JAKARTA - Asal usul nama Tulungagung bukan sekadar cerita tentang penamaan wilayah, melainkan kisah panjang tentang air, doa, dan keyakinan masyarakat terhadap pertolongan besar dari Tuhan. Di balik nama yang terdengar indah itu, tersimpan sejarah perjuangan manusia melawan alam serta keimanan yang diwariskan turun-temurun hingga kini.
Sebelum dikenal sebagai Tulungagung, wilayah ini merupakan sebuah lembah luas di selatan Gunung Wilis yang dialiri oleh Sungai Brantas beserta anak-anak sungainya. Letak geografis tersebut menjadikan daerah ini subur, namun sekaligus rentan bencana. Setiap musim hujan, air sungai kerap meluap dan menenggelamkan sawah, rumah, serta jalur penghubung antardesa. Banjir menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat kala itu.
Wilayah Rawa yang Pernah Disebut Ngowo
Dalam catatan sejarah lisan, daerah ini dahulu dikenal dengan nama Ngowo atau Ngerowo, yang berarti rawa. Nama tersebut mencerminkan kondisi alam yang didominasi genangan air dan lahan basah. Kehidupan warga berlangsung dalam keterbatasan. Rumah panggung menjadi pilihan utama, sementara pertanian sering gagal akibat banjir yang datang tanpa ampun.
Baca Juga: Ramalan Shio Kelinci Naga Ular 2026 Tahun Kuda Api: Siapa Paling Bersinar, Siapa Paling Diuji?
Meski demikian, masyarakat tidak sepenuhnya menyerah pada keadaan. Mereka percaya bahwa setiap ujian pasti disertai pertolongan. Keyakinan inilah yang kelak melahirkan filosofi besar di balik perubahan nama wilayah tersebut.
Doa dan Keyakinan Tulunging Agung
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, perubahan nasib wilayah ini tidak hanya terjadi karena faktor alam, tetapi juga doa. Dikisahkan hidup seorang tokoh bijak bernama Kiai Bro Mukti yang dikenal tekun beribadah. Saat banjir besar melanda, ia memanjatkan doa di tepi sungai agar air segera surut dan rakyat diselamatkan. Tak lama berselang, air perlahan menghilang dan tanah kembali mengering.
Peristiwa tersebut diyakini sebagai tulunging agung, pertolongan besar dari Tuhan. Dari keyakinan itulah nama Tulungagung lahir. Secara etimologis, “tulung” berarti pertolongan, sementara “agung” bermakna besar dan luhur. Gabungan keduanya menjadi doa agar wilayah ini selalu mendapat perlindungan ilahi.
Makna Spiritual dalam Nama Tulungagung
Bagi masyarakat Jawa kuno, nama bukan sekadar penanda geografis. Nama dipercaya mengandung doa dan kekuatan spiritual. Penyebutan Tulungagung menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun cobaan hidup, selalu ada pertolongan bagi mereka yang sabar dan beriman. Filosofi ini sejalan dengan ajaran Jawa, eling lan waspada, selalu ingat kepada Tuhan dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Dari Kerajaan hingga Masa Kolonial
Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah Tulungagung telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit sebagai daerah agraris yang subur. Setelah runtuhnya Majapahit, daerah ini berada di bawah pengaruh Mataram Islam dan menjadi jalur perdagangan penting di Jawa Timur.
Pada masa kolonial Belanda, Ngowo ditetapkan sebagai wilayah administratif strategis karena kekayaan alamnya, seperti pertanian dan marmer. Meski rakyat hidup dalam tekanan penjajahan, keyakinan akan tulunging agung tetap menjadi sumber kekuatan batin hingga akhirnya Indonesia merdeka.
Budaya, Alam, dan Rasa Syukur
Kini Tulungagung dikenal sebagai daerah yang subur, kaya budaya, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Larung Sembonyo di Pantai Popo, sebagai ungkapan syukur atas hasil laut dan permohonan keselamatan. Tradisi bersih desa, seni jaranan, reog gendang, dan tayub juga menjadi cerminan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Asal usul nama Tulungagung pada akhirnya bukan hanya tentang perubahan nama wilayah, melainkan simbol kebangkitan. Dari tanah rawa yang penuh bencana, lahirlah daerah yang menjadikan air sebagai sumber kehidupan. Nama Tulungagung menjadi doa abadi, pengingat bahwa di setiap kesulitan selalu ada pertolongan besar bagi mereka yang percaya dan bersyukur.
Editor : Natasha Eka Safrina