TRENGGALEK NJENGGELEK - Banda Nera dan pala Banda bukan sekadar cerita tentang destinasi wisata eksotis di Maluku. Di balik lanskap pulau vulkanik yang hijau dan laut biru jernih, tersimpan sejarah panjang yang mengubah arah perdagangan dunia sekaligus meninggalkan luka mendalam bagi penduduknya.
Banda Nera dan pala Banda sejak ratusan tahun lalu menjadi magnet bangsa-bangsa besar. Rempah kecil bernama pala menjadikan kepulauan ini pusat perebutan kekuasaan global. Bahkan, pada masanya, pala disebut lebih berharga daripada emas.
Jejak Banda Nera dan pala Banda tidak hanya membentuk sejarah kolonialisme, tetapi juga melahirkan masyarakat multietnis yang hidup rukun hingga hari ini. Dari mitologi tanaman surga hingga tragedi genosida 1621, kisahnya begitu kompleks dan menggugah.
Pala, Tanaman Surga yang Mengubah Dunia
Secara geografis, Banda Nera merupakan gugusan pulau vulkanik di tengah Laut Banda. Tanahnya subur akibat letusan gunung api purba, menciptakan ekosistem ideal bagi tanaman pala varietas Myristica fragrans.
Dalam mitologi lokal, pala diyakini sebagai “tanaman surga” yang memang ditumbuhkan khusus di Banda. Sejarah mencatat, pedagang Tiongkok sudah menemukan dan memperdagangkan pala jauh sebelum Masehi. Sumber rempah ini dirahasiakan selama ratusan tahun.
Pedagang Arab kemudian mengikuti jalur perdagangan hingga akhirnya menemukan Kepulauan Banda sekitar 600 tahun setelah Tiongkok lebih dulu berdagang pala. Rempah ini digunakan sebagai bumbu, obat tradisional, parfum, hingga pengawet alami.
Di Eropa, pala menjadi simbol kemewahan. Seseorang yang memiliki segenggam pala nilainya setara segenggam emas. Saat wabah Black Death melanda Eropa dan menewaskan sepertiga populasi, pala dipercaya sebagai obat penangkal penyakit. Harga pun melonjak drastis.
Sejak saat itulah Banda dikenal dunia sebagai The Spice Islands atau Kepulauan Rempah-rempah.
Perebutan Pala dan Tragedi 1621
Bangsa Portugis menjadi pelopor kedatangan Eropa ke Banda setelah menaklukkan Malaka pada abad ke-16. Awalnya berdagang biasa, mereka kemudian membangun gudang yang berubah menjadi benteng demi menguasai perdagangan pala.
Namun perebutan tidak berhenti di situ. Inggris dan Belanda ikut bersaing. Puncaknya terjadi pada 1621 ketika VOC di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen melancarkan ekspedisi militer.
Motifnya jelas: monopoli pala. Perang pun tak terhindarkan. Dari sekitar 15.000 penduduk Banda saat itu, hanya 600-700 jiwa yang tersisa setelah pembantaian massal. Peristiwa ini dikenal sebagai genosida Banda.
Belanda kemudian mendatangkan pekerja dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Batavia, hingga Buton untuk mengelola perkebunan pala. Sejak saat itu terjadi percampuran etnis yang membentuk identitas baru masyarakat Banda.
Multietnis dan Dialek Banda
Kini, Banda Nera dikenal sebagai masyarakat multikultural. Suku Jawa mendominasi populasi, disusul Buton, Melayu, Tionghoa, dan Arab. Uniknya, orang Banda tidak lagi mengidentifikasi diri berdasarkan satu etnis tunggal.
Bahasa yang digunakan pun merupakan perpaduan Melayu dengan berbagai kosakata lain, melahirkan dialek khas Banda. Toleransi antaragama dan gotong royong menjadi ciri utama masyarakat setempat.
Bung Hatta bahkan menyebut Banda sebagai miniatur Indonesia. Di tempat inilah ia melihat prototipe masyarakat multietnis yang hidup damai dalam keberagaman.
Tradisi dan Konservasi Pala
Bagi masyarakat Banda, pala bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi sumber kehidupan dan spiritualitas. Salah satu tradisi unik adalah “kasih makan hutan”, bentuk penghormatan terhadap alam sebagai pemberi rezeki.
Warga rutin membersihkan kebun pala, melakukan reboisasi, serta menanam pohon kenari sebagai pelindung alami. Setiap 10 pohon pala biasanya ditanam satu pohon kenari. Kenari berfungsi sebagai peneduh dan penyerap air, menjaga keseimbangan ekosistem.
Hutan di salah satu pulau di Banda bahkan mencapai 36.000 hektare, dengan ribuan pohon pala yang masih produktif.
Di sisi lain, perkebunan pala warisan kolonial masih bertahan. Salah satunya milik keluarga keturunan Belanda generasi ke-13 yang masih mengelola lahan, meski luasnya kini menyusut akibat perubahan zaman dan faktor alam, termasuk pemanasan global.
Selain biji pala, daging buahnya diolah menjadi manisan, selai, sirup, hingga permen. Bahkan daun pala dapat diproses menjadi minyak atsiri meski hasilnya terbatas.
Banda Nera dan pala Banda adalah cermin bahwa kekayaan alam bisa menjadi berkah sekaligus petaka. Dari rempah kecil inilah sejarah kolonialisme, genosida, hingga lahirnya masyarakat multikultur Indonesia bermula.
Di tengah keindahan terumbu karang dan perbukitan hijau, Banda bukan hanya destinasi wisata. Ia adalah pelajaran tentang sejarah, toleransi, dan pentingnya menjaga alam untuk generasi mendatang.
Editor : Axsha Zazhika