RADAR TRENGGALEK – Eksotisnya Dusun Gendol di lereng Gunung Sumbing kian menarik perhatian publik.
Dusun yang berada di wilayah Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini menampilkan perpaduan panorama alam pegunungan, hamparan awan, serta aktivitas pertanian yang masih dijalankan secara tradisional.
Eksotisnya Dusun Gendol di lereng Gunung Sumbing terlihat dari suasana perkampungan yang berada di ketinggian, dengan kontur wilayah berupa perbukitan dan jurang di sejumlah titik.
Dari beberapa sudut dusun, pemandangan desa-desa di bawah tampak jelas, menciptakan kesan seolah berada di negeri di atas awan.
Dusun Gendol menjadi titik terakhir dari rangkaian penelusuran sejumlah desa di sekitar lereng Gunung Sumbing.
Sebelumnya, wilayah-wilayah lain yang berada di sekitar kawasan ini juga telah dilewati, mulai dari desa-desa di Kecamatan Windusari, wilayah Kabupaten Temanggung, hingga kawasan Kabupaten Wonosobo.
Seluruh rangkaian perjalanan tersebut memperlihatkan karakter khas desa pegunungan yang masih kuat mempertahankan tradisi agraris.
Desa Terpencil dengan Akses Menantang
Akses menuju Dusun Gendol didominasi jalur sempit dan menanjak. Beberapa titik bahkan berupa jalan pertanian yang hanya bisa dilalui kendaraan tertentu.
Meski demikian, kondisi ini justru menjadi ciri khas kawasan lereng Gunung Sumbing yang masih alami dan minim sentuhan modernisasi berlebihan.
Di sisi kiri dan kanan jalur, terbentang jurang serta perbukitan hijau. Angin kencang kerap bertiup, menambah kesan sejuk khas pegunungan.
Warga setempat terbiasa dengan kondisi tersebut dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kendala berarti.
Aktivitas Pertanian yang Dominan
Mayoritas warga Dusun Gendol menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Berbagai jenis tanaman sayur menjadi komoditas utama, salah satunya bawang daun atau daun loncang.
Proses panen dilakukan secara gotong royong, dengan pembagian tugas mulai dari memanen, membersihkan, mengikat, hingga mengemas hasil panen.
Dalam satu ikatan, bawang daun dapat mencapai puluhan kilogram dan siap diangkut menggunakan sepeda motor menuju pengepul atau pasar terdekat. Sistem kerja seperti ini mencerminkan pola pertanian tradisional yang efisien dan tetap mengedepankan kebersamaan.
Selain bawang daun, sejumlah lahan juga ditanami sayuran lain yang disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat. Kesuburan tanah lereng Gunung Sumbing membuat tanaman tumbuh dengan baik sepanjang musim.
Panorama Awan dan Gunung Sekitar
Salah satu daya tarik utama Dusun Gendol adalah panorama awan yang kerap menyelimuti kawasan ini, terutama pada pagi hari.
Dari titik-titik tertentu, awan tampak mengalir di antara perbukitan, menciptakan pemandangan dramatis.
Dari kejauhan, siluet Gunung Merbabu juga terlihat jelas. Kehadiran dua gunung besar tersebut menjadikan Dusun Gendol memiliki lanskap alam yang kuat dan khas pegunungan Jawa Tengah.
Pemandangan inilah yang membuat banyak orang menyebut Dusun Gendol sebagai desa dengan suasana estetis alami, tanpa perlu sentuhan buatan.
Kehidupan Sosial yang Bersahaja
Warga Dusun Gendol dikenal ramah dan terbuka terhadap tamu. Interaksi sederhana di ladang maupun di sekitar rumah mencerminkan kehidupan sosial yang bersahaja.
Bahasa daerah masih menjadi alat komunikasi utama, menandakan kuatnya identitas lokal.
Kehidupan desa berjalan tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia hidup berdampingan dalam lingkungan yang saling mengenal satu sama lain.
Potensi Desa Pegunungan di 2026
Memasuki 2026, Dusun Gendol dipandang sebagai salah satu contoh desa pegunungan yang mampu mempertahankan keseimbangan antara aktivitas ekonomi, kelestarian alam, dan kearifan lokal.
Keindahan panorama, kesuburan lahan, serta kehidupan sosial yang harmonis menjadi kekuatan utama dusun ini.
Eksotisnya Dusun Gendol di lereng Gunung Sumbing bukan sekadar soal pemandangan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan alam dan sesama.
Potret tersebut menjadikan Dusun Gendol sebagai representasi desa pegunungan yang autentik dan penuh cerita.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula