Trenggaleknjenggelek - Mie instan sudah lama jadi “kambing hitam” dalam obrolan kesehatan. Ada yang bilang bungkusnya dilapisi lilin, ada juga yang meyakini mie instan penyebab utama penyakit jantung.
Dr. Tirta, dokter sekaligus influencer kesehatan, meluruskan mitos tersebut dengan penjelasan yang lebih masuk akal.
Menurut Dr. Tirta, mie instan tidak otomatis berbahaya. Masalahnya bukan pada mie instan itu sendiri, tapi pada pola konsumsi.
Kalau kamu makan mie instan 10 bungkus sehari selama 10 tahun, tentu tekanan darahmu bisa naik dan kesehatanmu terganggu.
Tapi kalau hanya seminggu sekali atau sesekali saat lapar tengah malam, tubuhmu masih bisa mentoleransi.
Kenapa Mie Instan Dianggap “Jahat”?
Dr. Tirta menjelaskan, mie instan memang minim gizi. Bahan utamanya adalah tepung sebagai karbohidrat, plus bumbu yang tinggi natrium.
Artinya, kalau mie instan dijadikan makanan utama tanpa tambahan apa pun, tubuhmu hanya dapat energi instan tanpa protein, vitamin, atau mineral.
Isu soal mie instan dilapisi lilin? Itu mitos. “Kalau betul dilapisi lilin, suruh kasih jurnal penelitian yang membuktikan,” tegas Dr. Tirta.
Hingga kini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan mie instan mengandung lapisan lilin berbahaya.
Cara Sehat Makan Mie Instan
Kunci aman konsumsi mie instan adalah keseimbangan. Dr. Tirta menyarankan agar mie instan tidak dimakan sendirian, melainkan dipadukan dengan bahan bergizi lain seperti:
- Tambahkan sayuran hijau (sawi, bayam, kol)
- Masukkan protein (telur, ayam, daging, tahu, atau tempe)
- Batasi frekuensi konsumsi, jangan tiap hari
- Dengan cara ini, mie instan bukan lagi musuh, melainkan makanan “survival” yang bisa dinikmati tanpa rasa bersalah.
Mie instan bukan racun, tapi juga bukan makanan bergizi lengkap. Menurut Dr. Tirta, bahayanya muncul kalau mie instan dijadikan menu harian dalam jumlah berlebihan.
Selama dikonsumsi sesekali, dengan tambahan sayur dan protein, mie instan tetap aman untuk jadi teman setia akhir bulan atau malam begadang. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom