JAKARTA - Sejarah iPhone selalu menarik untuk dibahas. Sejak pertama kali dirilis pada 2007, iPhone telah mengalami perubahan dramatis, baik dari sisi desain, teknologi, hingga strategi harga. Dalam kurun 17 tahun, produk besutan Apple ini bukan hanya berevolusi, tetapi juga mengubah wajah industri smartphone global.
Sejarah iPhone dimulai ketika Apple memperkenalkan iPhone generasi pertama pada 2007. Perangkat ini kemudian dikenal sebagai iPhone 2G karena menggunakan jaringan EDGE 2G milik AT&T. Harganya saat itu tergolong mahal, mulai USD 499 dengan kontrak dua tahun. Fiturnya pun masih terbatas—belum ada kamera depan, perekaman video, bahkan fitur copy-paste belum tersedia. Meski begitu, Apple sukses menjual lebih dari 6 juta unit dan menguasai 62 persen pasar smartphone dunia.
Setahun kemudian, iPhone 3G hadir dengan harga lebih terjangkau USD 199 dan dukungan jaringan 3G yang tiga kali lebih cepat. Apple juga mulai ekspansi ke lebih dari 70 negara. Penjualan melonjak hampir dua kali lipat menjadi 12 juta unit.
Baca Juga: BYD Atto 1 Harga Rp195 Juta Gegerkan Pasar, Mobil Listrik Murah Ini Siap Gempur Brio dan Agya
Era Peningkatan Performa dan Retina Display
Pada 2009, Apple merilis iPhone 3GS. Huruf “S” disebut sebagai speed karena peningkatan performanya dua hingga tiga kali lebih cepat. Kamera naik menjadi 3 megapiksel dan untuk pertama kalinya iPhone mendukung perekaman video.
Lompatan besar terjadi pada 2010 lewat iPhone 4. Desainnya berubah total dengan rangka stainless steel dan layar Retina Display yang empat kali lebih tajam. Namun, muncul kontroversi “antennagate” karena sinyal bisa hilang saat antena tertutup tangan. Apple tetap mencetak 50 juta unit penjualan dalam setahun.
Setahun berselang, iPhone 4S hadir membawa asisten virtual Siri untuk pertama kalinya di smartphone. Meski peningkatannya tergolong minor, model ini terjual lebih dari 60 juta unit.
Layar Lebih Besar dan Kontroversi Lightning
Tekanan dari Android membuat Apple memperbesar layar lewat iPhone 5 dengan layar 4 inci dan dukungan 4G LTE. Apple juga mengganti konektor 30-pin dengan Lightning, keputusan yang sempat menuai protes karena aksesori lama tak lagi kompatibel.
Strategi dua model dimulai pada 2013 dengan iPhone 5S dan iPhone 5C. 5S membawa Touch ID, sementara 5C hadir sebagai versi lebih terjangkau berbahan plastik warna-warni. Namun, konsumen lebih memilih 5S.
Perubahan besar kembali terjadi pada 2014 melalui iPhone 6 dan iPhone 6 Plus dengan layar 4,7 dan 5,5 inci. Meski sempat diterpa isu “bendgate” karena bodi mudah melengkung, seri ini sukses besar di pasaran.
Hilangnya Headphone Jack hingga Face ID
Pada 2016, iPhone 7 menjadi kontroversial karena menghapus jack audio 3,5 mm. Apple memperkenalkan AirPods tak lama setelahnya, yang kemudian justru menjadi produk fenomenal.
Tahun 2017 menjadi tonggak penting lewat iPhone X. Apple menghapus tombol home, memperkenalkan layar OLED penuh dengan notch, serta teknologi Face ID. Harganya menembus USD 999, memicu perdebatan, tetapi tetap terjual 63 juta unit.
Generasi berikutnya seperti iPhone XR, XS, hingga iPhone 11 memperkuat sektor kamera dan performa. Apple mulai menggunakan label “Pro” untuk model premium.
Era 5G, Dynamic Island, hingga AI
Memasuki 2020, lini iPhone 12 membawa dukungan 5G dan MagSafe. Apple sempat mencoba model Mini, tetapi kurang diminati pasar.
Pada 2022, seri iPhone 14 Pro memperkenalkan Dynamic Island menggantikan notch serta kamera 48 megapiksel. Kemudian di 2023, iPhone 15 beralih ke USB-C mengikuti regulasi Uni Eropa dan menggunakan material titanium untuk varian Pro.
Kini, iPhone 16 hadir dengan fitur Apple Intelligence berbasis AI, tombol kontrol kamera baru, perekaman video 4K 120fps, serta peningkatan baterai dan audio studio-quality.
Sejarah iPhone menunjukkan pola konsisten: inovasi berani, keputusan kontroversial, dan strategi harga premium. Dari perangkat mahal dengan fitur terbatas hingga smartphone berbasis AI, iPhone terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu produk teknologi paling berpengaruh di dunia.
Editor : Divka Vance Yandriana