SURABAYA – Jauh sebelum kemegahan Kediri, Singasari, hingga Majapahit menguasai Nusantara, wilayah pedalaman Jawa Timur telah memiliki peradaban yang mapan dan berdaulat. Sejarah Kerajaan Kanjuruhan mencatat wilayah ini sebagai pusat kekuasaan Hindu tertua di Jawa Timur yang tumbuh subur di lereng Gunung Kawi dan hulu Sungai Brantas, kawasan yang kini kita kenal sebagai Malang Raya.
Muncul pada abad ke-8 Masehi, sejarah Kerajaan Kanjuruhan menjadi titik awal transisi masyarakat agraris menuju sistem pemerintahan yang terorganisir. Berbeda dengan kerajaan pesisir yang mengandalkan perdagangan laut, Kanjuruhan membangun kekuatannya melalui kemandirian ekonomi berbasis pertanian. Sungai Brantas menjadi nadi irigasi utama yang menopang stabilitas pangan dan ekonomi rakyatnya, menciptakan sebuah kerajaan yang stabil dan damai di tengah rimbunnya hutan purba.
Bukti otentik mengenai sejarah Kerajaan Kanjuruhan tertuang dalam Prasasti Dinoyo yang bertarikh 760 Masehi. Prasasti yang ditulis dalam aksara Kawi dan bahasa Sanskerta ini menjadi sumber primer bagi para sejarawan, seperti RM Ng. Purbacaraka dan JG de Casparis, untuk merekonstruksi silsilah penguasa di wilayah tersebut. Prasasti ini menegaskan bahwa Kanjuruhan bukanlah sekadar legenda lisan, melainkan entitas politik yang diakui secara ilmiah.
Dinasti Dewa Simha dan Masa Keemasan Raja Gajayana
Pondasi awal kerajaan ini diletakkan oleh Raja Dewa Simha, yang dalam historiografi Indonesia diakui sebagai pendiri dinasti Kanjuruhan. Sebagai penguasa pertama, Dewa Simha berhasil menyatukan kepemimpinan tradisional dengan ajaran Hindu aliran Siwa. Di bawah kepemimpinannya, rakyat hidup dalam komunitas desa agraris yang rukun, di mana raja berperan sebagai penjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi.
Puncak kejayaan kerajaan ini terjadi pada masa pemerintahan putranya, Raja Gajayana atau yang juga dikenal dengan nama Limwat. Gajayana dikenal sebagai pemimpin visioner yang mendorong perkembangan spiritual dan budaya. Salah satu peninggalan monumental yang dikaitkan dengan era ini adalah Candi Badut di Malang. Candi Hindu tertua di Jawa Timur ini menjadi bukti fisik tingginya arsitektur dan perkembangan spiritualitas masyarakat Kanjuruhan pada masa itu.
Raja Gajayana juga tercatat dalam Prasasti Dinoyo atas jasanya mendirikan tempat suci untuk Resi Agastya. Pemujaan terhadap Resi Agastya menandakan bahwa Kanjuruhan telah memiliki kedekatan intelektual dan spiritual dengan tradisi Hindu dari India Selatan, sekaligus memperkuat legitimasi Gajayana sebagai pelindung dharma atau tatanan kosmis.
Ratu Utejana dan Integrasi Politik ke Mataram Kuno
Setelah wafatnya Raja Gajayana, tongkat kepemimpinan beralih kepada putrinya, Ratu Utejana. Masa kepemimpinan Ratu Utejana menjadi babak transisi penting dalam sejarah Kerajaan Kanjuruhan. Sang ratu tercatat menikah dengan Pangeran Jananiah dari Parade, sebuah aliansi politik yang bertujuan menjaga stabilitas kerajaan di tengah munculnya kekuatan regional yang lebih besar di Jawa Tengah.
Menariknya, berakhirnya kedaulatan Kanjuruhan tidak disebabkan oleh peperangan berdarah atau kehancuran militer. Para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Kanjuruhan perlahan-lahan melebur ke dalam orbit kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno atau Medang. Integrasi politik ini membuat Kanjuruhan kehilangan statusnya sebagai kekuasaan mandiri, namun tradisi dan warisan budayanya tetap hidup dan diwarisi oleh kerajaan-kerajaan besar berikutnya di Jawa Timur.
Melalui silsilah Dewa Simha, Gajayana, hingga Ratu Utejana, kita dapat melihat bahwa peradaban Jawa Timur dibangun di atas prinsip keseimbangan dan kebijaksanaan. Meski namanya perlahan menghilang dari catatan waktu sebagai negara berdaulat, jejak Kanjuruhan tetap abadi dalam setiap tarikan napas sejarah Malang Raya dan fondasi kebudayaan Jawa Timur yang kita kenal hari ini.
Editor : Natasha Eka Safrina