Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Raja Ampat Papua Barat Daya Disebut Surga Terakhir di Dunia, Begini Perjalanan Epik Menembus Ombak hingga Kali Biru

Axsha Zazhika • Minggu, 15 Februari 2026 | 17:15 WIB
Raja Ampat Papua Barat Daya Disebut Surga Terakhir di Dunia, Begini Perjalanan Epik Menembus Ombak hingga Kali Biru
Raja Ampat Papua Barat Daya Disebut Surga Terakhir di Dunia, Begini Perjalanan Epik Menembus Ombak hingga Kali Biru

TRENGGALEK NJENGGELEK - Raja Ampat Papua Barat Daya kembali membuktikan diri sebagai surga terakhir di dunia. Julukan itu bukan sekadar promosi wisata, melainkan gambaran nyata dari bentang alam, laut biru jernih, hingga kekayaan bawah laut yang sulit ditandingi destinasi lain.

Perjalanan menuju Raja Ampat Papua Barat Daya memang tidak sederhana. Dari Bandung, perjalanan dimulai dini hari menuju Bandara Soekarno-Hatta, lalu terbang sekitar enam jam dengan transit di Makassar sebelum akhirnya mendarat di Sorong, pintu gerbang utama menuju kawasan wisata unggulan ini.

Meski kerap diterpa stigma soal keamanan, pengalaman langsung di Raja Ampat Papua Barat Daya justru menghadirkan cerita berbeda. Alamnya megah, masyarakatnya ramah, dan destinasi wisatanya benar-benar memukau.

Baca Juga: Pesona Perkebunan Teh Sikotok Wonosobo, View Gunung Sindoro Bikin Jatuh Cinta, Tiket Masuk Cuma Rp10 Ribu

Sorong, Gerbang Menuju Raja Ampat

Sorong merupakan kota terbesar kedua di Papua setelah Jayapura dan kini menjadi ibu kota Papua Barat Daya. Kota ini menjadi titik awal wisatawan sebelum menyeberang ke Raja Ampat.

Bentang alam Sorong bervariasi, mulai dari perbukitan hingga pantai. Selain panorama, Sorong juga dikenal dengan hasil lautnya yang melimpah. Salah satu kuliner khas yang wajib dicoba adalah rahang tuna.

Di salah satu rumah makan seafood dekat bandara, rahang tuna menjadi menu andalan. Ukurannya besar, dibakar dengan bumbu khas, dan disajikan dengan sambal balado yang menggugah selera. Harga per porsi pun relatif terjangkau, mulai Rp40 ribu hingga Rp100 ribu.

Tak jauh dari pusat kota, terdapat Jembatan Puri yang dikenal sebagai “pintu ikan” Sorong. Di sinilah aktivitas bongkar muat ikan dari kapal-kapal nelayan berlangsung. Ikan-ikan segar, termasuk tuna berukuran besar, didistribusikan ke pasar lokal hingga diekspor ke luar negeri.

Menembus Ombak Menuju Surga Terakhir

Dari Pelabuhan Marina Sorong, perjalanan menuju Raja Ampat ditempuh menggunakan speedboat. Cuaca menjadi faktor penting, terutama saat musim angin barat yang membuat ombak cukup tinggi.

Perjalanan laut memakan waktu dua hingga tiga jam tergantung kondisi cuaca. Meski menegangkan, panorama gugusan pulau karst yang muncul di tengah laut menjadi hiburan tersendiri.

Baca Juga: Xiaomi Mi 8 Masih Layak Dipakai 2026? Harga Bekas Rp1 Jutaan, Snapdragon 845 Ternyata Masih Ngebut!

Raja Ampat dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Sekitar 75 persen spesies karang dunia disebut berada di kawasan ini. Tak heran jika destinasi ini menjadi impian para penyelam dari berbagai negara.

Kali Biru, Permata Tersembunyi di Tengah Hutan

Salah satu destinasi unik di Raja Ampat Papua Barat Daya adalah Kali Biru di Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit. Untuk mencapainya, wisatawan harus melanjutkan perjalanan dengan perahu kecil lalu trekking sekitar 15 menit menyusuri hutan.

Kali Biru menawarkan sungai berwarna biru jernih dengan suhu air yang sejuk. Airnya berasal dari mata air pegunungan dan mengalir menuju sungai besar hingga ke laut.

Pengunjung dapat berenang atau sekadar menikmati suasana hutan yang asri. Namun, ada aturan adat yang harus dihormati, termasuk larangan berenang di sumber mata air utama sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur setempat.

Pianemo dan Laguna Bintang, Ikon Raja Ampat

Destinasi berikutnya adalah Pianemo, salah satu spot paling ikonik di Raja Ampat. Untuk mencapai puncaknya, wisatawan harus mendaki sekitar 300 anak tangga.

Dari atas, terlihat gugusan pulau karst dengan laguna berwarna hijau toska yang memanjakan mata. Panorama ini bahkan diabadikan dalam desain uang pecahan Rp100.000, menjadikannya simbol keindahan alam Indonesia.

Tak jauh dari Pianemo, terdapat Laguna Bintang atau Telaga Bintang. Dari ketinggian, bentuk laguna menyerupai bintang yang dikelilingi perbukitan karst. Jalur menuju puncak cukup curam dan berbatu, tetapi pemandangan di atas benar-benar sepadan dengan perjuangan.

Arborek dan Pasir Timbul yang Magis

Pulau Arborek menjadi destinasi favorit berikutnya. Desa wisata ini terkenal dengan bawah lautnya yang indah. Bahkan dari dermaga, terumbu karang dan ikan warna-warni sudah terlihat jelas.

Arborek juga dikenal sebagai lokasi kemunculan pari manta yang menjadi daya tarik utama penyelam dunia. Selain wisata bahari, pengunjung dapat berinteraksi dengan warga lokal yang memproduksi kerajinan tangan khas Papua.

Baca Juga: Daftar HP Oppo Terbaru 2026 Resmi Rilis di Indonesia, dari Oppo A6 Rp1 Jutaan hingga Find X9 Series Spek Sultan

Perjalanan ditutup di Pasir Timbul, hamparan pasir putih yang muncul saat air laut surut. Fenomena ini terjadi beberapa kali sehari dan menciptakan lanskap unik di tengah laut.

Raja Ampat Papua Barat Daya bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pengalaman menyeluruh tentang alam, budaya, dan kehidupan masyarakat pesisir. Dari kuliner khas Sorong hingga gugusan pulau karst yang mendunia, semuanya mempertegas bahwa Papua memang layak disebut surga terakhir di dunia.

Editor : Axsha Zazhika
#Laguna Bintang #Pianemo Raja Ampat #sorong #Raja Ampat Papua Barat Daya #kali biru