Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Diguyur Hujan, Hasil Modifikasi Cuaca

Z
Penulis: Zaki Jazai❯
HUJAN BELUM AKHIRI KEMARAU: Guyuran hujan di Trenggalek berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi karhutla. (JAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)
HUJAN BELUM AKHIRI KEMARAU: Guyuran hujan di Trenggalek berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi karhutla. (JAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Advertisement

KOTA, Radar Trenggalek — Hujan ringan mulai mengguyur sejumlah wilayah Bumi Menak Sopal. Salah satunya terjadi di Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo. Kendati demikian, turunnya hujan tersebut belum menandai berakhirnya musim kemarau.

Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir berkaitan dengan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Jawa Timur. Operasi tersebut dilakukan pemerintah untuk membantu mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengurangi dampak kekeringan.

Dengan begitu, hujan yang muncul di sejumlah wilayah Trenggalek tidak serta-merta menjadi penanda bahwa musim kemarau telah berakhir.

Advertisement

“Yang terjadi seperti saat ini, BNPB, BMKG, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Seperti beberapa hari ini, di beberapa wilayah Kabupaten Trenggalek terjadi hujan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, Senin (26/10).  

Salah satu wilayah yang mengalami hujan yakni Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo. Meski intensitas hujan masih ringan, kondisi tersebut sedikit membantu membasahi wilayah yang sebelumnya terdampak kondisi kering.

Advertisement

Triadi menjelaskan, OMC menjadi salah satu langkah pemerintah untuk mengurangi risiko karhutla yang masih menjadi perhatian di Jawa Timur. Operasi tersebut dilakukan setelah pemerintah pusat dan daerah membahas kondisi karhutla serta kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.

“Ada beberapa arahan dan penekanannya bahwasanya untuk mengurangi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, salah satunya adalah dilaksanakan operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.

OMC di Jawa Timur dijadwalkan berlangsung hingga 29 Oktober 2026. Wilayah operasinya mencakup kawasan dari Malang hingga Situbondo dengan menggunakan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl).

Dalam setiap pelaksanaan penerbangan, bahan semai yang digunakan mencapai sekitar 1.000 kilogram (kg). Penyemaian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi awan dan potensi hujan di wilayah sasaran.

Karena itu, hujan yang turun di Trenggalek diharapkan memberikan dampak positif terhadap kondisi lingkungan, terutama dalam menekan potensi kebakaran hutan dan lahan. “Ya, meskipun paling tidak ini bisa berdampak terhadap mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan,” terang Pj Sekda Trenggalek ini.

Advertisement
Editor : Muhammad Fadli Ardiansyah
Sumber : RADAR TRENGGALEK

Artikel Terkait

Revitalisasi Empat Destinasi Wisata  Dari Alokasi Pinjaman Daerah

Revitalisasi Empat Destinasi Wisata Dari Alokasi Pinjaman Daerah

Pemkab Trenggalek merencanakan revitalisasi Gua Lowo, Prigi 360, Pantai Pasir Putih Karanggongso, dan Hutan Kota pada 2027 mendatang.

Dari Seorang Buruh Pabrik dan Aktivis  Kini Menjadikan Desa Karangturi Berdaya Saing

Dari Seorang Buruh Pabrik dan Aktivis Kini Menjadikan Desa Karangturi Berdaya Saing

Puryono, Kades Karangturi, Munjungan, menapaki perjalanan dari buruh pabrik, aktivis Reformasi 1998, hingga pemimpin desa dua periode.

Krisis Air Meluas, 3,923 Juta Liter Bantuan Sudah Disalurkan  Panggul Masih Jadi Wilayah Terparah

Krisis Air Meluas, 3,923 Juta Liter Bantuan Sudah Disalurkan Panggul Masih Jadi Wilayah Terparah

BPBD Trenggalek telah menyalurkan 3,9 juta liter air bersih ke 62 desa terdampak kekeringan yang tersebar di 14 kecamatan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer