JAKARTA - Biaya ganti baterai motor listrik kerap jadi momok yang membuat calon pengguna ragu beralih dari motor bensin. Banyak yang menilai motor listrik memang murah di awal, tapi akan terasa mahal saat waktunya mengganti baterai. Benarkah demikian?
Pengalaman pemilik motor listrik murah dengan baterai SLA (aki kering) ini bisa jadi gambaran nyata. Setelah hampir tiga tahun pemakaian dan menempuh jarak sekitar 13.000 km, ia akhirnya benar-benar mengganti baterai motor listrik miliknya. Hasilnya cukup mengejutkan.
Jika tiga tahun lalu harga satu set baterai masih di kisaran Rp2,5–3 jutaan, kini harga baterai pengganti turun drastis. Ia hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp1,5 juta untuk lima unit baterai SLA baru. Angka ini jauh lebih rendah dari kekhawatiran banyak orang.
Penurunan Performa Terjadi Bertahap
Baterai motor listrik memang memiliki siklus pengisian tertentu, misalnya 1.000 cycle. Namun bukan berarti pada pengisian ke-1.000 baterai langsung mati total. Penurunan performa terjadi secara bertahap.
Awalnya, sekali pengisian penuh bisa dipakai hingga dua hari dengan jarak tempuh sekitar 50 km. Seiring waktu, daya tahannya turun menjadi 40 km, lalu 30 km. Di ujung usia pakai, motor hanya mampu menempuh sekitar 10 km, terutama jika digunakan berboncengan dan melewati tanjakan.
Menariknya, meski frekuensi charging menjadi lebih sering, biaya listrik secara nominal tidak melonjak signifikan. Kapasitas baterai yang menurun membuat waktu pengisian lebih singkat. Jika awalnya butuh lima jam, di akhir masa pakai cukup sekitar 15 menit untuk penuh, meski cepat habis kembali.
Hitung Total Biaya Motor Listrik 3 Tahun
Selama tiga tahun pemakaian, pengeluaran non-listrik relatif minim. Rinciannya sebagai berikut:
-
Ganti baterai SLA: Rp1.500.000
-
Pajak motor: Rp30.000 per tahun x 3 tahun = Rp90.000
-
Ganti ban belakang sekali: Rp200.000
-
Ganti kampas rem sekali: Rp20.000
Total biaya perawatan dan komponen selama tiga tahun: Rp1.810.000.
Untuk biaya listrik, diasumsikan charging empat kali seminggu. Satu kali charging mengonsumsi sekitar 1 kWh. Dengan tarif listrik Rp1.500 per kWh, biaya per minggu hanya Rp6.000.
Dalam setahun, biaya listrik sekitar Rp300.000. Selama tiga tahun, totalnya Rp900.000.
Artinya, total pengeluaran motor listrik selama tiga tahun adalah Rp2.710.000. Jika dibagi 36 bulan, biaya operasionalnya hanya sekitar Rp75.000 per bulan.
Baca Juga: 5 HP Snapdragon 870 Harga 2 Jutaan Terbaik, Performa Ngebut Buat Gaming di Tahun 2026
Bandingkan dengan Motor Bensin
Sebagai pembanding, motor bensin dengan pemakaian hampir sama menghabiskan sekitar Rp70.000 per minggu untuk bahan bakar. Dalam setahun, biaya bensin mencapai Rp2.800.000.
Ditambah pajak tahunan Rp300.000, servis rutin dan ganti oli sekitar Rp1.200.000 per tahun, serta estimasi penggantian suku cadang Rp1.500.000 per tahun, total pengeluaran motor bensin mencapai Rp3.880.000 per tahun.
Jika dirata-rata per bulan, biaya motor bensin sekitar Rp323.000. Angka ini hampir empat kali lipat dibanding biaya operasional motor listrik.
SLA vs Lithium, Mana Lebih Untung?
Motor listrik yang digunakan dalam pengalaman ini memakai baterai SLA. Ada opsi upgrade ke baterai lithium dengan voltase dan amper sama, namun harganya sekitar Rp5 jutaan.
Selain lebih mahal, penggunaan baterai lithium custom berisiko jika spesifikasi tidak sesuai dengan controller dan sistem motor. Banyak kasus motor listrik terbakar terjadi akibat penggunaan baterai non-standar pabrik.
Dengan pertimbangan harga, keamanan, serta minim modifikasi, pemilik motor memilih tetap menggunakan SLA yang terbukti bisa bertahan sekitar 1,5–3 tahun tergantung pemakaian.
Harga Baterai Semakin Turun
Satu hal yang menjadi catatan penting, harga baterai kendaraan listrik terus mengalami penurunan seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya produksi massal.
Artinya, kekhawatiran biaya ganti baterai motor listrik yang mahal perlahan mulai tidak relevan, khususnya untuk motor listrik kelas entry level dengan baterai kecil.
Dengan total biaya sekitar Rp75.000 per bulan, motor listrik jelas unggul dalam hal efisiensi operasional. Tantangannya tinggal pada kebutuhan jarak tempuh dan kekuatan di tanjakan, terutama jika sering berboncengan.
Namun untuk penggunaan harian dalam kota, hitung-hitungan ini menunjukkan bahwa motor listrik bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga ramah di kantong.
Editor : Divka Vance Yandriana