TRENGGALEK – Suasana pagi Dieng kembali mencuri perhatian warganet setelah sebuah video YouTube menampilkan kehidupan pedesaan yang masih sangat alami. Mulai dari aktivitas petani di ladang, kabut tebal yang menyelimuti kawasan pegunungan, hingga geliat wisata dan kuliner lokal, semua tersaji lengkap dalam suasana dingin yang khas.
Dalam video tersebut, suasana pagi Dieng digambarkan begitu menusuk tulang. Pada pukul 06.00 WIB, suhu di kawasan dataran tinggi ini disebut mencapai sekitar 8 derajat Celsius. Kabut tebal menutup ladang kentang dan sayuran warga, menciptakan panorama khas yang hanya bisa ditemui di kawasan pegunungan Jawa Tengah.
Aktivitas Petani di Tengah Kabut Dieng
Pagi hari di Dieng dimulai dari ladang. Warga terlihat sudah beraktivitas sejak matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Para petani memanen daun bawang, seledri, dan kubis langsung dari kebun yang berada di belakang rumah. Kehidupan seperti ini menunjukkan betapa dekatnya masyarakat Dieng dengan alam.
Beberapa petani juga tampak menyemprot tanaman kentang yang masih berusia sekitar tiga minggu. Kentang menjadi komoditas utama di kawasan ini dan menjadi sumber penghidupan mayoritas warga. Dalam balutan kabut dan udara dingin, aktivitas pertanian tetap berjalan tanpa hambatan.
Dieng Kulon hingga Banjarnegara, Desa Wisata yang Hidup
Perjalanan berlanjut menyusuri kawasan Desa Dieng Kulon yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara. Jalan desa terlihat bersih dan tertata, dengan deretan homestay milik warga di kanan-kiri jalan. Suasana pagi Dieng yang tenang membuat kawasan ini terasa asri dan nyaman bagi wisatawan.
Lalu lintas di pagi hari terpantau mulai ramai, terutama karena momen long weekend. Wisatawan dari berbagai daerah seperti Cirebon, Magelang, hingga Indramayu terlihat memadati kawasan Dieng untuk menikmati udara sejuk dan panorama alam.
Tak jauh dari sana, kawasan perbatasan Wonosobo–Banjarnegara menjadi titik strategis wisata. Penjual makanan sarapan pagi, mulai dari bubur hingga sate, berjajar di pinggir jalan. Aktivitas ekonomi warga pun hidup seiring meningkatnya jumlah pengunjung.
Keripik Kentang Dieng, Bukan Kentang Biasa
Salah satu daya tarik lain yang disorot dalam video adalah kuliner khas Dieng, yakni keripik kentang. Kentang yang digunakan bukan kentang sayur biasa, melainkan jenis khusus seperti kentang Atlantik atau Agria yang memang diperuntukkan untuk keripik.
Jenis kentang ini memiliki tekstur lebih renyah saat digoreng dan tidak mudah lembek. Harganya pun relatif mahal, mencapai Rp25.000 per kilogram untuk kentang mentah. Setelah diolah dan dikemas, satu bungkus keripik kentang seberat sekitar 200 gram juga dibanderol Rp25.000.
Wisata Candi dan Produk Lokal
Perjalanan pagi itu juga menyentuh kawasan Candi Arjuna, salah satu ikon wisata Dieng. Area parkir sudah dipenuhi bus rombongan dan kendaraan pribadi sejak pagi hari.
Di sekitar kompleks candi, pedagang mulai membuka lapak. Produk lokal seperti madu hutan asli, madu sarang, hingga purwaceng dijajakan kepada wisatawan. Madu hutan murni dijual dengan harga mulai Rp200.000 per botol, sementara madu sarang dibanderol sekitar Rp100.000.
Masalah Sampah Masih Jadi PR
Di balik pesona alam dan ramainya wisata, suasana pagi Dieng juga menampilkan persoalan klasik, yakni sampah. Botol plastik dan sampah makanan masih ditemukan berserakan, meski tempat sampah telah disediakan. Kesadaran pengunjung menjadi kunci agar keindahan Dieng tetap terjaga.
Dieng bukan hanya tentang dingin dan kabut, tetapi juga tentang kehidupan desa yang sederhana, keramahan warga, serta potensi wisata yang terus tumbuh. Pagi hari menjadi waktu terbaik menikmati wajah asli Dieng—hening, dingin, namun penuh kehidupan.
Editor : Izahra Nurrafidah