Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pendakian Gunung Sindoro Bersama Pendaki Singapura, Kisah Pak Zulka Cari Jati Diri Jadi Sorotan

Fadhilah Salsa Bella • Jumat, 3 Juli 2026 | 12:51 WIB
Pendakian Gunung Sindoro bersama pendaki asal Singapura menghadirkan kisah mencari jati diri, panorama puncak, hingga sejarah letusan gunung api aktif (Pinterest).
Pendakian Gunung Sindoro bersama pendaki asal Singapura menghadirkan kisah mencari jati diri, panorama puncak, hingga sejarah letusan gunung api aktif (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Pendakian Gunung Sindoro tak hanya menawarkan panorama alam yang memukau, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual bagi para pendaki. Hal itu tergambar dalam perjalanan menuju puncak Gunung Sindoro bersama seorang pendaki asal Singapura, Pak Zulka, yang mengaku selalu menemukan ketenangan dan makna hidup setiap kali berada di gunung.

Perjalanan Pendakian Gunung Sindoro dimulai dari Basecamp Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Setelah menempuh perjalanan darat sekitar enam jam dari Surabaya, rombongan mempersiapkan logistik sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju titik awal pendakian.

Dalam Pendakian Gunung Sindoro kali ini, rombongan terdiri dari sejumlah pendaki, termasuk Pak Zulka yang dikenal sebagai pegiat pendakian gunung asal Singapura. Ia mengungkapkan bahwa gunung bukan sekadar destinasi wisata, melainkan tempat untuk mencari jati diri sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca Juga: Pendakian Gunung Rinjani Makin Ketat, Sistem Zero Waste hingga Jalur Torean Berkabut Jadi Sorotan

Jalur Kledung Didominasi Hutan yang Sejuk

Pendakian dimulai dari pos ojek menuju Pos 2 melalui jalur yang relatif lebar dengan tanjakan yang masih bersahabat. Sepanjang perjalanan, pendaki disuguhi pemandangan hutan, semak belukar, dan udara pegunungan yang sejuk.

Menurut rombongan, jalur menuju Pos 2 masih cukup nyaman dilalui meski tetap menguras tenaga. Setelah beberapa kali beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 3 dengan karakter lintasan yang mulai menanjak dan membutuhkan tenaga lebih besar.

Di sela perjalanan, dijelaskan pula bahwa kawasan Gunung Sindoro pernah menjadi objek penelitian ilmuwan asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn, pada abad ke-19. Penelitiannya mengenai flora, fauna, dan ekosistem pegunungan hingga kini masih menjadi salah satu referensi penting dalam dunia ilmu pengetahuan.

Pak Zulka: Gunung Adalah Tempat Mencari Jati Diri

Salah satu momen menarik dalam pendakian terjadi saat Pak Zulka menceritakan alasan dirinya terus mendaki gunung. Menurutnya, setiap orang memiliki motivasi berbeda, namun baginya gunung merupakan tempat terbaik untuk menemukan ketenangan.

Ia mengaku selalu merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta ketika berada di alam bebas. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, suasana sunyi pegunungan membuatnya mampu merenungi kehidupan dengan lebih tenang.

Baginya, mendaki gunung bukan hanya menguji fisik, tetapi juga menguras pikiran sekaligus memperkuat mental. Karena itulah, ia selalu merasa terpanggil untuk kembali melakukan pendakian.

Baca Juga: Pendakian Gunung Sindoro via Kledung Viral, Ternyata Turunnya Lebih Sulit daripada Naik

Sunrise Camp Jadi Tempat Menikmati Keindahan Gunung Sumbing

Setelah tiba di Pos 3 pada ketinggian sekitar 2.315 meter di atas permukaan laut, rombongan langsung menuju Sunrise Camp untuk mendirikan tenda.

Dari lokasi tersebut, panorama Gunung Sumbing terlihat berdiri megah meski sesekali tertutup kabut. Sore hari dimanfaatkan untuk bersantai, menikmati kopi hangat, buah-buahan, serta pisang goreng sambil berbincang mengenai pengalaman pendakian.

Dalam kesempatan itu juga dijelaskan asal-usul nama Gunung Sindoro. Berdasarkan sejumlah naskah kuno, nama Sindoro diduga berasal dari kata "Sundara" yang berarti indah atau cantik. Ada pula pendapat yang menyebut istilah tersebut berasal dari bahasa Sanskerta yang berkaitan dengan lembah dan aliran sungai.

Summit Ditempuh Empat Jam dengan Jalur Tanjakan

Pendakian menuju puncak dimulai sekitar pukul 00.30 WIB. Jalur summit didominasi tanjakan tanpa bonus dengan suhu udara yang sangat dingin, terutama saat memasuki kawasan hutan mati.

Setelah berjuang sekitar empat jam, rombongan akhirnya berhasil mencapai Puncak Gunung Sindoro di ketinggian 3.153 meter di atas permukaan laut. Cuaca cerah membuat panorama Gunung Sumbing, lautan awan, serta kawah Gunung Sindoro terlihat begitu jelas.

Di puncak, rombongan juga mengulas sejarah Gunung Sindoro sebagai gunung api aktif. Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, letusan besar pernah terjadi pada masa Mataram Kuno dan diduga mengubur kawasan Liangan dengan material vulkanik setebal enam hingga sembilan meter. Sementara dalam catatan kolonial, letusan besar Gunung Sindoro pada 1818 bahkan menyebabkan hujan abu hingga wilayah Pekalongan.

Usai menikmati panorama dari puncak, rombongan kembali turun menuju basecamp untuk melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sumbing. Pendakian tersebut menjadi penutup perjalanan yang tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga menyisakan pesan tentang ketabahan, rasa syukur, dan makna perjalanan hidup yang ditemukan di setiap langkah menuju puncak.

Baca Juga: Bupati Langkat Syah Afandin Ditangkap KPK dalam OTT Sumatera Utara, Ini Profil, Rekam Jejak Politik, hingga Perjalanan Kariernya

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#Pendakian Gunung Sindoro #Basecamp Kledung #Pak Zulka #gunung sumbing #gunung sindoro