JAKARTA - Wisata Banyuwangi kembali menjadi magnet liburan favorit di ujung timur Pulau Jawa. Deretan destinasi alamnya menawarkan pengalaman komplet: gunung berapi aktif, pantai eksotis, savana luas, hutan purba, hingga wisata bawah laut.
Tak heran, wisata Banyuwangi kerap masuk daftar tujuan utama pelancong yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus petualangan.
Jika Anda merencanakan liburan tahun ini, berikut rangkuman wisata Banyuwangi paling populer yang bisa menjadi referensi perjalanan.
Kawah Ijen dan Fenomena Blue Fire yang Langka
Kawah Ijen menjadi ikon utama wisata Banyuwangi. Terletak di perbatasan Banyuwangi–Bondowoso, gunung berapi aktif ini terkenal dengan fenomena blue fire atau api biru yang hanya bisa dilihat saat dini hari.
Selain itu, danau kawah berwarna hijau kebiruan serta lanskap pegunungan membuat pendakian terasa magis.
Pendakian dimulai dari Paltuding, bisa ditempuh melalui Desa Licin dengan kendaraan pribadi, sewa mobil, atau paket tur.
Tiket masuk wisatawan domestik berkisar Rp20.000–Rp30.000, sementara wisatawan asing sekitar Rp150.000. Waktu terbaik berkunjung adalah musim kemarau, April–Oktober.
Pengunjung disarankan membawa jaket tebal, sepatu trekking, dan masker gas karena asap belerang cukup kuat.
Teluk Hijau, Surga Tersembunyi di Meru Betiri
Teluk Hijau atau Green Bay berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Desa Sarongan, Pesanggaran.
Pantai ini dikenal dengan air laut berwarna hijau jernih akibat alga di dasar perairan serta pasir putih yang lembut.
Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan kaki atau naik perahu setelah tiba di Sarongan. Tidak ada tiket khusus, namun pengunjung membayar parkir motor Rp5.000, mobil Rp10.000, dan tiket masuk Meru Betiri Rp7.500 saat akhir pekan.
Fasilitas minim, namun justru menjadi daya tarik bagi pencinta alam yang ingin suasana alami.
Pantai Pulau Merah, Surganya Peselancar
Pantai Pulau Merah di Dusun Pancer, Pesanggaran, terkenal dengan pasir kemerahan dan ombak menantang.
Tempat ini menjadi favorit peselancar sekaligus wisatawan keluarga.
Tiket masuk Rp10.000 per orang, parkir motor Rp2.000, mobil Rp5.000. Tersedia fasilitas homestay, masjid, warung makan, hingga penyewaan papan selancar.
Waktu terbaik datang antara April–Oktober saat ombak lebih bersahabat dan air laut jernih.
De Djawatan, Hutan Trembesi Mirip Film Fantasi
De Djawatan di Desa Benculuk, Cluring, viral karena ratusan pohon trembesi raksasa yang menciptakan suasana bak hutan dalam film fantasi.
Area seluas 6 hektare ini cocok untuk wisata keluarga dan fotografi.
Tiket masuk Rp7.500, parkir motor Rp2.000, mobil Rp5.000. Fasilitas lengkap mulai toilet, musala, gazebo, hingga area bermain anak. Buka setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB.
Taman Nasional Baluran, Little Africa di Jawa
Meski secara administratif masuk Situbondo, Baluran sangat dekat dari Banyuwangi dan sering masuk paket wisata Banyuwangi.
Savana luas dengan latar Gunung Baluran membuat kawasan ini dijuluki Little Africa van Java.
Wisatawan bisa melihat banteng, rusa, merak, dan satwa liar lain. Tiket masuk wisnus Rp51.000 melalui pintu Batangan. Tersedia menara pandang, pusat informasi, dan jalur tracking.
Pantai Plengkung (G-Land), Ombak Kelas Dunia
Pantai Plengkung di kawasan Taman Nasional Alas Purwo dikenal sebagai G-Land, salah satu spot surfing terbaik dunia.
Ombaknya tinggi dan konsisten, dikelilingi hutan tropis lebat.
Akses bisa melalui jalur darat dari Grajagan dengan jeep atau jalur laut.
Tiket masuk kawasan sekitar Rp15.000. Tersedia penginapan, warung makan, dan penyewaan papan selancar.
Alas Purwo dan Bangsring Underwater
Taman Nasional Alas Purwo menawarkan kombinasi hutan, pantai, savana, dan satwa liar seperti banteng dan rusa.
Tiket masuk wisnus Rp5.000 hari kerja dan Rp7.500 saat libur.
Sementara Bangsring Underwater di Wongsorejo menawarkan wisata snorkeling, diving, serta penangkaran hiu di rumah apung.
Tiket masuk hanya Rp5.000, biaya tambahan untuk alat snorkeling.
Beragam destinasi ini menunjukkan bahwa wisata Banyuwangi bukan sekadar perjalanan, melainkan pengalaman petualangan lengkap dari gunung, hutan, pantai, hingga bawah laut dalam satu kabupaten.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.