95 Tahun dan Tradisi Leluhur yang Tetap Hidup

Muhamad Ahsanul Wildan • Sabtu, 14 Februari 2026 | 23:18 WIB
Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi di kaki Gunung Halimun punya cadangan pangan 95 tahun dan tradisi adat yang masih lestari.
Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi di kaki Gunung Halimun punya cadangan pangan 95 tahun dan tradisi adat yang masih lestari.

RADAR TRENGGALEK – Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi menjadi sorotan setelah kisah kehidupan masyarakat adat di kaki Gunung Halimun kembali viral di media sosial.

Berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), kampung adat ini menawarkan potret kehidupan tradisional yang masih lestari, jauh dari hiruk pikuk modernisasi.

Perjalanan menuju Kesepuhan Gelar Alam tidaklah mudah.

Dari arah Pelabuhan Ratu, akses jalan menanjak dan berliku menjadi tantangan tersendiri.

Namun, setibanya di lokasi, suasana sejuk dan pemandangan alam 360 derajat langsung menyambut.

Desa adat ini sebelumnya dikenal sebagai Kasepuhan Cipta Gelar, sebelum akhirnya berpindah lokasi ke titik yang lebih tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

 

Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi dikenal sebagai komunitas adat Sunda yang memegang teguh warisan leluhur.

Sistem pertanian dijalankan tanpa bahan kimia, mengikuti kalender adat, serta mengutamakan keseimbangan antara manusia dan alam.

Filosofi hidup mereka sederhana, menjaga tradisi berarti menjaga masa depan.

### Imah Gede, Pusat Spiritualitas dan Musyawarah Adat

Salah satu bangunan paling sakral di kawasan ini adalah Imah Gede.

Rumah besar berbahan bambu dan kayu itu menjadi pusat kegiatan adat sekaligus tempat tinggal pemimpin adat tertinggi, Abah Ugi.

Di sinilah keputusan penting dan musyawarah adat digelar.

Secara arsitektur, rumah adat ini dirancang sebagai rumah panggung dengan tiang bercagak dan atap daun salak yang dibalik.

Konsep tersebut bukan sekadar estetika, melainkan perlindungan alami dari gangguan luar.

Kolong rumah menjaga jarak dari tanah, sementara dinding bilik bambu memungkinkan sirkulasi udara tetap sehat.

Imah Gede juga menjadi lokasi utama pelaksanaan ritual Seren Taun, upacara panen raya tahunan yang mampu menarik ribuan pengunjung, bahkan dari mancanegara.

Pada momen inilah Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi ramai diliput berbagai media.

### Tradisi Tanpa Konsep Wisata Komersial

Meski banyak tamu datang, pihak kasepuhan menegaskan bahwa mereka bukan destinasi wisata komersial.

Siapa pun boleh berkunjung, namun dengan syarat mengikuti tatanan adat yang berlaku.

Tidak ada tarif resmi untuk makan atau menginap. Semua didasarkan pada kesadaran pribadi sebagai bentuk terima kasih, bukan transaksi jual beli.

Para tamu biasanya disuguhi makanan rumahan seperti nasi hangat, sayur asem, ayam kecap, telur ceplok, hingga dodol.

Aktivitas dapur berlangsung sejak dini hari, karena selain melayani tamu, dapur besar juga memasak untuk warga dan pekerja ladang.

Kesederhanaan ini justru menjadi daya tarik. Pengunjung dapat melihat langsung proses menumbuk padi secara manual, sebagaimana dilakukan leluhur mereka.

Beras diambil dari lumbung dan ditumbuk sesuai kebutuhan harian, tanpa mesin modern.

### 12 Ribu Lumbung Padi, Cadangan Hingga 95 Tahun

Salah satu fakta paling mencengangkan dari Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi adalah sistem ketahanan pangannya.

Tercatat ada sekitar 12 ribu lumbung padi (leuit) yang tersebar di kawasan ini. Cadangan tersebut diklaim mampu bertahan hingga 95 tahun.

Padi dianggap sebagai makhluk hidup yang harus dihormati.

Salah satu lumbung paling sakral adalah Leuit Si Jimat, yang berfungsi sebagai cadangan komunal.

Jika terjadi gagal panen atau paceklik, padi dari lumbung tersebut dapat digunakan bersama.

Menariknya, seluruh bangunan lumbung dipindahkan secara gotong royong dari lokasi lama tanpa alat berat.

Sekali pengerahan tenaga, sekitar 3.000 orang terlibat.

Semua dilakukan menggunakan alat tradisional seperti cangkul dan kayu.

### Hidup Selaras dengan Alam

Di tengah isu krisis pangan dan deforestasi, masyarakat adat ini justru menunjukkan model ketahanan berbasis tradisi.

Air bersumber langsung dari mata air pegunungan, mengalir tanpa batas.

Udara dingin alami membuat rumah tidak memerlukan pendingin ruangan.

Mayoritas bangunan menggunakan bahan alam seperti bambu, kayu, ijuk, dan daun.

Filosofinya jelas, manusia harus menyatu dengan alam, bukan menguasainya secara berlebihan.

Akses menuju lokasi memang membutuhkan kendaraan 4x4, terutama saat hujan karena medan berbatu cadas menjadi licin.

Namun tantangan perjalanan itu terbayar dengan pengalaman menyaksikan komunitas adat yang tetap teguh menjaga identitasnya.

Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi bukan sekadar desa adat, melainkan refleksi tentang bagaimana tradisi, gotong royong, dan harmoni dengan alam mampu menciptakan sistem sosial yang tangguh.

Di saat banyak wilayah bergulat dengan persoalan ketahanan pangan dan kerusakan lingkungan, kampung adat di kaki Gunung Halimun ini justru membuktikan bahwa kearifan lokal masih sangat relevan untuk masa depan.

 

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#Ketahanan Pangan Adat #seren taun #Imah Gede #Gunung Halimun #Kesepuhan Gelar Alam Sukabumi