TRENGGALEK – Ekspedisi Wonderland Indonesia Season 2 resmi dimulai dengan konsep perjalanan yang berbeda dari musim sebelumnya. Mengusung misi riset film panjang bertajuk Wonderland Indonesia, tim ekspedisi kali ini menjelajah Pulau Jawa dengan fokus pada eksplorasi budaya, alam, serta uji ketangguhan mobil listrik di medan ekstrem.
Ekspedisi Wonderland Indonesia Season 2 menandai babak baru perjalanan riset sinematik Nusantara. Tidak lagi menggunakan kendaraan konvensional, tim memilih mobil listrik berkemampuan offroad sebagai armada utama. Kendaraan tersebut diberi nama “Jiva”, yang dimaknai sebagai jiwa perjalanan ekspedisi selama menjelajahi Jawa Timur.
Dalam Ekspedisi Wonderland Indonesia Season 2, perjalanan diawali dari studio Dew Atlantis menuju jalur Kintamani dengan jarak tempuh sekitar 161 kilometer. Medan yang dilalui tidak mudah. Jalan berkelok, tanjakan curam, hujan, hingga kabut tebal menjadi tantangan sejak awal perjalanan. Meski demikian, perjalanan tetap berlangsung lancar dengan dukungan fitur regenerasi daya baterai yang membantu efisiensi energi selama melintasi jalur menanjak dan menurun.
Uji Mobil Listrik di Jalur Panjang dan Offroad
Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan wisata. Tim secara sadar memilih rute menantang untuk menguji performa mobil listrik dalam perjalanan jarak jauh. Dari Kintamani, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Gilimanuk melewati kawasan Taman Nasional Bali Barat yang dikenal memiliki bentang alam asri dan jalur panjang.
Setelah lebih dari empat jam perjalanan darat, tim harus menghadapi antrean panjang sebelum menyeberang Selat Bali. Sekitar 65 menit perjalanan laut dilalui hingga akhirnya tiba di Banyuwangi, Jawa Timur, pada malam hari. Kondisi tersebut memaksa tim menunda rencana berkemah dan memilih beristirahat sambil mengisi ulang daya kendaraan di stasiun pengisian milik PLN.
Menyelami Budaya Gandrung dan Suku Osing
Memasuki hari berikutnya, Ekspedisi Wonderland Indonesia Season 2 mulai menggali kekayaan budaya Banyuwangi. Salah satu destinasi utama adalah Taman Gandrung Terakota, lokasi ikonik yang menampilkan ratusan patung penari Gandrung. Tim disambut langsung dengan tarian Gandrung khas Banyuwangi, sekaligus mendapatkan penjelasan sejarah tarian yang dahulu dibawakan oleh penari laki-laki sebelum akhirnya diwariskan kepada penari perempuan.
Tak hanya visual, tim audio juga merekam unsur bunyi tradisional sebagai aset film panjang. Langkah ini menjadi bagian penting dalam riset untuk menghadirkan pengalaman audio-visual autentik khas Banyuwangi dalam film Wonderland Indonesia.
Perjalanan berlanjut ke Kampung Adat Osing Kemiren, pusat kebudayaan suku Osing yang masih mempertahankan rumah adat, bahasa, serta tradisi turun-temurun. Di kampung ini, tim mempelajari kesenian musik gedogan dan ritual mocoan lontar yang rutin dilakukan setiap malam Kamis sebagai bentuk pelestarian budaya.
Eksplorasi Hutan Jawatan yang Magis
Salah satu agenda wajib dalam Ekspedisi Wonderland Indonesia Season 2 adalah menjelajah Hutan Jawatan. Kawasan dengan ratusan pohon trembesi berusia lebih dari satu abad ini menjadi sumber inspirasi visual bagi tim riset. Setiap tekstur batang dan lekuk dahan direkam untuk dijadikan aset tiga dimensi dalam film panjang.
Selain eksplorasi artistik, Hutan Jawatan juga menjadi ajang uji medan offroad. Jalur berlumpur akibat hujan deras dimanfaatkan untuk mencoba mode khusus kendaraan listrik. Tantangan tersebut justru memperkuat konsep ekspedisi sebagai perjalanan riset, bukan sekadar rekreasi.
Ekspedisi Wonderland Indonesia Season 2 di Banyuwangi menjadi titik awal perjalanan panjang di Jawa Timur. Masih banyak wilayah lain yang akan dijelajahi, termasuk kawasan dataran tinggi dan tanah kaldera yang menyimpan keajaiban alam Nusantara. Tim ekspedisi memastikan perjalanan ini akan terus menghadirkan cerita, budaya, dan lanskap Indonesia dalam kemasan sinematik yang mendalam.
Editor : Izahra Nurrafidah