DONGKO, Radar Trenggalek - Keindahan sungai, bebatuan alami, dan suasana hijau menjadi daya tarik Taman Watu Kandang di Desa Pandean, Kecamatan Dongko.
Namun, semakin dikenal sebagai tujuan wisata, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi. Jangan sampai ramainya pengunjung justru menggerus lingkungan yang menjadi modal utama kawasan tersebut.
Watu Kandang menawarkan wisata berbasis alam. Aliran sungai dan kawasan hijau menjadi bagian utama pengalaman pengunjung. Artinya, kebersihan dan kelestarian lingkungan bukan sekadar pelengkap, melainkan menjadi penentu apakah destinasi tersebut mampu bertahan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Pantai Gading Kuning Tanjung Bumi, Wisata Baru dengan Jogging Track Mangrove
Persoalannya, peningkatan aktivitas wisata harus diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang konsisten. Sampah pengunjung, kerusakan vegetasi, kondisi jalur menuju sungai, hingga perubahan kawasan akibat pembangunan fasilitas menjadi hal yang perlu diantisipasi sejak awal.
Kepala Desa Pandean, Sumarni mengatakan, pengembangan wisata tidak boleh mengorbankan lingkungan yang menjadi daya tarik utama. “Wisata dan lingkungan harus berjalan bersama. Jangan sampai karena ingin menarik wisatawan, justru lingkungan yang menjadi daya tariknya rusak. Masyarakat harus ikut menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan,” ujarnya.
Upaya menjaga lingkungan di Pandean juga dilakukan melalui program Desa Berseri 2026. Pada Juli lalu, Desa Pandean menjalani verifikasi lapangan terkait program tersebut.
Kegiatan itu menjadi bagian dari penilaian terhadap kondisi lingkungan serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian desa.
Baca Juga: Wisata Sumenep, dari Keraton hingga Gili Labak yang Bikin Liburan Makin Berkesan
Gotong royong juga dilakukan masyarakat bersama pemerintah desa, kelompok sadar wisata (pokdarwis), dan pihak lain. Pembersihan kawasan menjadi salah satu upaya mempertahankan kondisi lingkungan di sekitar destinasi.
Namun, kegiatan bersih-bersih tidak cukup jika hanya dilakukan menjelang penilaian atau ketika ada agenda tertentu. Tantangan sebenarnya adalah menjaga kawasan secara rutin ketika jumlah wisatawan meningkat.
Pengelola juga perlu memastikan adanya aturan yang jelas bagi pengunjung. Pengelolaan sampah, fasilitas tempat sampah, toilet, jalur wisata, keamanan di sekitar sungai, hingga kapasitas kawasan perlu mendapat perhatian.
Sebab, wisata alam memiliki batas. Semakin ramai pengunjung, semakin besar pula tekanan terhadap lingkungan. Jika tidak dikendalikan, daya tarik yang awalnya menjadi alasan wisatawan datang justru dapat mengalami penurunan. (bim/c1/din)
Editor : Muhammad Fadli ArdiansyahSumber : RADAR TRENGGALEK