TRENGGALEK JENGGELEK – Dalam industri smartphone, setiap produsen biasanya memiliki produk unggulan yang disebut flagship. Smartphone flagship dirancang dengan spesifikasi terbaik, teknologi terbaru, serta harga yang relatif tinggi dibanding perangkat lain.
Namun tidak semua flagship berhasil di pasar. Beberapa bahkan masuk daftar smartphone flagship terburuk sepanjang masa karena mengalami berbagai masalah, mulai dari cacat produksi, spesifikasi yang mengecewakan, hingga harga yang terlalu mahal.
Meski datang dari merek besar, sejumlah perangkat flagship ini justru menuai kritik tajam dari pengguna dan pengamat teknologi. Berikut deretan smartphone flagship terburuk sepanjang masa yang sempat menjadi sorotan di dunia teknologi.
Samsung Galaxy Note 7: Skandal Baterai Meledak
Salah satu kasus paling terkenal dalam sejarah smartphone adalah kegagalan Samsung Galaxy Note 7.
Perangkat flagship Samsung ini diluncurkan pada 2016 dan awalnya mendapat sambutan positif berkat desain premium serta fitur stylus S Pen yang menjadi ciri khas seri Note.
Namun tidak lama setelah peluncurannya, muncul laporan bahwa baterai Galaxy Note 7 dapat mengalami overheating hingga meledak. Insiden tersebut terjadi di berbagai negara dan menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pengguna.
Akibat masalah tersebut, Samsung akhirnya menarik seluruh unit Galaxy Note 7 dari pasar global. Bahkan pemasaran perangkat ini di sejumlah negara, termasuk Indonesia, dibatalkan.
Kasus ini menjadi salah satu krisis terbesar dalam sejarah Samsung. Setelah insiden tersebut, perusahaan langsung meluncurkan penerusnya yaitu Galaxy Note 8 dengan sistem keamanan baterai yang lebih ketat.
Google Pixel 4: Baterai Dinilai Terlalu Kecil
Flagship lain yang masuk daftar smartphone flagship terburuk sepanjang masa adalah Google Pixel 4 yang dirilis pada 2019.
Pixel 4 sebenarnya membawa sejumlah fitur inovatif seperti teknologi kamera canggih dan sistem radar gesture control. Namun perangkat ini mendapat kritik keras karena kapasitas baterainya yang dinilai terlalu kecil.
Google hanya menyematkan baterai 2.800 mAh pada Pixel 4. Kapasitas tersebut dianggap tidak sebanding dengan kebutuhan smartphone flagship saat itu.
Di tahun yang sama, banyak kompetitor sudah menghadirkan smartphone dengan baterai di atas 4.000 mAh. Akibatnya Pixel 4 sering dianggap memiliki daya tahan baterai yang kurang memuaskan.
Jika dibandingkan dengan perangkat lain seperti Galaxy S10 atau iPhone 11 yang rilis pada periode yang sama, Pixel 4 dinilai kalah dari segi efisiensi dan daya tahan.
iPhone 5C: Eksperimen iPhone Murah Apple
Pada 2013, Apple mencoba menghadirkan iPhone dengan harga lebih terjangkau melalui iPhone 5C.
Perangkat ini sebenarnya memiliki konsep yang cukup unik karena menggunakan bodi plastik berwarna cerah seperti biru, kuning, hijau, pink, dan putih.
Apple berharap iPhone 5C dapat menjangkau pasar yang lebih luas, terutama konsumen yang ingin menggunakan iPhone dengan harga lebih murah.
Namun kenyataannya, iPhone 5C tidak terlalu sukses. Salah satu alasan utamanya adalah selisih harga yang tidak terlalu jauh dari iPhone 5S yang memiliki spesifikasi lebih tinggi.
Selain itu, material plastik pada iPhone 5C juga membuat sebagian pengguna menilai perangkat tersebut kurang premium dibanding model iPhone lainnya.
LG G6: Sulit Bersaing di Pasar Flagship
Perjalanan LG di industri smartphone memang tidak selalu mulus. Salah satu produk flagship yang dianggap kurang sukses adalah LG G6 yang dirilis pada 2017.
Saat itu LG mencoba menghadirkan desain layar modern dengan rasio 18:9 yang cukup inovatif pada masanya. Namun perangkat ini tetap kesulitan bersaing dengan flagship lain di pasar.
Salah satu kritik terbesar terhadap LG G6 adalah penggunaan chipset Snapdragon 821 yang sebenarnya merupakan prosesor generasi sebelumnya.
Ketika kompetitor mulai menggunakan chipset terbaru Snapdragon 835, LG justru menghadirkan perangkat dengan prosesor lama. Hal ini membuat performa LG G6 dianggap kurang kompetitif.
Kegagalan beberapa produk flagship seperti LG G6 juga menjadi salah satu faktor yang akhirnya membuat LG keluar dari bisnis smartphone beberapa tahun kemudian.
Red Hydrogen One: Terlalu Mahal untuk Pasar Smartphone
Nama Red Hydrogen One mungkin tidak terlalu familiar bagi sebagian pengguna smartphone. Namun perangkat ini pernah menjadi salah satu proyek ambisius dari perusahaan kamera profesional Red.
Red dikenal sebagai produsen kamera sinema yang sering digunakan dalam industri film Hollywood. Dengan reputasi tersebut, perusahaan mencoba masuk ke pasar smartphone pada 2018.
Red Hydrogen One menawarkan layar 5,7 inci, kamera 12 MP, chipset Snapdragon 835, serta baterai 4.500 mAh.
Meski spesifikasinya cukup menarik, smartphone ini gagal di pasaran karena harganya sangat mahal, bahkan mencapai sekitar Rp25 juta.
Harga yang terlalu tinggi membuat perangkat ini sulit bersaing dengan flagship dari brand besar seperti Samsung, Apple, dan Huawei.
Pelajaran dari Kegagalan Smartphone Flagship
Deretan smartphone flagship terburuk sepanjang masa ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan teknologi besar pun tidak selalu berhasil dengan setiap produknya.
Kegagalan tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kesalahan desain, spesifikasi yang kurang kompetitif, hingga strategi harga yang tidak tepat.
Meski demikian, kegagalan juga sering menjadi pelajaran penting bagi produsen untuk menghadirkan inovasi yang lebih matang di generasi berikutnya.
Editor : Edo Trianto