Asal Usul Trenggalek, Legenda Menak Sopal dan Bendungan Bagong yang Menjadi Cikal Bakal Nama Daerah

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 18:00 WIB
Legenda asal usul Trenggalek mengisahkan Menak Sopal, Bendungan Bagong, dan perubahan kata Teranging Penggalih yang menjadi nama Trenggalek (Pinterest).
Legenda asal usul Trenggalek mengisahkan Menak Sopal, Bendungan Bagong, dan perubahan kata Teranging Penggalih yang menjadi nama Trenggalek (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Legenda asal usul Trenggalek mengisahkan perjalanan Menak Sopal, seorang pemuda sakti yang berhasil mengatasi krisis air dengan membangun Bendungan Bagong. Kisah yang berawal dari Kerajaan Majapahit ini juga menjelaskan asal mula nama Trenggalek yang disebut berasal dari ungkapan "Teranging Penggalih" yang lambat laun berubah menjadi Trenggalek.

Cerita rakyat tersebut diawali dari kondisi Kerajaan Majapahit yang tengah dilanda kesedihan akibat sakit yang diderita putri raja, Raden Ayu Saraswati. Penyakit yang dialaminya tidak dapat disembuhkan oleh para tabib sehingga sang raja akhirnya mengambil keputusan untuk menitipkan putrinya di sebuah padepokan.

Legenda ini kemudian berkembang menjadi kisah tentang pengorbanan, kepemimpinan, serta lahirnya Bendungan Bagong yang membantu kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Cegah Mafia Tanah, Genjot Digitalisasi Sertifikat

Putri Majapahit Mengidap Penyakit Misterius

Dikisahkan, di wilayah barat Bumi Perdikan Sendang Kamulyan berdiri sebuah padepokan bernama Padepokan Sinawang yang berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Saat itu, Kerajaan Majapahit sedang dirundung duka karena putri tunggal raja, Raden Ayu Saraswati, menderita penyakit yang tidak biasa.

Tubuh sang putri mengeluarkan bau amis yang sangat menyengat sehingga siapa pun yang berada di dekatnya merasa tidak nyaman.

Sang raja telah memanggil tabib dari berbagai daerah untuk mengobati putrinya. Namun, seluruh upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Atas saran patih, sang putri akhirnya dititipkan di Padepokan Sinawang agar mendapatkan perawatan dari Ki Ageng Sinawang.

Dijuluki karena Bau Amis yang Menyengat

Ki Ageng Sinawang menerima kedatangan Raden Ayu Saraswati dengan hormat.

Seluruh murid padepokan juga ikut menyambut sang putri. Namun mereka tidak mampu menahan bau amis yang keluar dari tubuhnya.

Selama tinggal di padepokan, Raden Ayu Saraswati menjalani pengobatan dengan cara berendam di Sungai Bagong.

Meski dilakukan dalam waktu lama, bau amis tersebut tidak kunjung hilang. Bahkan kondisinya disebut semakin menyengat hingga membuat sang putri hampir kehilangan harapan.

Pertemuan dengan Pemuda Misterius

Memasuki hari ke-40 masa pengobatan, Raden Ayu Saraswati didatangi seorang pemuda tampan yang berenang menghampirinya.

Pemuda itu bertanya mengenai penyebab bau amis yang memenuhi kawasan sungai.

Setelah mendengar penjelasan sang putri, pemuda tersebut memasukkan kedua tangannya ke dalam air Sungai Bagong.

Air sungai mendadak bergejolak layaknya mendidih, tetapi tetap terasa sejuk.

Beberapa saat kemudian, air kembali tenang dan bau amis yang selama ini melekat pada tubuh Raden Ayu Saraswati seketika menghilang.

Baca Juga: Backlog Perumahan Capai 118 Ribu

Menikah dan Menjalani Kehidupan di Padepokan

Singkat cerita, Raden Ayu Saraswati kemudian menikah dengan pemuda tersebut.

Raja Majapahit datang memberikan restu atas pernikahan putrinya dan mengizinkan keduanya tinggal di Padepokan Sinawang.

Ketika Raden Ayu Saraswati mengandung, sang suami memutuskan bertapa agar anak yang akan lahir kelak menjadi pribadi yang berguna bagi banyak orang.

Sebelum berangkat bertapa, ia berpesan agar istrinya tidak mengambil jemuran sebelum senja serta tidak memasuki tempat pertapaannya.

Pelanggaran Pesan dan Lahirnya Menak Sopal

Pada awalnya, Raden Ayu Saraswati mematuhi pesan tersebut.

Namun menjelang kelahiran anaknya, ia mulai melanggarnya.

Ia mengambil jemuran sebelum senja dan akhirnya nekat mendatangi tempat pertapaan suaminya karena rasa rindu.

Di lokasi itu, ia terkejut melihat seekor buaya putih berada di tempat pertapaan.

Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal.

