JAKARTA - Dunia kini tengah memasuki fase baru dalam perkembangan kecerdasan buatan dan robotika. Baru-baru ini, sebuah perusahaan robotika asal Shanghai, Droidup, mengejutkan publik dengan memperkenalkan Robot Humanoid Tiongkok terbaru bernama Moya. Berbeda dengan robot industri pada umumnya, Moya disebut sebagai robot cerdas pertama di dunia yang sepenuhnya bersifat biomimetik, yakni dirancang untuk meniru anatomi dan perilaku manusia secara presisi.
Kemunculan Robot Humanoid Tiongkok ini memicu perdebatan hangat di media sosial. Pasalnya, Moya tidak lagi terlihat seperti mesin kaku, melainkan memiliki kemampuan untuk melakukan kontak mata, tersenyum tipis, hingga mengangguk secara natural saat berkomunikasi. Teknologi ini berfokus pada micro-expressions atau gerakan otot wajah halus di sekitar mata dan mulut yang membuat interaksi terasa sangat manusiawi dan tidak lagi kaku.
Menariknya, dominasi Robot Humanoid Tiongkok di pasar global tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga detail fisik yang sangat mendalam. Moya memiliki tinggi 1,65 meter dengan berat sekitar 32 kilogram. Salah satu fitur yang paling mencengangkan adalah suhu permukaannya yang dijaga antara 32 hingga 36 derajat Celsius. Hal ini membuat siapa pun yang bersentuhan dengan robot ini tidak akan merasakan dinginnya logam atau plastik, melainkan kehangatan layaknya kulit manusia asli.
Uji Nyali di Suhu Ekstrem dan Medan Sulit
Selain Moya yang fokus pada interaksi sosial, Tiongkok juga memamerkan keunggulan robot Unitree G1. Robot ini baru saja menyelesaikan perjalanan otonom di wilayah Alt, Xinjiang, dengan suhu ekstrem mencapai minus 47,4 derajat Celsius. Mengenakan jaket pelindung khusus, Unitree G1 berhasil berjalan lebih dari 130.000 langkah di atas salju tanpa mengalami kerusakan baterai atau pembekuan pada sendi motornya.
Ketangguhan Unitree G1 ini didukung oleh sistem navigasi satelit Beidou yang memberikan akurasi tingkat sentimeter. Dengan kecepatan jalan sekitar 4,5 mil per jam, robot ini membuktikan bahwa teknologi humanoid asal Tiongkok tidak hanya siap bekerja di dalam ruangan yang nyaman, tetapi juga mampu bertahan di lingkungan paling brutal di bumi yang biasanya merusak perangkat elektronik konvensional.
Gebrakan Xpeng Iron dan Tantangan Realitas
Tak mau kalah, produsen mobil listrik Xpeng juga memamerkan robot humanoid bernama Iron di sebuah pusat perbelanjaan. Iron memiliki tinggi 178 cm dan berat 70 kg, dilengkapi dengan 62 sendi aktif yang memungkinkannya bergerak luwes. Xpeng menggunakan lapisan lattice fascia hasil cetak 3D yang meniru struktur otot manusia di bawah setelan luarnya guna meredam getaran dan menghaluskan gerakan.
Namun, demonstrasi Iron juga menunjukkan bahwa tantangan besar masih ada. Dalam sebuah acara publik, robot tersebut sempat kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang saat berdiri diam. Kejadian ini menjadi viral dan memicu diskusi bahwa meski teknologi sensor dan AI sudah sangat maju, menjaga keseimbangan sempurna pada robot bipedal (berkaki dua) tetap merupakan tugas rekayasa yang sangat kompleks.
Masa Depan Industri dan Komersialisasi
Droidup menargetkan Moya mulai masuk ke pasar pada akhir tahun 2026 dengan harga awal sekitar 1,2 juta Yen Jepang. Fokusnya bukan untuk bekerja di gudang atau pabrik, melainkan untuk sektor layanan kesehatan, pendidikan, dan perhotelan kelas atas yang membutuhkan kehadiran sosial jangka panjang.
Di sisi lain, perkembangan komponen seperti sendi putar yang terinspirasi dari lutut manusia serta sistem operasi robotika (AOS) yang lebih canggih terus dikembangkan di berbagai belahan dunia, termasuk riset dari Harvard dan Westwood Robotics. Hal ini menandakan bahwa persaingan untuk menciptakan robot yang bisa berjalan sambil bekerja secara bersamaan akan semakin sengit. Tiongkok, dengan kecepatan produksinya yang masif, tampaknya berada di barisan terdepan dalam perlombaan mengubah robot dari alat menjadi "manusia buatan".
Editor : Natasha Eka Safrina