Pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho, Jalur Sakral, Hujan Deras, hingga Aturan Sewa Kain yang Kini Dihapus

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 18:15 WIB
Pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho menyuguhkan jalur sakral, hutan lebat, mata air alami, hingga hujan deras yang membuat medan semakin menantang (Pinterest).
Pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho menyuguhkan jalur sakral, hutan lebat, mata air alami, hingga hujan deras yang membuat medan semakin menantang (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Pendakian Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho menawarkan pengalaman berbeda dibanding jalur pendakian lainnya. Selain menyuguhkan jalur hutan yang panjang dan menantang, pendaki juga akan melewati sejumlah situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih dijaga kesakralannya oleh masyarakat setempat.

Dalam perjalanan menuju puncak Hargo Dumilah, pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho dimulai dari basecamp pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jalur ini memiliki total jarak naik-turun sekitar 22 kilometer dengan akumulasi kenaikan elevasi mencapai 1.930 meter.

Pendaki menargetkan bermalam di Pos 5 yang berada di ketinggian sekitar 2.800 mdpl sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak Hargo Dumilah setinggi 3.256 mdpl. Sebelum memulai perjalanan, pendaki diimbau memastikan kondisi fisik prima dengan mengonsumsi karbohidrat dan protein yang cukup.

Baca Juga: Tabel Nogo Dino Lengkap 2026: Intip Rumus Neptu, Arah Pantangan, dan Waktu Terbaik Berangkat!

Registrasi Offline dan Aturan Pendakian

Pendakian dimulai dari basecamp dengan jalur berupa tangga dan jalan berpaving. Registrasi masih dilakukan secara offline dengan biaya camping sebesar Rp20 ribu per orang.

Pengelola juga menerapkan sejumlah aturan, seperti larangan melakukan solo hiking serta jam operasional pos registrasi yang dibuka mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.

Sekitar 20 menit pertama, jalur masih berupa aspal dan paving block hingga tiba di kawasan Candi Ketek, yang dikenal sebagai candi tertinggi kedua di Indonesia.

Pendaki Wajib Menghormati Kawasan Sakral

Salah satu keunikan jalur Candi Cetho adalah adanya tradisi mengenakan kain sebagai bentuk penghormatan terhadap kawasan yang dipercaya sebagai peninggalan Kerajaan Brawijaya.

Kain tersebut dapat dikenakan sebagai ikat kepala, ikat pinggang maupun selendang selama melewati area sakral hingga Pancuran. Pendaki juga diimbau menjaga ketenangan dan tidak membuat kegaduhan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya masyarakat setempat.

Namun, dalam video dijelaskan bahwa praktik penyewaan kain tersebut telah resmi dihentikan mulai 6 Mei 2025 berdasarkan keputusan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disparpora) bersama Perhutani.

Di sekitar kawasan itu juga terdapat kolam pemandian dengan tujuh pancuran yang airnya langsung berasal dari sumber mata air alami.

Baca Juga: Kebakaran 2026 Telan Dua Korban Jiwa 38 Kasus, Mayoritas Dipicu Kelalaian

Medan Mulai Berat Setelah Pos 1

Perjalanan menuju Pos 1 membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan jarak sekitar 1,6 kilometer dari basecamp. Waktu tersebut sudah termasuk registrasi, antrean, dokumentasi, hingga proses penyewaan kain.

Memasuki jalur setelah Pos 1, karakter lintasan berubah drastis. Jalur tanah dengan akar pepohonan mendominasi medan sehingga pendaki harus lebih berhati-hati, terutama saat musim hujan.

Pendaki bahkan menyebut jalur tersebut berpotensi sangat licin karena bentuk lintasan menyerupai aliran air saat hujan turun.

Hutan Lebat Mendominasi Jalur Pendakian

Setelah dua jam perjalanan, rombongan tiba di Pos 2 pada elevasi sekitar 1.900 mdpl. Dari Pos 1 ke Pos 2, pendaki menempuh jarak sekitar satu kilometer dalam waktu satu jam 20 menit.

Sepanjang perjalanan hingga Pos 2, hampir seluruh jalur masih berada di dalam hutan lebat tanpa area terbuka yang memungkinkan pendaki menikmati panorama dari ketinggian.

Pendakian kemudian dilanjutkan menuju Pos 3 yang berada pada elevasi sekitar 2.250 mdpl. Jalur dari Pos 2 menuju Pos 3 memiliki panjang sekitar 1,8 kilometer dengan tanjakan yang lebih menguras tenaga dibanding etape sebelumnya.

Baca Juga: Askab Persilakan Wasit Ajukan Banding Polemik TSL Disebut Karena Miskomunikasi

Pos 3 Miliki Mata Air dan Warung Pendaki

Pos 3 menjadi salah satu titik favorit pendaki karena tersedia sumber mata air yang mengalir tanpa henti melalui pipa panjang.

Air tersebut dapat dimanfaatkan untuk mencuci wajah maupun dimasak terlebih dahulu sebagai kebutuhan logistik selama pendakian.

Di kawasan ini juga terdapat Warung Mak Yuni yang menyediakan tempat beristirahat sekaligus memenuhi kebutuhan makanan para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos 5.

Hujan Deras Jadi Tantangan Pendakian

Saat rombongan beristirahat dan makan siang di Pos 3, hujan deras tiba-tiba mengguyur kawasan Gunung Lawu.

Shelter yang tersedia pun terbatas sehingga sebagian pendaki memilih menunggu, sementara rombongan akhirnya memutuskan tetap melanjutkan perjalanan meski kondisi jalur mulai dipenuhi genangan air.

Pendaki menggambarkan derasnya hujan membuat jalur berubah menjadi becek dalam waktu singkat. Bahkan air menggenang cukup tinggi dan melewati kawasan Air Terjun Ciliwu yang semakin memperlihatkan derasnya aliran air.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pendakian Gunung Lawu, khususnya melalui jalur Candi Cetho, membutuhkan kesiapan fisik, perlengkapan yang memadai, serta kewaspadaan tinggi terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Baca Juga: Dua Petani Tewas Tertimbun Tanah Saat Gali Sumur Evakuasi Dini Hari

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Pendakian Gunung Lawu Candi Cetho Hargo Dumilah Jalur Pendakian Lawu Gunung Lawu