Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pendakian Gunung Rinjani Makin Ketat, Sistem Zero Waste hingga Jalur Torean Berkabut Jadi Sorotan

Fadhilah Salsa Bella • Jumat, 3 Juli 2026 | 12:27 WIB
Pendakian Gunung Rinjani kini menerapkan sistem zero waste. Simak pengalaman menjelajah Plawangan, Segara Anak hingga jalur Torean yang penuh tantangan (Pinterest).
Pendakian Gunung Rinjani kini menerapkan sistem zero waste. Simak pengalaman menjelajah Plawangan, Segara Anak hingga jalur Torean yang penuh tantangan (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Pendakian Gunung Rinjani kembali menjadi perhatian para pecinta alam. Selain menawarkan panorama alam yang spektakuler, jalur pendakian di gunung tertinggi kedua di Indonesia itu kini menerapkan kebijakan baru berupa sistem zero waste. Seluruh logistik pendaki diwajibkan menggunakan wadah pakai ulang sebagai upaya mengurangi sampah plastik di kawasan taman nasional.

Kebijakan pendakian Gunung Rinjani tersebut mulai diterapkan sejak proses registrasi. Setiap barang bawaan pendaki akan diperiksa petugas untuk memastikan tidak membawa kemasan sekali pakai yang berpotensi menjadi sampah di gunung. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen menjaga kelestarian ekosistem Rinjani yang setiap tahun dikunjungi ribuan wisatawan.

Dalam sebuah perjalanan menuju kawasan Plawangan Sembalun, seorang pendaki membagikan pengalaman lengkapnya saat menjelajahi Gunung Rinjani di tengah cuaca yang tidak menentu. Meski seharusnya sudah memasuki musim kemarau, hujan dan kabut masih kerap menyelimuti jalur pendakian.

Baca Juga: 11 Wisata Wonosobo Terbaru 2026 yang Lagi Viral, Ada Skyline hingga Telaga Menjer yang Bikin Betah

Sistem Zero Waste Jadi Aturan Baru Pendaki

Perjalanan dimulai dari jalur Sembalun. Setelah melalui Pos 1 hingga Pos 4, pendaki harus menghadapi tanjakan panjang yang dikenal sebagai "tanjakan penyesalan". Jalur tersebut memiliki elevasi lebih dari 400 meter menuju Plawangan.

Di sepanjang perjalanan, cuaca berubah sangat cepat. Hujan turun beberapa kali disertai kabut tebal yang membatasi jarak pandang. Meski demikian, suasana pendakian tetap ramai karena bertepatan dengan masa libur panjang.

Sesampainya di Plawangan sekitar tiga jam 39 menit perjalanan, panorama puncak Gunung Rinjani mulai terlihat. Pendaki kemudian mendirikan tenda untuk bermalam sambil berharap cuaca membaik agar dapat menikmati matahari terbenam.

Cuaca Tak Menentu Akibat Fenomena Kemarau Basah

Harapan menikmati sunset sempat pupus akibat kabut tebal. Namun menjelang sore, langit perlahan terbuka sehingga hamparan lautan awan dan siluet puncak Gunung Rinjani akhirnya dapat terlihat.

Pada dini hari hujan kembali turun. Kondisi tersebut membuat pendaki memutuskan tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak karena mempertimbangkan faktor keselamatan.

Fenomena hujan pada musim kemarau ini disebut sebagai kemarau basah. Berdasarkan penjelasan BMKG, kondisi tersebut masih berpotensi terjadi hingga Agustus 2025 sehingga memengaruhi aktivitas pendakian di sejumlah gunung, termasuk Gunung Rinjani.

Meski demikian, saat pagi hari cuaca berangsur cerah sehingga kaldera Rinjani dan Danau Segara Anak dapat terlihat dengan jelas dari Plawangan.

Baca Juga: OTT KPK di Sumatera Utara, Bupati Langkat Syah Afandin Ditangkap, Ruang Kerja Disegel, Diduga Terkait Proyek

Jalur Menuju Segara Anak Penuh Tantangan

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Danau Segara Anak. Jalur turun didominasi bebatuan curam yang licin sehingga membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Pendaki mengingatkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir sempat terjadi sejumlah insiden pendaki terjatuh di jalur tersebut sehingga proses evakuasi harus dilakukan oleh tim penyelamat.

Sesampainya di Danau Segara Anak, hujan deras kembali mengguyur kawasan perkemahan. Pendaki harus menyeberangi sungai dengan melepas sepatu karena arus cukup deras dan dasar sungai dipenuhi lumut licin.

Selain hujan, keberadaan monyet liar juga menjadi perhatian. Pendaki diminta tidak meninggalkan makanan atau sampah di luar tenda karena satwa tersebut sering mencoba mengambil barang bawaan.

Jalur Torean Sajikan Panorama Spektakuler

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan melalui jalur Torean yang dikenal sebagai salah satu jalur terindah di Gunung Rinjani. Sepanjang perjalanan, pendaki disuguhi pemandangan tebing, air terjun, lembah hijau hingga aliran sungai yang memanjakan mata.

Namun keindahan tersebut juga dibarengi tantangan berupa jalur sempit di tepi jurang. Beberapa titik bahkan sedang diperbaiki oleh petugas agar lebih aman dilalui para pendaki.

Pendaki juga mengingatkan pentingnya membawa peta digital atau aplikasi navigasi karena terdapat beberapa percabangan jalur yang berpotensi membuat pendaki tersesat apabila tidak memahami rute.

Meski tidak berhasil mencapai puncak akibat cuaca yang kurang bersahabat, perjalanan menuju Plawangan, Danau Segara Anak, hingga turun melalui jalur Torean tetap menghadirkan pengalaman yang mengesankan. Panorama pegunungan, pelangi yang muncul di penghujung perjalanan, serta penerapan sistem zero waste menjadi bukti bahwa Gunung Rinjani tetap menjadi salah satu destinasi pendakian terbaik di Indonesia yang mengutamakan kelestarian alam sekaligus keselamatan para pendaki.

Baca Juga: Pesawat Dibakar KKB di Yahukimo, Pilot Diduga Tewas Ditembak, Kelompok Separatis Klaim Bertanggung Jawab Lewat Video

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#Pendakian Gunung Rinjani #Jalur Torean #Danau Segara Anak #Zero Waste Rinjani #gunung rinjani