TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Pendakian Gunung Slamet melalui jalur Bambangan kembali menarik perhatian setelah seorang bocah berusia 8 tahun berhasil mencapai puncak bersama ayahnya. Momen tersebut menjadi salah satu kisah inspiratif dalam perjalanan menuju puncak tertinggi di Jawa Tengah yang dikenal memiliki jalur panjang, suhu dingin, dan cuaca yang sulit diprediksi.
Perjalanan pendakian Gunung Slamet dimulai pukul 07.40 WIB setelah seluruh peserta menyelesaikan registrasi dan berdoa bersama. Jalur Bambangan dipilih sebagai rute pendakian yang terkenal menjadi akses favorit menuju puncak setinggi 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Selain menjadi gunung tertinggi di Jawa Tengah, Gunung Slamet juga merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Gunung ini berada di wilayah lima kabupaten, yakni Banyumas, Purbalingga, Brebes, Tegal, dan Pemalang.
Jalur Bambangan Jadi Favorit Pendaki
Sebagian peserta memilih menggunakan jasa ojek menuju Pos 1 untuk menghemat tenaga dan waktu. Namun beberapa pendaki memutuskan berjalan kaki sejak gerbang Bambangan hingga Pos 1.
Medan awal masih relatif landai dengan melintasi perkebunan warga sebelum memasuki kawasan hutan pinus. Jalur menuju Pos 1 dapat ditempuh sekitar satu jam jika berjalan tanpa banyak berhenti.
Memasuki kawasan hutan, trek mulai menanjak dan menjadi pemanasan sebelum menghadapi jalur yang lebih menantang di bagian atas.
Baca Juga: Kebakaran 2026 Telan Dua Korban Jiwa 38 Kasus, Mayoritas Dipicu Kelalaian
Gunung Tertinggi di Jawa Tengah
Gunung Slamet memiliki ketinggian 3.428 mdpl dan dikenal sebagai salah satu gunung dengan suhu paling dingin di Pulau Jawa.
Selain itu, kawasan ini juga memiliki curah hujan tahunan yang sangat tinggi sehingga perubahan cuaca sering terjadi secara tiba-tiba.
Saat ini terdapat enam jalur resmi menuju puncak, yakni Bambangan, Baturraden, Kaliwadas, Dipajaya, Cemara Sakti, dan Guci.
Nama "Slamet" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti selamat. Menurut cerita turun-temurun, nama tersebut menjadi doa agar gunung tetap memberikan keselamatan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Bocah 8 Tahun Jadi Perhatian Pendaki
Salah satu peserta yang paling mencuri perhatian adalah Jemmy, bocah berusia delapan tahun yang mendaki bersama sang ayah.
Perjalanan menuju puncak tentu bukan perkara mudah bagi anak seusianya. Medan yang panjang serta tanjakan terus-menerus menjadi tantangan besar dibandingkan pendaki dewasa.
Meski begitu, dengan dukungan dan pendampingan ayahnya, Jemmy mampu terus melanjutkan perjalanan hingga mendekati puncak.
Pendaki lain pun memberikan apresiasi atas semangat dan mental yang ditunjukkan bocah tersebut selama pendakian.
Hujan Turun Lebih Cepat dari Prediksi
Perjalanan menuju Pos 3 sempat diwarnai hujan deras yang datang lebih awal dari prakiraan cuaca.
Seluruh rombongan memilih beristirahat sambil menunggu hujan mereda sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pos 4 Samaran.
Cuaca yang berubah cepat memang menjadi salah satu karakteristik Gunung Slamet sehingga pendaki harus selalu membawa perlengkapan hujan dan pakaian hangat.
Baca Juga: Askab Persilakan Wasit Ajukan Banding Polemik TSL Disebut Karena Miskomunikasi
Legenda dan Mitos Gunung Slamet
Gunung Slamet juga dikenal memiliki berbagai cerita rakyat yang masih dipercaya sebagian masyarakat sekitar.
Salah satunya berkaitan dengan Puncak Surono yang dipercaya diambil dari nama seorang pendaki bernama Surono. Menurut cerita yang berkembang, pendaki tersebut meninggal setelah terjatuh ke jurang sehingga dibangun sebuah tugu penghormatan di kawasan puncak.
Selain itu, terdapat pula kisah mengenai Pos 4 Samaran yang diyakini sebagian warga memiliki nuansa mistis sehingga pendaki tidak dianjurkan bermalam di lokasi tersebut. Meski demikian, kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun dan tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Medan Licin Menuju Pos 5
Setelah melewati Pos 4, jalur menuju Pos 5 menjadi semakin menantang karena banyak bagian yang licin, terutama setelah diguyur hujan.
Rombongan akhirnya tiba di Pos 5 sekitar pukul 13.00 WIB sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak pada hari berikutnya.
Di kawasan perkemahan tersebut mereka juga secara tidak sengaja bertemu dengan sesama kreator konten pendakian yang sedang melakukan perjalanan di Gunung Slamet.
Perjuangan Berbuah Manis di Atap Jawa Tengah
Perjalanan panjang akhirnya terbayar ketika rombongan berhasil mencapai Puncak Surono, titik tertinggi Gunung Slamet.
Pemandangan luas dari atap Jawa Tengah menjadi hadiah setelah berjam-jam melintasi hutan, jalur berbatu, hingga tanjakan terjal.
Bagi Jemmy, perjuangan menuju puncak menjadi pencapaian yang sangat berkesan. Di bagian akhir perjalanan, sang ayah bahkan menggendongnya agar tetap bisa menuntaskan pendakian hingga puncak.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa semangat, persiapan yang matang, dan dukungan keluarga mampu membawa pendaki melewati salah satu jalur pendakian paling menantang di Pulau Jawa.
Baca Juga: Dua Petani Tewas Tertimbun Tanah Saat Gali Sumur Evakuasi Dini Hari
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pendakian Gunung Slamet, Gunung Slamet, Jalur Bambangan, Puncak Surono, Pendakian Jawa Tengah