WONOSOBO - Dataran Tinggi Dieng menjadi tujuan perjalanan dalam sebuah road trip yang menyuguhkan pengalaman menikmati udara pegunungan, perkebunan teh, kuliner khas, hingga panorama matahari terbit dari Puncak Sikunir.
Perjalanan dimulai dari kawasan Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta, bersama sejumlah anggota tim. Rombongan menggunakan mobil menuju Dieng dengan waktu tempuh sekitar empat jam. Namun, perjalanan dibuat lebih panjang karena mereka berencana singgah dan berkemah sebelum melanjutkan perjalanan ke sejumlah destinasi di kawasan Dieng.
Sebelum berangkat lebih jauh, rombongan menyempatkan diri membeli sejumlah kebutuhan, termasuk umpan untuk memancing. Sarapan juga menjadi bagian dari perjalanan. Mereka memilih Soto Kadipiro di kawasan Kalasan, Sleman, Yogyakarta, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Magelang, Temanggung, Parakan, hingga Wonosobo.
Di Temanggung, rombongan berhenti di Pasar Kliwon untuk membeli sayuran dan bumbu masak sebagai bekal selama berada di Dieng. Mereka menyebut belanja di pasar tradisional tersebut cukup hemat karena mendapatkan berbagai kebutuhan dengan biaya sekitar Rp15.000.
Baca Juga: Dulu Jadi Destinasi, Kini Wisata Sawah Mulai Sepi
Perjalanan kemudian berlanjut menuju kawasan Banjaran. Rombongan berhenti sejenak di rest area untuk menikmati suasana kebun teh. Udara yang sejuk menjadi pelepas penat setelah sebelumnya merasakan suhu panas di Yogyakarta.
Tak hanya berhenti di Banjaran, perjalanan juga dilanjutkan ke Kebun Teh Tambi. Dibandingkan kebun teh sebelumnya, kawasan Tambi dinilai lebih luas dengan udara yang terasa lebih segar. Namun, saat itu kondisi cuaca kurang mendukung karena langit mendung, disertai rintik hujan dan kabut yang membatasi pemandangan.
Setibanya di kawasan Dieng, perubahan suhu langsung terasa. Rombongan kemudian mencoba kuliner khas, yakni mi ongklop dan minuman purwaceng. Mi ongklop disebut memiliki mi kuning, kucai, kubis, bawang goreng, serta pilihan topping seperti sate kambing, ayam, dan sapi. Kuahnya juga memiliki tekstur kental. Sementara itu, purwaceng dinikmati sebagai minuman hangat yang cocok dengan udara dingin Dieng.
Menjelang malam, rombongan menuju Telaga Cebong yang berada di bawah Bukit Sikunir. Namun, rencana bermalam dengan mendirikan tenda harus dibatalkan karena terdapat proyek perbaikan di sekitar lokasi. Mereka akhirnya memilih penginapan sebagai rencana alternatif.
Malam dihabiskan dengan memasak bekal, termasuk membuat olahan tempe dan roti tawar. Setelah beristirahat, rombongan bergegas menuju Puncak Sikunir seusai subuh untuk mengejar matahari terbit.
Baca Juga: Tim Hibah PKM STKIP PGRI Trenggalek Usung Konsep Zero Waste Berkelanjutan
Perjalanan tersebut berbuah pemandangan yang sesuai harapan. Langit terlihat cerah sehingga rombongan dapat menikmati sunrise dengan latar pegunungan. Suhu di Puncak Sikunir disebut berada di sekitar 10 derajat Celsius. Pengunjung pun disarankan membawa jaket tebal, sarung tangan, serta air minum.
Setelah menikmati matahari terbit, rombongan turun dan kembali ke penginapan. Mereka kemudian bersiap melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir, yakni Telaga Menjer.
Untuk menuju Telaga Menjer, rombongan menggunakan jalur alternatif Curug Sikarang. Jalur tersebut menawarkan pemandangan hijau, tetapi memiliki karakter jalan yang cukup curam dan berkelok sehingga kondisi kendaraan perlu diperhatikan.
Sekitar 30 menit perjalanan, rombongan tiba di Telaga Menjer. Di lokasi tersebut terdapat berbagai spot foto, perahu wisata, serta warung apung. Pengunjung juga dapat menikmati suasana telaga dengan menaiki perahu.
Baca Juga: Bupati Rotasi 62 Pejabat Diminta Langsung Bekerja Tak Tersentuh Eselon II
Rombongan mencoba berkeliling menggunakan perahu selama sekitar 20 menit dengan tarif Rp20.000 per orang. Meski matahari cukup terik, udara di kawasan Telaga Menjer tetap terasa sejuk dan dingin.
Perjalanan ke Dieng pun ditutup dengan pengalaman menikmati keindahan alam, kuliner, serta suasana pegunungan. Rombongan membawa pulang pengalaman baru dan berbagai momen perjalanan sebelum melanjutkan road trip pada episode berikutnya.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir