TRENGGALEK NJENGGELEK - Garang asem bambu di Kandang Ingkung Resto dan Kopi, Sleman, Yogyakarta, viral di media sosial karena menawarkan konsep kuliner tradisional unik menggunakan bambu sebagai media memasak. Restoran ini juga menarik perhatian wisatawan lewat konsep “minum sepuasnya bayar seikhlasnya” yang jarang ditemui di tempat makan lain.
Kandang Ingkung Resto dan Kopi berada di Padukuhan Jitengan, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya sekitar 10 kilometer dari kawasan Malioboro dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit perjalanan.
Restoran bernuansa pedesaan Jawa ini dikenal menyajikan menu ayam ingkung autentik yang identik dengan tradisi kenduri dan syukuran masyarakat Jawa. Namun, menu paling banyak diburu pengunjung justru garang asem bambu berbahan ayam kampung asli.
“Iya, baru cuma ada di sini untuk garang asem pakai bambu kayak gini,” ujar pihak Kandang Ingkung dalam tayangan kanal YouTube Jalan Amrita.
Garang Asem Bambu Jadi Menu Bestseller di Kandang Ingkung Jogja
Keunikan utama Kandang Ingkung terletak pada proses memasak garang asem yang menggunakan bambu, berbeda dari kebanyakan restoran yang memakai daun pisang. Menu ini tersedia dalam dua varian, yakni garang asem ayam kampung dan garang asem iga sapi.
Satu porsi garang asem ayam berisi setengah ekor ayam kampung lengkap dengan tomat merah, tomat hijau, belimbing wuluh, dan cabai rawit. Proses memasaknya membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 45 menit karena sebelumnya bahan sudah dimasak setengah matang.
Rasa yang dihasilkan memadukan sensasi gurih, pedas, dan asam khas garang asem dengan aroma smoky dari bambu yang dibakar. Tak heran jika menu tersebut menjadi favorit pengunjung.
“Bestsellernya yang ayam, paling banyak disukai,” kata salah satu juru masak Kandang Ingkung.
Selain garang asem, restoran ini juga terkenal dengan ayam ingkung original dan ayam ingkung goreng. Menu ayam ingkung dimasak menggunakan teknik slow cooking selama 4 hingga 6 jam sehingga bumbu meresap hingga ke dalam daging.
Dalam sehari, dapur Kandang Ingkung bahkan bisa memasak sekitar 250 hingga 350 ekor ayam kampung untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Baca Juga: Majapahit and Sriwijaya: The Rise and Fall of Indonesia’s Great Nusantara Kingdoms
Konsep Tradisional dan Open Kitchen Jadi Daya Tarik Wisatawan
Kandang Ingkung pertama kali berdiri di Sleman pada 2017 dan kini telah memiliki cabang di beberapa kota seperti Bekasi, Cibubur, Simatupang, Madiun, hingga Semarang.
Marketing Komunikasi Kandang Ingkung, Abimanyu, mengatakan konsep utama restoran ini adalah resto keluarga dengan nuansa tradisional pedesaan Jawa.
“Keunggulan kita dibanding resto lain jelas menggunakan ayam kampung asli dan konsep open kitchen, jadi customer bisa langsung melihat proses memasaknya,” ujarnya.
Area restoran didominasi ornamen kayu dan pepohonan rindang yang membuat suasana terasa asri dan sejuk. Tempat parkir luas serta fasilitas keluarga seperti musala, toilet, ayunan, dan jembatan tali juga menjadi nilai tambah bagi wisatawan.
Sistem open kitchen memungkinkan pengunjung melihat langsung proses memasak ayam ingkung maupun gorengan yang disajikan. Berbagai camilan tradisional seperti tempe mendoan, bakwan jagung, tahu goreng, hingga pisang goreng kepok juga tersedia.
Harga paket ayam ingkung original dibanderol Rp149 ribu lengkap dengan nasi gurih, oseng daun pepaya, oseng jantung pisang, peyek bayam, sambal, dan lalapan.
Baca Juga: Nusantara Kingdoms: How Ancient Indonesian Empires Once Ruled Southeast Asian Trade
Konsep “Bayar Seikhlasnya” Jadi Sorotan Pengunjung
Selain menu makanan tradisional, konsep minuman di Kandang Ingkung juga menjadi perhatian wisatawan. Pengunjung bisa menyeduh kopi atau minuman herbal sendiri dengan sistem “minum sepuasnya bayar seikhlasnya”.
Pilihan minumannya cukup beragam, mulai dari kopi arabika Gayo, robusta Lampung, kopi Kapal Api, hingga rebusan jahe, serai, dan kapulaga. Pengunjung bebas memilih jenis gula seperti gula pasir, gula batu, atau gula jawa.
Setelah menikmati minuman, pengunjung cukup memasukkan uang ke kotak pembayaran sesuai nominal yang diinginkan.
“Bayarnya benar-benar seikhlasnya,” kata Abimanyu.
Konsep unik tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana kuliner tradisional khas Yogyakarta.
Dengan kombinasi menu autentik, suasana pedesaan, dan inovasi garang asem bambu, Kandang Ingkung kini menjadi salah satu destinasi kuliner favorit di Sleman yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Editor : Fadhilah Salsa Bella