TRENGGALEKNJENGGELEK - Boso Nggalekan adalah ragam kosakata khas yang digunakan oleh masyarakat Trenggalek dalam percakapan sehari-hari.
Meskipun Trenggalek termasuk wilayah penutur dialek Jawa Mataraman bersama Tulungagung dan Ponorogo, beberapa kosakata lokalnya punya ciri unik yang bikin orang dari daerah timur Jawa Timur, seperti Surabaya, Mojokerto, dan sekitarnya sering gagal paham.
Karakter boso ini cenderung medhok, tenang, dan memiliki logat yang cenderung datar, berbeda dari gaya bicara Suroboyoan yang keras dan ekspresif.
Baca Juga: Wajib Masuk Bucket List! Ini 5 Hidden Gems Wisata Alam Trenggalek 2025
Kosakata dalam boso Nggalekan bisa sangat berbeda dari bahasa Jawa standar maupun logat Jawa Timuran pada umumnya.
Berikut beberapa kata khas boso Nggalekan yang mungkin hanya benar-benar dimengerti oleh orang asli Trenggalek:
Baca Juga: Kemendagri Dinilai Lamban dalam Merampungkan Sengketa 16 Pulau Antara Trenggalek dan Tulungagung
1. Mendah
“Mendah” jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya adalah “masa”?,
Kata ini biasa digunakan untuk mengungkapkan ketidakpercayaan atau keheranan.
Baca Juga: Kemarau Basah Picu Kelembaban Tinggi, Petani Trenggalek Perlu Waspadai Hama Jamur
Contoh kalimat: “Mendah ngene ae awakmu ra ngerti”
Artinya: masa gini aja kamu nggak tahu
2. Ritek
“Ritek” sebenarnya tidak memiliki arti khusus, seperti kata mendah dan lekas.
Namun, kata ini sering digunakan sebagai penguat atau penutup kalimat, mirip kata “saja” atau “kok”.
Contoh kalimat: “Ora ritek”.
Artinya: Nggak usah saja.
3. Nyatu
Berbeda dengan kata “menyatu” dalam Bahasa Indonesia, “nyatu” dalam boso Nggalekan berarti “memang”.
Contoh kalimat: “deweke ki nyatu nakal”.
Artinya: dia itu memang nakal.
4. Giniyo
Baca Juga: AKI Trenggalek Tembus 48,66 Kg per Kapita per Tahun, Konsumsi Ikan Laut Tetap Mendominasi
Dalam boso Nggalekan, “giniyo” biasa dipakai untuk menanyakan alasan atau kondisi seseorang.
Kata “giniyo” jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia sama maknanya dengan kata “kenapa”.
Contoh kalimat: “sikilmu giniyo?”
Artinya: kakimu kenapa?
5. Andak
“Andak” adalah bentuk penekanan yang biasa dipakai untuk menunjukkan hal yang dianggap sepele atau gampang.
Contoh kalimat: “Andak ngono ae ra iso”.
Artinya: cuma gitu aja kok nggak bisa.
6. Lekas
“Lekas” disini tidak sama dengan kata “cepat” dalam Bahasa Indonesia.
Dalam boso Nggalekan, “lekas” artinya adalah “mulai”.
Contoh kalimat: “wayangane lekas jam piro?”
Artinya: wayangnya mulai jam berapa?
7. Gage
“Gage” artinya adalah “cepat” atau “cepetan”.
Kata ini biasanya digunakan untuk menyuruh seseorang segera melakukan sesuatu.
Contoh kalimat: “Gage ndang mangkat!”
Artinya: cepetan berangkat!
8. Anggitmu
Kata “anggitmu” sebenarnya tidak memiliki arti khusus secara harfiah, namun dalam praktiknya sering digunakan untuk menguatkan opini
Adapun dalam beberapa sering dimiripkan dengan kata “mbok kiro”, atau dalam Bahasa Indonesia “kamu kira”.
Contoh kalimat: “anggitmu aku ra iso”
Artinya: kamu kira aku nggak bisa
9. Dengah-Dengah
“Dengah-dengah” adalah ekspresi dalam boso Nggalekan yang punya arti mirip dengan kata “terserah” dalam Bahasa Indonesia.
Kata ini biasanya dipakai untuk menunjukkan sikap pasrah, cuek, atau menyerahkan keputusan kepada orang lain.
Dalam Bahasa Jawa lain, maknanya kurang lebih sama dengan kata “sembarang”.
Contoh kalimat: “Dengah-dengah, sak sermu.”
Artinya: terserah, suka suka kamu.
10. Eram
Kata “eram” dalam boso Nggalekan tidak memiliki padanan arti langsung dalam Bahasa Indonesia, tapi penggunaannya sangat khas dalam situasi tertentu.
Misal dalam situasi saat seseorang diminta membagi makanan atau barang, tapi dia menolak dengan alasan yang tidak jelas, orang lain bisa menyindirnya dengan kata “eram”.
Kata ini mengandung nada sindiran yang menunjukkan bahwa orang tersebut dianggap pelit atau enggan berbagi.
Contoh kalimat: “eram men lo!”
Artinya: pelit banget sih!
Editor : Akhmad Nur Khoiri