TRENGGALEK NJENGGELEK - Tembang macapat adalah karya sastra yang filosofis, baik dalam cakepan (syair), lagu, maupun judul.
Tembang macapat dapat digambarkan sebagai wadah (tempat) yang dapat diisi oleh apapun.
Wujud isi yang tertuang dalam cakepan tembang macapat biasanya mengandung pitutur, kritik, sejarah, cerita, maupun ungkapan emosional atau ungkapan perasaan.
Baca Juga: Mau Membuat Tembang Macapat, Tiga Guru Ini Wajib Dipatuhi
Selain itu, rangkaian bentuk lagu yang disajikan juga mempengaruhi bobot makna yang terkandung dalam tembang macapat tersebut.
Filsafat kehidupan dalam judul tembang macapat berhasil disajikan Suwardi dalam paparan ilmiah berjudul Wawasan Hidup Jawa dalam Tembang Macapat.
Ringkasan penelitian tersebut mendiskripsikan urutan tembang macapat sebagai wujud gambaran perjalanan hidup manusia.
1. Maskumambang
Gambaran manusia saat berada di alam ruh. Suatu saat ruh tersebut ditanamkan dalam rahim/ gua garba Ibu yang sedang hamil.
Maskumambang merupakan awal cikal bakal kehidupan manusia di alam dunia. Dalam ilmu Psikologi Manusia, masa ini disebut dengan masa pranatal.
Baca Juga: Bentuknya Mirip, Tapi Hal Berikut yang Membedakan Slenthem dan Gender dalam Gamelan Jawa
2. Mijil
Ilustrasi proses kelahiran manusia digambarkan dalam judul tembang ini. Mijil, mbrojol atau mencolot merupakan ungkapan makna dari judul tembang ini.
Kelahiran anak ini adalah awal manusia menghadapi masalah di dunia. Permasalah itu timbul dari rasa dan pola pikir yang telah menjadi bekal manusia sejak awal.
3. Sinom
Sinom berarti muda. Judul ini menggambarkan kehidupan manusia saat memasuki masa remaja. Kreatif, beringas, bersemangat, dan bersemangat merupakan sifat-sifat tembang tersebut.
Pada masa ini manusia belum sepenuhnya terbebani oleh tanggung jawab di dunia.
Baca Juga: Inilah Perbedaan Gamelan Jawa dan Gamelan Sunda, Ternyata Filosofinya Bertolak Belakang
4. Kinanthi
Masa pembentukan jatidiri dan meniti jalan menuju cita-cita. Kinanti berasal dari kata kanthi atau tuntun yang bermakna membutuhkan tuntunan atau jalan yang benar, agar cita-cita yang diidam-idamkan dapat terwujud dengan baik.
Para penuntun adalah lingkungan sekitar manusia tersebut. lingkungan bertanggu jawab atas segala perkembangan sikap yang dimiliki manusia bersangkutan.
5. Asmaradana
Masa ini merupakan masa manusia mencari kesinambungan rasa dan kenyamanan. Dorongan tersebut didasarkan pada gambaran rasa kesepian, mencari kebahagiaan, maupun pengayoman.
Baca Juga: Apa Saja Alat Musik Seperangkat Gamelan? Nomor 3 Jadi Nama Salah Satu Anggota Wali Sanga
Hal tersebut hanya dapat ditemukan pada diri pasangan yang berlawanan jenis.
6. Gambuh
Awal kata gambuh adalah jumbuh (bersatu) yang artinya komitmen untuk menyatukan cinta dalam satu biduk rumah tangga.
Fase ini adalah fase kegiatan manusia yang menginginkan gaya dan suasana baru dalam kehidupannya.
Gaya dan kehidupan baru diharapkan dapat membawa dampak yang positif bagi perkembangan kehidupan manusia tersebut.
7. Dhandhanggula
Dhandhanggula berasal dari kata dhandhang dan gula. Penemuan dalam kamus bahasa Jawa, kata dhandhang memiliki makna burung gagak. Arti tersebut tidak tepat untuk menerjemahkan filosofi kehidupan.
Jika dilihat dari bentuk kata, kata dhandhang berasal dari akar kata dhang yang berarti ‘halang’.
Baca Juga: Instrumen Gamelan Sudah Ada Sejak Era Hindu-Budha, Relief Candi Ini Buktinya
Apabila benar demikian, kata dhandhang mungkin saja adalah wujud perulanga kata (dwilingga) dari dhang, yaitu dhang-dhang yang berarti ‘terhalang-halangi’.
Berdasarkan penjabaran pengertian tersebut, makna dhandhanggula memiliki filosofi kehidupan manusia yang terhalang oleh keindahan dan kebahagiaan dunia.
8. Durma
Sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah maka kita harus sering Durma berasal dari kata darma atau sedekah berbagi kepada sesama.
Baca Juga: Gamelan Jawa Timuran Berbeda dengan Jawa Tengah, Ternyata Hal Ini Jadi Pemicunya
Dengan berderma kita tingkatkan empati sosial kita kepada saudara-saudara kita yang kekurangan, mengulurkan tangan berbagi kebahagiaan.
Serta dapat meningkatkan kepekaan jiwa dan kepedulian kita terhadap kondisi-kondisi masyarakat disekitar kita.
9. Pangkur
Pangkur atau mungkur memiliki makna menyingkirkan hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang menggerogoti jiwa kita.
Pada saatnya manusia harus belajar meninggalkan keduniawian dan meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan yang Mahaesa.
10. Megatruh
Megatruh atau megat ruh berarti terpisahnya nyawa dari raga. Fase ini adalah masa sulit yang harus dihadapi semua manusia.
11. Pocung
Tembang pocung memiliki makna akhir kehidupan manusia.