TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Bukit Tunggangan Paralayang Trenggalek menjadi salah satu destinasi wisata yang sedang naik daun di Kabupaten Trenggalek. Berada di Desa Gendalrejo, Kecamatan Durenan, objek wisata ini menjadi alternatif favorit selain pantai dengan jumlah kunjungan yang mencapai lebih dari 3.000 wisatawan setiap bulan.
Lonjakan kunjungan tersebut terlihat terutama pada akhir pekan dan hari libur nasional. Berdasarkan data pengelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonowasri, area parkir di puncak bahkan dipenuhi ratusan kendaraan setiap hari Minggu.
Keindahan panorama dari ketinggian, akses menuju lokasi yang semakin baik, serta biaya kunjungan yang terjangkau menjadi daya tarik utama Bukit Tunggangan Paralayang Trenggalek bagi wisatawan lokal.
Kronologi Bukit Tunggangan Menjadi Destinasi Favorit
Bukit Tunggangan Paralayang awalnya dikenal sebagai lokasi olahraga paralayang. Salah seorang pengelola, Muyajid, menjelaskan kawasan tersebut mulai ramai setelah dilakukan survei oleh anggota Persatuan Olahraga Dirgantara yang menilai daerah tersebut sangat cocok dijadikan lokasi paralayang.
Sejak saat itu, jumlah pengunjung terus meningkat dari tahun ke tahun hingga menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup populer di Trenggalek.
Menurut Muyajid, kawasan tersebut juga pernah menjadi lokasi penyelenggaraan ajang paralayang berskala internasional pada tahun 2021.
Baca Juga: 10 Tempat Wisata Jogja Terfavorit 2026, Malioboro hingga On The Rock Lagi Hits Dikunjungi
Dalam kegiatan tersebut hadir peserta dari berbagai negara, di antaranya Malaysia, Thailand, hingga Kanada.
Ribuan Wisatawan Datang Setiap Bulan
Data pengelola menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mengalami peningkatan signifikan.
Pada hari Minggu, sebanyak 250 hingga 300 sepeda motor tercatat memasuki kawasan wisata.
Jika dihitung berdasarkan rata-rata dua orang dalam satu kendaraan, jumlah wisatawan bisa mencapai sekitar 600 orang dalam sehari.
Baca Juga: 17 Tempat Wisata Bandung Terpopuler 2026, Lengkap Harga Tiket dan Destinasi Favorit Wisatawan
Secara keseluruhan, jumlah pengunjung setiap bulan tercatat melebihi 3.000 orang, terutama karena tingginya kunjungan saat akhir pekan dan tanggal merah.
Kawasan wisata tersebut dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonowasri.
Tiket Murah dan Akses Menuju Puncak Semakin Mudah
Salah satu daya tarik Bukit Tunggangan adalah biaya kunjungan yang relatif murah.
Pengunjung hanya dikenakan tarif parkir sebesar Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil.
Bagi wisatawan yang tidak ingin mengendarai kendaraan hingga puncak, tersedia layanan ojek.
Tarif yang dikenakan sebesar Rp20.000 untuk perjalanan naik menuju puncak dan Rp10.000 untuk perjalanan turun.
Muyajid mengatakan akses menuju puncak yang berada di ketinggian sekitar 250 meter di atas permukaan laut kini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Jika dahulu jalan menuju lokasi hanya berupa rabat jalan, kini seluruh jalur telah dicor beton sehingga lebih nyaman dilalui kendaraan.
Baca Juga: 17 Tempat Wisata Bandung Terpopuler 2026, Lengkap Harga Tiket dan Destinasi Favorit Wisatawan
Panorama Sunrise Menjadi Daya Tarik Wisatawan
Selain dikenal sebagai lokasi paralayang, Bukit Tunggangan menawarkan panorama alam yang dapat dinikmati pada pagi maupun malam hari.
Banyak wisatawan sengaja datang pada pagi hari untuk menyaksikan siluet matahari terbit serta menikmati udara yang masih segar.
Salah seorang pengunjung, Rista Fidya, mengaku memilih datang pada Minggu pagi karena ingin menikmati pemandangan matahari terbit dari kawasan tersebut.
Ia menyebut suasana alam di lokasi memberikan pengalaman berbeda dibandingkan tempat wisata lain.
Rista mengaku kunjungan kali ini merupakan yang kedua.
Menurutnya, kondisi akses menuju lokasi kini jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali datang ketika masih duduk di bangku SMP.
Saat ini, jalan menuju kawasan wisata dinilai sudah lebih layak sehingga perjalanan menuju puncak menjadi lebih nyaman.
Camping Mulai Diminati, Pengelola Hadapi Kendala Air Bersih
Bukit Tunggangan juga mulai dimanfaatkan sebagai lokasi berkemah, terutama pada malam Minggu.
Pengelola mengizinkan wisatawan melakukan camping untuk menikmati suasana malam sekaligus panorama matahari terbit keesokan harinya.
Meski demikian, pengelola masih menghadapi sejumlah kendala dalam pengembangan kawasan wisata.
Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan pasokan air bersih.
Menurut Muyajid, seluruh kebutuhan air masih harus diangkut dari bawah menggunakan galon.
Baca Juga: 8 Wisata Surabaya Terbaru yang Wajib Dikunjungi, Ada Spot Gratis hingga Negeri Salju di Tengah Kota
Dalam kondisi tidak musim hujan, pengelola bahkan harus membawa sekitar 10 hingga 15 galon air untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
Sementara ketika musim hujan, kebutuhan air dapat sedikit terbantu dengan memanfaatkan tandon penampungan.
Berharap Menjadi Ikon Wisata Trenggalek
Pengelola berharap Bukit Tunggangan Paralayang dapat terus berkembang dan menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Trenggalek.
Baca Juga: Wisata Hutan Mati Suri, Aktivasi Kewenangan Kelompok Pengelola.
Selain menarik lebih banyak wisatawan, kawasan tersebut juga diharapkan mampu kembali menjadi lokasi penyelenggaraan event paralayang bertaraf internasional.
Dengan jumlah kunjungan yang terus meningkat, akses yang semakin baik, serta panorama alam yang menjadi daya tarik utama, Bukit Tunggangan kini semakin dikenal sebagai destinasi wisata alternatif selain pantai di Kabupaten Trenggalek.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Tribunnews