BANDUNG BARAT - Kampung Gajah Wonderland pernah menjadi ikon wisata keluarga paling bergengsi di wilayah utara Bandung. Namun roda kehidupan berputar cepat. Kejayaan objek wisata yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 60 hektare itu kini tinggal kenangan. Kampung Gajah saat ini justru lebih dikenal sebagai kawasan terbengkalai dengan citra angker yang melekat kuat di benak masyarakat.
Berlokasi di wilayah Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Kampung Gajah Wonderland dulunya merupakan primadona wisata sejak mulai beroperasi pada 2009. Bahkan, namanya sempat dikenal hingga mancanegara dan identik dengan destinasi rekreasi kelas menengah ke atas.
Pada awal pengembangannya, kawasan ini dirancang sebagai kompleks perumahan bernama Century Hill. Namun konsep tersebut berubah menjadi objek wisata terpadu yang menghadirkan berbagai wahana permainan air dan hiburan keluarga berskala besar.
Masa Keemasan Kampung Gajah Wonderland
Dalam beberapa tahun pertama, Kampung Gajah Wonderland benar-benar berada di puncak kejayaan. Ribuan pengunjung memadati area wisata setiap akhir pekan dan musim liburan. Paradigma wisata Bandung pun sempat bergeser, dengan Kampung Gajah menjadi simbol kemewahan dan modernitas destinasi rekreasi.
Fasilitas yang lengkap, wahana air unggulan, serta konsep wisata terpadu menjadikan tempat ini unggul dibanding objek wisata lain di kawasan Bandung dan sekitarnya. Kolam ombak menjadi salah satu wahana paling populer yang selalu dipadati pengunjung.Namun seiring waktu, pesona tersebut perlahan memudar.
Tak Mampu Bertahan dari Gempuran Zaman
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab runtuhnya Kampung Gajah Wonderland. Mulai dari ketatnya persaingan dengan objek wisata baru, harga tiket yang dinilai kurang kompetitif, hingga persoalan manajemen.
Dalam era berkembangnya wisata tematik dan destinasi berbasis pengalaman baru, Kampung Gajah dinilai gagal beradaptasi. Wahana yang dahulu menjadi daya tarik utama tak lagi mampu bersaing dengan konsep wisata kekinian.
Hingga akhirnya, objek wisata ini resmi berhenti beroperasi dan dibiarkan terbengkalai selama sekitar enam tahun terakhir.
Berubah Jadi Kota Mati yang Menyeramkan
Kini, Kampung Gajah Wonderland lebih sering dijuluki sebagai “kota mati”. Area yang dulunya ramai dipenuhi tawa pengunjung berubah menjadi kawasan sepi, gelap, dan tak terawat. Bangunan-bangunan tampak kusam, kotor, dan rusak dimakan usia.
Patung-patung yang dahulu menjadi ikon dekorasi wisata kini banyak yang rapuh dan berjatuhan. Kolam ombak yang pernah menjadi primadona pun dipenuhi lumut dan air kotor, menciptakan suasana buram dan mencekam.
Kondisi ini memperkuat kesan angker yang menyelimuti kawasan seluas 60 hektare tersebut.
Dari Wisata Keluarga ke Destinasi Mistis
Menariknya, meski sudah lama tutup, ketenaran Kampung Gajah Wonderland tak sepenuhnya pudar. Namun, pembahasan di kalangan warganet kini bergeser. Bukan lagi soal kemegahan wahana, melainkan cerita-cerita mistis dan aura menyeramkan yang konon sering dirasakan.
Tak jarang pemburu sensasi horor dan konten kreator datang untuk merasakan langsung suasana Kampung Gajah. Beberapa mengaku mendengar suara-suara dari lorong bangunan kosong, hingga merasakan gangguan yang sulit dijelaskan secara logika.
Cerita-cerita tersebut membuat Kampung Gajah kerap disandingkan dengan tempat angker lainnya di wilayah Bandung.
Daya Tarik Baru yang Penuh Risiko
Rasa penasaran masyarakat terhadap proses terbengkalainya Kampung Gajah justru melahirkan “daya tarik” baru. Bukan lagi wahana permainan, melainkan sensasi menjelajah bangunan kosong yang sarat misteri.
Namun, kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran. Kawasan terbengkalai tanpa pengawasan dinilai rawan, baik dari sisi keselamatan maupun keamanan. Masyarakat sekitar pun berharap ada kejelasan terkait pengelolaan lahan eks wisata tersebut ke depannya.
Kampung Gajah Wonderland kini menjadi pengingat bahwa kejayaan wisata bisa runtuh jika tak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dari destinasi kelas atas, ia bertransformasi menjadi simbol keterbengkalain yang menyisakan cerita dan tanda tanya besar.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh