KOTA, Radar Trenggalek – Kekeringan yang terjadi di wilayah Bumi Menak Sopal kian hari kian parah. Buktinya, kekeringan berdampak terhadap 23.726 jiwa hingga Kamis (10/9) kemarin.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, kekeringan telah berdampak terhadap 9.308 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 42 desa pada 12 kecamatan. Wilayah Kecamatan Panggul menjadi wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak yakni mencapai 13 desa.
“Secara data, kekeringan merata, dan Panggul masih menjadi wilayah dengan dampak paling parah karena jumlah desa yang mengalami krisis air bersih paling banyak dibandingkan wilayah lainnya,“ ungkap Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek St. Triadi Atmono.
Kondisi tersebut membuat Panggul menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dalam penanganan kekeringan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Baca Juga: Korsleting, Rumah Terbakar, Kerugian Tembus Rp1,5 M
“Panggul memang menjadi atensi khusus kami. Jumlah desa terdampak di sana paling banyak dibanding kecamatan lain sehingga kebutuhan air bersihnya juga paling besar,” kata Triadi.
Besarnya dampak kekeringan di Panggul juga terlihat dari distribusi air bersih yang telah dilakukan BPBD. Hingga 10 September 2026, BPBD telah menyalurkan 1.854.000 liter air bersih melalui 392 rit pengiriman ke 37 desa di 10 kecamatan.
Dari jumlah tersebut, Panggul menjadi penerima distribusi terbesar. Sebanyak 1.098.000 liter air bersih telah dikirim ke wilayah tersebut melalui 229 rit dropping. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan Kecamatan Dongko yang menerima 219.000 liter melalui 46 rit dan Watulimo sebanyak 124.000 liter melalui 31 rit.
“Hampir 60 persen dari total air bersih yang kami distribusikan itu memang terserap di Panggul. Ini menunjukkan tingkat kebutuhan di sana memang paling tinggi,” ujar Triadi.
Baca Juga: SOP MBG Masih Diabaikan
Menurut Triadi, distribusi air bersih dilakukan secara bertahap dengan menggunakan armada tangki. Air kemudian disalurkan ke tandon-tandon yang telah disiapkan warga sebelum dimanfaatkan oleh masyarakat yang terdampak kekeringan.
Penanganan tidak hanya mengandalkan personel BPBD. Personel gabungan dari BPBD, TNI, serta relawan Satgas Bencana Kekeringan terus disiagakan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat dipenuhi, terutama di wilayah yang mengalami dampak paling parah.
BPBD juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan kebutuhan tambahan distribusi apabila kondisi kekeringan semakin meluas atau kebutuhan air masyarakat meningkat.
“Kami akan terus memantau perkembangan di lapangan. Jika kebutuhan meningkat, dropping air akan kami tambah frekuensinya,” pungkas pria yang dipercaya menjadi Pj Sekda Trenggalek ini. (jaz/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK