
KOTA, Radar Trenggalek – Cuaca panas yang melanda Bumi Menak Sopal belakangan ini diduga turut memengaruhi peningkatan pasien penyakit paru. Kondisi tersebut membuat Ruang Anggrek RSUD dr Soedomo Trenggalek mengalami kelebihan kapasitas.
Kapasitas normal ruang perawatan tersebut hanya 18 tempat tidur. Namun, meningkatnya jumlah pasien membuat rumah sakit menambah alokasi menjadi 22 tempat tidur.
“Penambahan itu sementara ini juga belum sepenuhnya mampu menampung seluruh pasien yang membutuhkan perawatan,” ungkap dokter spesialis paru RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr Sari Apriliana SpP.
Baca Juga: 145 Pasien Masuk Daftar Tunggu Mesin HD RSUD Jadi 31 Unit Diikuti Penguatan Layanan
Dia melanjutkan, hal ini karena adanya peningkatan jumlah pasien paru yang menjalani perawatan. Rumah sakit akhirnya melakukan penyesuaian penggunaan sejumlah ruangan untuk mengantisipasi keterbatasan tempat tidur. “Kapasitas normalnya ada 18 tempat tidur, tetapi saat ini over sehingga kami tambah alokasinya,” kata dr Sari.
Lonjakan pasien tersebut membuat sebagian pasien harus dirawat di bangsal lain. Rumah sakit sementara memanfaatkan ruang tindakan dan ruang perawatan khusus tuberkulosis resisten obat (TB-RO) untuk menambah kapasitas.
Bahkan, setelah kapasitas ruang Anggrek ditambah menjadi 22 tempat tidur, sebagian pasien masih harus dititipkan ke ruangan lain. “Jumlah pasien terus bertambah, bahkan sebagian terpaksa kami titipkan ke ruangan lain,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan ruang perawatan bagi pasien paru. Rumah sakit harus mengatur ulang penggunaan ruangan agar pasien tetap mendapatkan pelayanan medis meski kapasitas ruang khusus paru terbatas.
Di tengah peningkatan tersebut, cuaca panas menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan. Namun, rumah sakit belum dapat memastikan secara medis bahwa hawa panas menjadi penyebab langsung meningkatnya jumlah pasien penyakit paru.
Begitu pula dengan dugaan peningkatan kasus Influenza A. RSUD dr Soedomo belum dapat mengaitkan lonjakan pasien paru dengan penyakit tersebut karena belum didukung pemeriksaan diagnostik khusus. “Karena itu, peningkatan jumlah pasien paru belum bisa langsung dikaitkan dengan Influenza A tanpa dukungan hasil pemeriksaan medis,” jelas dr Sari.(jaz/din)



