Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi Cuan Karya Ibu-Ibu PKK Jadi Andalan Produk Desa

Gunawan Awan • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:35 WIB
LADANG RUPIAH: Minyak jelanta di Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, diolah kembali jadi lilin.(GUNAWAN/ RADAR TRENGGALEK)
LADANG RUPIAH: Minyak jelanta di Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, diolah kembali jadi lilin.(GUNAWAN/ RADAR TRENGGALEK)

DURENAN, Radar Trenggalek – Limbah minyak goreng bekas alias minyak jelantah yang biasanya dibuang begitu saja, kini di tangan ibu-ibu Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, justru berpotensi menjadi pundi-pundi rupiah.

Berawal dari program kerja (proker) kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa, limbah dapur tersebut berhasil disulap menjadi produk UMKM berupa lilin aromaterapi yang cantik dan bernilai jual.

Inovasi bernilai ekonomis ini bermula saat tim KKN menggelar pelatihan pengolahan limbah minyak di Desa Karanganom. Pelatihan tersebut diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri dari kader kesehatan dan penggerak PKK Desa Karanganom. Siapa sangka, antusiasme peserta begitu tinggi hingga memantik semangat ibu-ibu PKK untuk melangkah lebih jauh.

Perangkat Desa Karanganom, Dian Risnawati mengungkapkan, ide tersebut awalnya memang merupakan inisiasi dari mahasiswa KKN. Namun, melihat potensi dan nilai manfaatnya yang besar, Tim Penggerak PKK Desa Karanganom tergerak untuk menjadikannya sebagai produk unggulan desa.

Baca Juga: DPRD Trenggalek Minta Dapur SPPG Diawasi

"Awalnya ini proker dari adik-adik KKN. Mereka mengajari kader kesehatan dan ibu-ibu PKK cara memanfaatkan jelantah. Ternyata hasilnya sangat menarik dan ibu-ibu PKK sangat antusias. Dari situ timbul keinginan untuk memproduksi lagi secara mandiri agar bisa dijadikan produk karya khas PKK Karanganom," ujar Dian Risnawati, Kamis (20/8).

Proses pembuatannya pun terbilang ramah lingkungan dan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat. Minyak jelantah sisa penggorengan terlebih dahulu direndam dengan arang aktif selama minimal 1x24 jam untuk menghilangkan bau tengik dan menjernihkan warnanya. Setelah disaring, minyak tersebut dicampur dengan parafin wax dan stearic acid, lalu dipanaskan dengan teknik steam.

Untuk mempercantik tampilan, adonan diberi pewarna dan ditambahi essential oil sebagai wewangian aromaterapi sebelum dituang ke dalam cetakan dan dipasangi sumbu. Tak lupa, hiasan estetis ditambahkan di atas lilin untuk meningkatkan daya tarik visual produk.

Melihat tingginya potensi pasar untuk produk home decor dan wewangian relaksasi, PKK Desa Karanganom dibantu penuh oleh tim KKN kini tengah menyiapkan produksi secara lebih matang. Langkah ini dilakukan bukan tanpa alasan.

Baca Juga: HUT PAN ke-28, DPD PAN Trenggalek Gelar Tasyakuran dan Santunan Anak Yatim

Pasalnya, produk lilin aromaterapi jelantah karya Karanganom ini dijadwalkan akan dipamerkan dan dijual dalam ajang bergengsi tahunan, Expo Durenan, dalam waktu dekat.

Dengan mengusung semangat "Mengubah Jelantah menjadi Rupiah", inovasi ini tidak hanya menjadi solusi mengatasi pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah minyak sembarangan, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi bagi perempuan di desa.

Lewat ajang Expo Durenan mendatang, Desa Karanganom optimistis lilin aromaterapi buatan ibu-ibu PKK ini mampu menyedot perhatian pengunjung dan membawa nama desa semakin dikenal sebagai Desa Kreatif dan Mandiri. (gun/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
EkonomiKreatif MinyakJelantah LilinAromaterapi UMKMDesa