RADAR TRENGGALEK - Desa di atas awan Dieng kembali menjadi perbincangan warganet seiring munculnya dokumentasi perjalanan yang menampilkan keindahan Desa Parikesit, Kecamatan Kejajar, yang berada di lereng Dataran Tinggi Dieng Plateau.
Desa ini dikenal memiliki panorama unik berupa hamparan rumah warga yang seolah melayang di atas lautan kabut, menciptakan sensasi seperti berada di negeri di atas awan.
Fenomena desa di atas awan Dieng tersebut terlihat jelas ketika kendaraan menanjak melewati jalur pegunungan.
Di beberapa titik, kabut tebal menutup pandangan, namun ketika ketinggian bertambah, langit justru tampak cerah dengan gumpalan awan berada di bawah permukiman warga.
Kondisi ini menjadi ciri khas kawasan Dieng yang kerap memunculkan pemandangan dramatis, terutama pada pagi hari.
Desa Parikesit berada di kawasan perbukitan yang dikelilingi gunung-gunung besar. Dari beberapa sudut desa, terlihat jelas siluet Mount Sindoro dan Mount Sumbing yang berdiri berdampingan.
Di kejauhan, warga setempat menyebutkan bahwa pada kondisi cuaca cerah, juga dapat terlihat puncak Mount Merapi dan Mount Merbabu.
Desa di Atas Awan Dieng dan Kehidupan Warga
Desa di atas awan Dieng bukan hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga memperlihatkan kehidupan masyarakat pegunungan yang masih kental dengan nilai-nilai tradisional.
Pada pagi hari, warga sudah tampak beraktivitas menuju ladang dengan mengenakan sarung atau jaket tebal untuk menahan dingin. Suhu di wilayah ini cenderung rendah, terutama saat subuh hingga pagi.
Salah satu kearifan lokal yang menarik adalah penggunaan kendaraan pikap sebagai sarana transportasi utama. Kendaraan ini tidak hanya mengangkut hasil pertanian, tetapi juga kerap dimanfaatkan warga untuk berpindah dari satu dusun ke dusun lain.
Meski saat ini akses bus sudah tersedia hingga kawasan tertentu, pikap tetap menjadi andalan karena mampu melewati jalur sempit dan menanjak.
Bahasa yang digunakan warga sehari-hari juga memiliki ciri khas.
Dialek Jawa di kawasan ini cenderung mendekati Banyumasan atau Ngapak, berbeda dengan dialek Jawa di wilayah Yogyakarta maupun Surakarta. Keragaman dialek tersebut mencerminkan kekayaan budaya di wilayah pegunungan Jawa Tengah.
Pertanian Terasering Ekstrem di Lereng Gunung
Sebagian besar warga Desa Parikesit menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Lahan pertanian di desa ini menggunakan sistem terasering yang sangat ekstrem, menyerupai anak tangga dengan lebar hanya sekitar setengah meter di setiap tingkat.
Kondisi tersebut menuntut ketelitian dan keberanian ekstra bagi para petani.
Komoditas utama yang dibudidayakan antara lain kentang, cabai, dan sayuran dataran tinggi lainnya. Menariknya, kentang tidak selalu langsung dipanen untuk konsumsi.
Sebagian kentang dibiarkan terkena sinar matahari agar bertunas, kemudian digunakan kembali sebagai bibit tanam. Proses ini menjadi bagian penting dari siklus pertanian di desa tersebut.
Aktivitas penyemprotan tanaman pun dilakukan secara manual dengan pompa gendong, meski medan yang dihadapi cukup terjal.
Pemandangan petani berjalan di jalur sempit di pinggir jurang menjadi gambaran nyata tentang ketangguhan masyarakat desa di atas awan Dieng.
Potensi Wisata Berbasis Alam dan Budaya
Keindahan Desa Parikesit membuka peluang besar bagi pengembangan wisata berbasis alam dan budaya.
Panorama lautan kabut, latar gunung, serta kehidupan desa yang autentik menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan pencinta petualangan dan fotografi.
Selain itu, interaksi hangat warga dengan pendatang memperkuat kesan bahwa desa ini memiliki potensi sebagai desa wisata edukatif. Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga dapat belajar tentang pertanian dataran tinggi, sistem terasering, serta budaya lokal.
Dengan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki, desa di atas awan Dieng seperti Parikesit dinilai mampu menjadi ikon baru pariwisata Wonosobo di 2026. Keunikan lanskap serta kearifan lokal yang masih terjaga menjadi modal penting untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula