Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Goa Tabuhan Pacitan, Gua Unik 9 Km dari Gua Gong yang Stalaktitnya Bisa Mengeluarkan Nada dan Punya Jejak Sejarah Diponegoro

Axsha Zazhika • Minggu, 15 Februari 2026 | 18:42 WIB
Goa Tabuhan Pacitan, Gua Unik 9 Km dari Gua Gong yang Stalaktitnya Bisa Mengeluarkan Nada dan Punya Jejak Sejarah Diponegoro
Goa Tabuhan Pacitan, Gua Unik 9 Km dari Gua Gong yang Stalaktitnya Bisa Mengeluarkan Nada dan Punya Jejak Sejarah Diponegoro

TRENGGALEK NJENGGELEK - Goa Tabuhan Pacitan menjadi salah satu destinasi wisata alam yang unik dan sarat sejarah di Kabupaten Pacitan. Berjarak sekitar 9 kilometer dari Gua Gong atau kurang lebih 18 menit perjalanan mobil, Goa Tabuhan Pacitan menawarkan pengalaman berbeda lewat stalaktit yang bisa mengeluarkan bunyi bernada saat dipukul.

Goa Tabuhan Pacitan terletak di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Pacitan. Lokasinya tidak jauh dari jalur wisata utama, sehingga kerap menjadi destinasi lanjutan bagi wisatawan yang sebelumnya mengunjungi Gua Gong. Area parkir berada persis di dekat loket tiket masuk, meski lahannya tidak terlalu luas.

Destinasi wisata Goa Tabuhan Pacitan buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuk cukup terjangkau, yakni Rp10.000 per orang, dengan tarif parkir mobil Rp5.000. Di area pintu masuk, tersedia papan informasi mengenai destinasi wisata lain di Pacitan, serta penjelasan singkat tentang speleologi, arkeologi, dan sejarah gua ini.

Baca Juga: 8 Wisata Trenggalek Terpopuler yang Wajib Dikunjungi, dari Pantai Pelang hingga Gua Lowo Terpanjang di Asia Tenggara

Ditemukan Sejak 1852 oleh Kyai Santiko

Secara historis, Goa Tabuhan Pacitan ditemukan pada tahun 1852 oleh Kyai Santiko. Saat pertama kali ditemukan, kondisi gua masih tertutup semak belukar dan belum tertata seperti sekarang. Seiring waktu, kawasan ini dikembangkan menjadi objek wisata berbasis alam dan sejarah.

Nama “Tabuhan” sendiri diyakini berasal dari kata “tabuh” atau memukul. Hal ini berkaitan langsung dengan keunikan stalaktit di dalam gua yang bisa menghasilkan bunyi layaknya alat musik ketika diketuk dengan teknik tertentu.

Stalaktit Bernada, Daya Tarik Utama Goa Tabuhan Pacitan

Salah satu ciri khas Goa Tabuhan Pacitan adalah stalaktit di ruangan pertama yang dapat mengeluarkan nada berbeda-beda saat dipukul. Karakter stalaktit di gua ini berbeda dibandingkan Gua Gong. Jika di Gua Gong terkenal dengan keindahan ornamen batu dan pencahayaan warna-warni, di Goa Tabuhan keunikannya justru terletak pada unsur akustik alami.

Namun, pengunjung tidak diperbolehkan sembarangan menyentuh atau memukul stalaktit. Terdapat papan larangan demi menjaga kelestarian batuan kapur tersebut. Biasanya, juru kunci yang mendampingi wisatawan akan memperagakan cara memukul stalaktit hingga menghasilkan nada yang berbeda.

Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri, bahkan konon dalam waktu tertentu pernah digelar pertunjukan musik dengan memanfaatkan bunyi alami dari stalaktit tersebut.

Dua Ruangan dengan Karakter Berbeda

Goa Tabuhan Pacitan terbagi menjadi dua ruangan utama. Ruangan pertama memiliki area yang lebih luas dan menjadi lokasi stalaktit bernada. Jalur eksplorasi di dalam gua sudah disemen, sehingga relatif aman dilalui. Meski demikian, pengunjung tetap harus berhati-hati karena lantai bisa terasa licin.

Berbeda dengan ruangan pertama, ruangan kedua memiliki lorong lebih sempit dan cenderung lembap. Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan sekitar 40 meter dan sedikit menurun. Kondisi pencahayaan di dalam gua juga tidak semeriah Gua Gong karena tidak banyak lampu warna-warni atau fasilitas penyejuk ruangan.

Suasana lembap di ruangan kedua terkadang menimbulkan efek seperti kabut tipis yang menyelimuti area gua, menambah kesan mistis sekaligus alami.

Jejak Sejarah Sentot Alibasyah

Ruangan kedua Goa Tabuhan Pacitan diyakini memiliki nilai sejarah. Berdasarkan cerita yang berkembang, tempat tersebut pernah digunakan sebagai lokasi pertapaan Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, panglima perang Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa tahun 1825.

Karena itulah, sebagian masyarakat juga menyebutnya sebagai gua pertapaan. Untuk mencapai titik yang dipercaya sebagai lokasi pertapaan, pengunjung harus sedikit membungkuk melewati stalaktit dan stalagmit yang menggantung serta menjulang di lorong sempit.

Kisah sejarah ini menjadi nilai tambah bagi Goa Tabuhan Pacitan, terutama bagi wisatawan yang menyukai wisata sejarah dan budaya selain keindahan alam.

Wisata Edukatif dan Ramah Pengunjung

Dibandingkan beberapa gua lain di Pacitan, medan Goa Tabuhan Pacitan tidak terlalu berat sehingga relatif ramah bagi pengunjung umum tanpa persiapan fisik khusus. Di dalam gua juga terdapat sumber air yang masih menetes dan dimanfaatkan pengunjung untuk membasuh tangan atau kaki setelah eksplorasi.

Sebelum meninggalkan kawasan wisata, banyak pengunjung memanfaatkan area mulut gua untuk berfoto. Di dekat pintu keluar juga tersedia ayunan yang menjadi spot favorit untuk mengabadikan momen.

Dengan kombinasi keunikan stalaktit bernada, jejak sejarah Sentot Alibasyah, serta harga tiket yang terjangkau, Goa Tabuhan Pacitan layak menjadi destinasi alternatif saat berlibur ke Pacitan. Bagi pencinta wisata alam dan sejarah, tempat ini menawarkan pengalaman yang tidak sekadar melihat keindahan gua, tetapi juga menyelami cerita di baliknya.

Editor : Axsha Zazhika
#sejarah Diponegoro #Gua di Pacitan #Goa Tabuhan Pacitan #wisata pacitan #stalaktit bernada