Pendakian Gunung Rinjani Berubah Dramatis, Pendaki Pilih Batal Summit karena Kemarau Basah dan Hujan

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 18:10 WIB
Pendakian Gunung Rinjani diwarnai hujan, kabut tebal, dan fenomena kemarau basah. Pendaki batal summit, menikmati Segara Anak hingga jalur Torean yang menawan (Pinterest).
Pendakian Gunung Rinjani diwarnai hujan, kabut tebal, dan fenomena kemarau basah. Pendaki batal summit, menikmati Segara Anak hingga jalur Torean yang menawan (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Pendakian Gunung Rinjani kembali menjadi sorotan setelah seorang pendaki membagikan pengalaman menjelajahi jalur Sembalun hingga Segara Anak di tengah cuaca yang tak menentu. Meski sudah memasuki musim kemarau, hujan deras dan kabut tebal terus menyelimuti kawasan gunung tertinggi kedua di Indonesia tersebut. Kondisi ini membuat sang pendaki memutuskan membatalkan pendakian ke puncak demi alasan keselamatan.

Dalam perjalanan tersebut, pendakian Gunung Rinjani juga memperlihatkan sejumlah aturan baru yang kini diterapkan pengelola kawasan. Salah satunya adalah kebijakan zero waste, yakni seluruh logistik pendaki wajib dikemas menggunakan wadah yang dapat dipakai ulang. Barang bawaan pun diperiksa saat proses registrasi untuk mengurangi sampah plastik yang ditinggalkan di gunung.

Sejak memulai perjalanan dari jalur Sembalun, cuaca sudah menunjukkan tantangan tersendiri. Hujan turun hanya beberapa menit setelah pendakian dimulai. Meski begitu, perjalanan menuju Pos 2, Pos 3, hingga Pos 4 tetap berlangsung dengan pemandangan alam yang memukau meski sesekali tertutup kabut.

Zero Waste Jadi Aturan Baru di Gunung Rinjani

Sistem zero waste menjadi salah satu perubahan penting dalam pendakian Gunung Rinjani tahun ini. Pendaki diwajibkan membawa perlengkapan makan dan logistik menggunakan wadah yang dapat digunakan kembali.

Langkah tersebut diambil sebagai upaya mengurangi sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan di kawasan taman nasional. Pemeriksaan perlengkapan sebelum pendakian juga dilakukan untuk memastikan seluruh pendaki mematuhi aturan yang berlaku.

Selain menjaga kebersihan, kebijakan tersebut diharapkan mampu mempertahankan keindahan alam Gunung Rinjani yang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca Juga: Kemeriahan Bersih Desa Kerjo Kolaborasikan Tradisi Kuno dan Hiburan Milenial

Jalur Menuju Plawangan Dipenuhi Kabut dan Gerimis

Perjalanan menuju Plawangan tidak berlangsung mudah. Setelah melewati Pos 4, pendaki harus menghadapi tanjakan panjang yang dikenal sebagai "tanjakan penyesalan" dengan kenaikan elevasi lebih dari 400 meter.

Gerimis dan kabut tebal membuat jalur menjadi lebih licin. Namun perjuangan itu terbayar ketika tiba di Plawangan dalam waktu sekitar tiga jam 39 menit. Sesaat setelah hujan reda, langit mulai terbuka sehingga panorama matahari terbenam dan lautan awan terlihat sangat jelas.

Momen tersebut menjadi salah satu pemandangan terbaik selama perjalanan. Sunset yang sebelumnya tertutup kabut akhirnya muncul dan memperlihatkan siluet puncak Gunung Rinjani yang megah.

Batal Menuju Puncak karena Cuaca Tidak Bersahabat

Rencana menuju puncak akhirnya dibatalkan setelah hujan kembali turun pada dini hari. Pendaki memilih tetap berada di area perkemahan karena mempertimbangkan keselamatan.

Keputusan tersebut juga dipengaruhi fakta bahwa satu pekan sebelumnya ia sudah berhasil melakukan pendakian hingga puncak Rinjani. Dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, perjalanan hanya dilanjutkan menuju kawasan Segara Anak.

Fenomena cuaca yang terjadi juga menarik perhatian para porter dan pemandu lokal. Mereka mengaku heran karena hujan masih sering turun padahal seharusnya wilayah tersebut telah memasuki musim kemarau.

Baca Juga: Askab Persilakan Wasit Ajukan Banding Polemik TSL Disebut Karena Miskomunikasi

Fenomena Kemarau Basah Warnai Pendakian

Dalam perjalanan turun, dijelaskan bahwa Indonesia sedang mengalami fenomena kemarau basah. Kondisi tersebut menyebabkan hujan dengan intensitas cukup tinggi tetap terjadi meski secara kalender telah memasuki musim kemarau.

Akibatnya, jalur pendakian menjadi lebih licin dan berkabut hampir sepanjang hari. Pemandangan kaldera maupun puncak Rinjani beberapa kali tertutup awan sebelum akhirnya kembali terlihat ketika cuaca membaik.

Pendaki tetap menikmati panorama Danau Segara Anak yang tampak indah dari Plawangan sebelum melanjutkan perjalanan turun.

Jalur Segara Anak hingga Torean Penuh Tantangan

Turunan menuju Segara Anak didominasi bebatuan curam yang membutuhkan kewaspadaan ekstra. Bahkan disebutkan dalam sepekan terakhir sempat terjadi beberapa insiden pendaki terjatuh sehingga harus dievakuasi.

Sesampainya di kawasan danau, hujan deras kembali mengguyur sehingga proses mendirikan tenda sempat tertunda. Pendaki juga harus menyeberangi sungai yang licin serta berhati-hati terhadap keberadaan monyet liar yang sering mendekati area perkemahan untuk mencari makanan.

Meski demikian, suasana malam di Segara Anak menghadirkan panorama berbeda. Langit cerah dengan cahaya bulan purnama membuat Gunung Baru Jari terlihat begitu jelas.

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan melalui jalur Torean yang dikenal memiliki panorama spektakuler. Jalur ini menawarkan pemandangan tebing, sungai, air panas alami, air terjun, hingga lembah hijau yang memanjakan mata.

Namun keindahan tersebut dibarengi tingkat kesulitan yang tinggi. Beberapa titik bahkan sedang diperbaiki karena berada tepat di sisi jurang. Pendaki pun mengingatkan pentingnya membawa peta digital atau aplikasi navigasi agar tidak tersesat saat melintasi jalur Torean yang cukup panjang dan bercabang.

Baca Juga: Dua Petani Tewas Tertimbun Tanah Saat Gali Sumur Evakuasi Dini Hari

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Pendakian Gunung Rinjani Jalur Torean Segara Anak gunung rinjani kemarau basah