Setiap malam, tubuh bayi tersebut memancarkan cahaya menyerupai kunang-kunang yang diyakini menjadi pertanda bahwa kelak ia akan menjadi sosok luar biasa.

Menguasai Ilmu Warisan Ayahnya

Saat dewasa, Menak Sopal tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan mudah menguasai berbagai ilmu yang diajarkan Ki Ageng Sinawang.

Ia juga mewarisi ilmu Malih Rupa dari ayahnya.

Dengan ilmu tersebut, Menak Sopal mampu mengubah wujudnya menjadi seekor harimau.

Meski memiliki kesaktian, Menak Sopal dikenal sebagai pribadi yang baik hati dan gemar membantu masyarakat.

Baca Juga: Mengaji Bisa lewat Genggaman Musyafa Hadirkan Kamus Al Munawwir Digital

Berusaha Mengatasi Krisis Air

Suatu ketika, masyarakat di sekitar Padepokan Sinawang mengalami kesulitan air akibat kondisi Sungai Bagong.

Kekurangan air bahkan memicu perselisihan di antara warga.

Melihat kondisi tersebut, Menak Sopal berinisiatif mencari solusi.

Setelah mempelajari keadaan sungai selama beberapa hari, ia memutuskan membangun bendungan.

Ia kemudian mengajak para pemuda desa dan murid Padepokan Sinawang bergotong royong membangun bendungan di Sungai Bagong.

Bendungan Terus Dirusak Buaya Putih

Pembangunan bendungan berhasil diselesaikan.

Namun pada malam harinya, bendungan itu tiba-tiba roboh.

Peristiwa serupa terus berulang setiap kali bendungan selesai diperbaiki.

Merasa ada kejanggalan, Menak Sopal menggunakan kemampuan batinnya.

Ia mengetahui bahwa bendungan tersebut dirusak seekor buaya putih raksasa yang menghantamnya menggunakan ekor.

Kepala Gajah Putih Menjadi Syarat

Menak Sopal kemudian menemui buaya putih tersebut.

Dari pertemuan itu diketahui bahwa buaya putih meminta kepala gajah putih.

Satu-satunya pemilik gajah putih di wilayah itu adalah Mbok Rondo Krandon.

Menak Sopal lalu mendatangi Mbok Rondo untuk meminjam gajah putih tersebut.

Setelah memperoleh gajah itu, Menak Sopal menyembelihnya lalu melemparkan kepalanya ke Sungai Bagong.

Baca Juga: Wujudkan Literasi dan Prestasi Peserta Didik

Bendungan Bagong Akhirnya Berdiri Kokoh

Setelah permintaan buaya putih dipenuhi, masyarakat kembali membangun bendungan.

Kali ini bendungan tidak lagi roboh.

Bendungan tersebut kemudian dikenal dengan nama Bendungan Bagong.

Keberadaannya mampu menampung aliran sungai sehingga kebutuhan air masyarakat dan para petani dapat terpenuhi.

Konflik dengan Mbok Rondo Krandon

Beberapa waktu kemudian, Mbok Rondo Krandon menunggu Menak Sopal mengembalikan gajah putih miliknya.

Setelah mengetahui gajah tersebut telah disembelih, ia marah.

Mbok Rondo kemudian mengajak penduduk desa menyerang Padepokan Sinawang.

Dalam pengejaran tersebut, Menak Sopal memilih menghindari perlawanan.

Dengan ilmu Malih Rupa, ia melarikan diri hingga akhirnya masuk ke Sungai Bagong.

Di dalam sungai, Menak Sopal diselamatkan oleh buaya putih dan dibawa ke tempat yang disebut Sumur Gumuling.

Sementara itu, Ki Ageng Sinawang menjelaskan kepada Mbok Rondo bahwa pengorbanan gajah putih dilakukan demi menghentikan perusakan bendungan dan memenuhi kebutuhan air masyarakat.

Asal Usul Nama Trenggalek

Setelah mengetahui alasan di balik tindakan Menak Sopal, Mbok Rondo akhirnya memahami tujuan pengorbanan tersebut.

Dalam kisah itu, Ki Ageng Sinawang mengucapkan kalimat "Teranging Penggalih" sebagai ungkapan atas kebesaran hati Mbok Rondo Krandon.

Seiring berjalannya waktu, penyebutan "Teranging Penggalih" disebut mengalami perubahan pelafalan hingga akhirnya dikenal sebagai Trenggalek.

Legenda tersebut menjadi salah satu cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat dan mengisahkan asal usul nama Trenggalek sekaligus perjuangan Menak Sopal dalam membantu warga mengatasi krisis air melalui pembangunan Bendungan Bagong.

Baca Juga: Durenan Masuk Prioritas Penangan Kawasan Kumuh

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Legenda Trenggalek Menak sopal bendungan bagong Asal Usul Trenggalek Cerita Rakyat Trenggalek