TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Gunung Argopuro 2026 kembali menjadi magnet bagi para pendaki yang ingin merasakan sensasi menjelajahi salah satu jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Dengan puncak setinggi 3.088 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Argopuro menawarkan perpaduan hutan lebat, sabana luas, satwa liar, hingga kisah sejarah yang membuatnya berbeda dari gunung lain di Jawa Timur.
Bagi para pecinta alam, Gunung Argopuro 2026 tidak hanya menawarkan pemandangan puncak. Jalur lintas dari Baderan, Situbondo menuju Bremi, Probolinggo menjadi daya tarik utama karena menghadirkan pengalaman trekking sepanjang sekitar 60 kilometer, atau sekitar 40 kilometer jika memanfaatkan jasa ojek hingga batas portal yang diperbolehkan.
Pendakian Gunung Argopuro 2026 juga semakin tertata dengan penerapan aturan konservasi yang ketat. Sebagai kawasan Suaka Margasatwa, setiap pendaki diwajibkan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan demi menjaga kelestarian habitat satwa endemik.
Baca Juga: Kemeriahan Bersih Desa Kerjo Kolaborasikan Tradisi Kuno dan Hiburan Milenial
Memulai Pendakian dari Jalur Baderan
Perjalanan dimulai dari Bandara Juanda Surabaya sebelum rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Basecamp Baderan di Kabupaten Situbondo. Dari titik inilah pendakian lintas menuju Bremi dimulai.
Karena menggunakan jalur lintas, kendaraan hanya mengantar hingga titik awal pendakian dan akan menjemput kembali di Probolinggo setelah perjalanan selesai. Jalur ini dikenal sebagai salah satu trek pendakian paling panjang di Pulau Jawa.
Pendaki juga memanfaatkan jasa ojek menuju portal, yang menjadi batas terakhir kendaraan roda dua diizinkan melintas. Setelah melewati portal, seluruh perjalanan wajib ditempuh dengan berjalan kaki sesuai aturan yang berlaku.
Suaka Margasatwa Terapkan Aturan Ketat
Berbeda dengan kawasan taman nasional, Gunung Argopuro berada dalam wilayah Suaka Margasatwa sehingga aturan konservasinya jauh lebih ketat.
Pihak pengelola mengingatkan seluruh pendaki agar tetap berada di jalur resmi, tidak mengambil air di lokasi yang dilarang, serta mematuhi seluruh standar operasional prosedur (SOP) selama berada di kawasan konservasi.
Penggunaan drone juga memerlukan izin khusus. Proses perizinannya lebih rumit karena mempertimbangkan potensi gangguan terhadap satwa liar yang hidup di kawasan tersebut.
Demi menjaga ketenangan habitat satwa endemik, rombongan pendaki dalam perjalanan ini memilih tidak menerbangkan drone meskipun telah mempertimbangkan pengurusan izin sebelumnya.
Baca Juga: Askab Persilakan Wasit Ajukan Banding Polemik TSL Disebut Karena Miskomunikasi
Trek Menantang Menuju Sabana
Dari portal dengan ketinggian sekitar 1.900 mdpl, rombongan mulai berjalan menyusuri jalur hutan yang didominasi tanjakan panjang.
Vegetasi yang rapat serta jalur bekas lintasan kendaraan membuat pendakian cukup menguras tenaga. Setelah sekitar satu jam perjalanan, rombongan tiba di Pos Mata Air sebagai lokasi singgah sebelum kembali melanjutkan pendakian.
Cuaca yang cenderung mendung membuat suhu terasa lembap. Kabut beberapa kali datang dan menghilang, menghadirkan suasana khas pegunungan Argopuro.
Setelah melewati kawasan hutan, pendaki akhirnya tiba di Sabana Kecil dan memanfaatkan waktu untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Sabana Besar.
Bertemu Satwa Liar di Sabana Argopuro
Sabana Besar menjadi salah satu lokasi yang paling dinanti selama perjalanan. Hamparan padang rumput luas dengan latar pegunungan menghadirkan panorama yang memanjakan mata sekaligus menjadi tempat beristirahat.
Di lokasi ini rombongan beruntung dapat melihat sepasang burung merak liar yang muncul di kejauhan. Meski tidak membawa lensa telefoto, momen langka tersebut tetap berhasil diabadikan sebagai bagian dari perjalanan.
Keberadaan satwa liar tersebut menjadi bukti bahwa kawasan Suaka Margasatwa Argopuro masih menjadi habitat alami berbagai spesies yang dilindungi.
Menjelang sore, kabut kembali turun disertai gerimis ringan. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kawasan Cikasur yang menjadi lokasi bermalam sebelum meneruskan pendakian menuju puncak pada hari berikutnya.
Pendakian Gunung Argopuro bukan sekadar perjalanan menuju puncak. Trek panjang, panorama sabana, hutan alami, hingga kesempatan melihat satwa liar menjadi pengalaman yang membuat gunung ini tetap menjadi salah satu destinasi pendakian paling ikonik di Jawa Timur.
Baca Juga: Dua Petani Tewas Tertimbun Tanah Saat Gali Sumur Evakuasi Dini Hari
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest