RADAR TRENGGALEK - Rumah di pinggir Sungai Cikahuripan Cianjur Selatan mendadak viral setelah sebuah kanal YouTube menampilkan pengalaman menginap di kawasan terpencil perbatasan Kabupaten Cianjur dan Garut Selatan.
Lokasinya berada di Desa Gelarwangi, Kecamatan Cidaun, salah satu desa paling ujung yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Talegong, Garut Selatan.
Rumah di pinggir Sungai Cikahuripan Cianjur Selatan itu berdiri sendiri di tepi aliran sungai jernih yang membelah dua kabupaten.
Suasana sore diselimuti kabut tebal, hamparan sawah luas, serta suara gemericik air yang menciptakan atmosfer pedesaan yang tenang dan eksotis.
Perjalanan menuju rumah tersebut tidak mudah. Akses jalan masih terbatas dan harus menyeberangi aliran sungai kecil di sekitar bendungan irigasi sawah warga.
Namun lelah perjalanan terbayar lunas begitu tiba di lokasi. Panorama alam Cianjur Selatan yang masih asri menjadi daya tarik utama.
Rumah Tunggal di Perbatasan Dua Kabupaten
Pemilik rumah diketahui bernama Bapak Iana. Ia sudah sekitar empat tahun menetap di lokasi tersebut.
Sungai yang berada tepat di depan rumahnya bernama Sungai Cikahuripan, bukan Sungai Cilaki.
Sungai Cikahuripan menjadi batas alami antara Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut.
Airnya jernih karena bersumber langsung dari pegunungan sekitar.
Irigasi sederhana juga tampak digunakan untuk mengaliri persawahan warga.
Kawasan ini memang dikenal sebagai salah satu wilayah paling terpencil di Cianjur Selatan.
Jarak tempuh dari Sindangbarang menuju lokasi bisa mencapai lima jam perjalanan.
Sensasi Menginap dan Nasi Liwet Beras Lesti
Yang menarik perhatian publik adalah pengalaman makan malam di rumah tersebut.
Tuan rumah menyuguhkan nasi liwet lengkap dengan ikan asin, sambal, dan petai.
Uniknya, nasi yang disajikan berasal dari varietas padi yang disebut warga sebagai “Beras Lesti”.
Nama tersebut merujuk pada penyanyi dangdut terkenal, Lesti Kejora.
Menurut Bapak Iana, penamaan padi tersebut muncul belum lama ini. Selain Beras Lesti, ada pula varietas lain yang dinamai “Beras Indul”.
Fenomena penamaan varietas padi dengan nama artis ini menjadi cerita unik di balik kehidupan petani perbatasan.
Meski sederhana, cita rasa nasi liwet yang dimasak dari beras lokal tersebut disebut sangat pulen dan nikmat, apalagi disantap di tengah udara dingin pegunungan.
Pagi Berkabut dan Sawah yang Dijaga Setiap Hari
Keesokan paginya, suasana semakin memukau. Kabut tipis menyelimuti hamparan sawah.
Batu-batu besar tersebar di area persawahan, menciptakan lanskap yang eksotis.
Bapak Iana setiap hari harus bolak-balik dari wilayah Garut menuju sawah di perbatasan tersebut.
Ia bekerja sebagai buruh tani dan rutin menjaga padi dari serangan burung menjelang masa panen.
Air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari berasal dari sumber mata air pegunungan. Kejernihannya terlihat jelas, mencerminkan kondisi lingkungan yang masih alami.
Potret Kehidupan Sederhana yang Mengundang Simpati
Kehidupan di rumah pinggir Sungai Cikahuripan Cianjur Selatan mencerminkan kesederhanaan masyarakat perbatasan.
Tidak ada kemewahan, hanya rumah sederhana, sawah, sungai, dan udara dingin yang menusuk tulang.
Namun di balik keterbatasan itu, ada keramahan dan kehangatan yang terasa.
Tuan rumah menerima tamu dengan terbuka, berbagi makanan, dan berbincang hingga larut malam.
Kisah ini sekaligus memperlihatkan potensi wisata alam Cianjur Selatan yang belum banyak terekspos.
Hamparan sawah berkabut, sungai jernih, serta kehidupan autentik masyarakat desa menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat wisata pedesaan.
Rumah di pinggir Sungai Cikahuripan Cianjur Selatan bukan sekadar lokasi terpencil di peta.
Ia menjadi simbol ketenangan, ketulusan, dan keindahan alam yang masih terjaga di perbatasan Cianjur dan Garut.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan