Trenggaleknjenggelek - Makna di balik kalimat legendaris R.A. Kartini ini ternyata masih relevan. Bahkan makin penting untuk perempuan zaman now.
Setiap 21 April, Indonesia serentak mengingat sosok perempuan berkebaya, berwajah tenang, dan bersuara tajam.
Raden Ajeng Kartini. Tapi di balik parade baju adat dan lomba merangkai bunga, ada satu warisan abadi Kartini yang sering luput dari perhatian, "Habis gelap terbitlah terang".
Kalimat yang satu ini bukan sekadar judul buku. Ia adalah filosofi hidup. Sebuah metafora dari perjuangan Kartini melawan kebodohan, keterbatasan, dan sistem patriarki yang mengurung perempuan dalam ruang gelap.
Tapi apa arti “terang” bagi perempuan hari ini?
Bagi Kartini, “gelap” adalah masa di mana perempuan tak boleh sekolah, suaranya tak penting, dan nasibnya sudah ditentukan bahkan sebelum ia bisa membaca namanya sendiri.
Maka "terang" yang ia maksud adalah ketika perempuan bisa berpikir, memilih, dan berdiri sejajar dengan laki-laki bukan untuk bersaing, tapi untuk berjalan berdampingan.
Kini, perempuan bisa kuliah, punya karier, jadi pemimpin, bahkan presiden. Tapi pertanyaannya apakah “terangnya” sudah menyinari semua sudut?
Terang Zaman Now, Penuh Filter?
Di zaman media sosial, terang bisa berarti punya followers banyak, tampil glowing, atau viral karena konten berdurasi 15 detik.
Tapi Kartini mengajarkan bahwa terang sejati adalah saat seseorang tahu ilmunya, paham tujuannya, dan sadar nilainya, tanpa harus dibanding-bandingkan.
Perempuan modern hari ini dihadapkan pada tantangan baru. Standar kecantikan yang tak realistis, budaya kerja yang belum sepenuhnya ramah perempuan.
Hingga ekspektasi sosial yang serba paradox, harus pintar tapi jangan terlalu galak, harus sukses tapi jangan lupa masak.
Di sinilah makna "habis gelap terbitlah terang" kembali relevan. Terang itu bukan hanya soal peluang yang terbuka, tapi juga tentang keberanian menolak standar yang menekan, dan memilih jalan hidup yang sehat secara lahir batin. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom