Intermittent Fasting Diklaim Efektif untuk Menurunkan Berat Badan, Kenali 3 Metode Populer dan Manfaatnya

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:10 WIB
Intermittent fasting diklaim efektif membantu menurunkan berat badan. Kenali metode 16/8, Eat Stop Eat, 5:2, serta manfaatnya bagi tubuh (Pinterest).
Intermittent fasting diklaim efektif membantu menurunkan berat badan. Kenali metode 16/8, Eat Stop Eat, 5:2, serta manfaatnya bagi tubuh (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Intermittent fasting menjadi salah satu metode diet yang banyak diminati karena dinilai efektif membantu menurunkan berat badan tanpa harus terlalu membatasi jenis makanan yang dikonsumsi. Berbeda dengan pola diet pada umumnya, intermittent fasting lebih menekankan pada pengaturan waktu makan dibandingkan memilih makanan tertentu.

Metode intermittent fasting dilakukan dengan berpuasa dalam rentang waktu tertentu, baik setiap hari maupun beberapa kali dalam sepekan. Selama periode puasa, seseorang hanya diperbolehkan mengonsumsi air putih atau minuman tanpa kalori hingga waktu makan kembali tiba.

Popularitas intermittent fasting terus meningkat karena dianggap lebih mudah diterapkan dibandingkan sebagian metode diet lainnya. Selain membantu mengurangi asupan kalori, pola makan ini juga disebut mampu mendorong tubuh membakar lemak secara lebih optimal.

Mengenal Konsep Intermittent Fasting

Intermittent fasting merupakan pola makan yang mengatur kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berpuasa. Fokus utama metode ini bukan pada pembatasan jenis makanan, melainkan pengaturan jadwal makan dalam sehari atau seminggu.

Berbeda dengan diet konvensional yang biasanya menitikberatkan pada pengurangan makanan tertentu, intermittent fasting memberi keleluasaan terhadap pilihan makanan selama masih berada dalam waktu makan yang telah ditentukan.

Metode ini memiliki beberapa variasi yang dapat dipilih sesuai kemampuan dan kebiasaan masing-masing orang. Tiga di antaranya menjadi metode yang paling banyak digunakan.

Metode 16/8, Pilihan yang Paling Populer

Metode pertama adalah pola 16/8. Dalam metode ini, seseorang menjalani puasa selama 16 jam dan memiliki waktu makan selama delapan jam setiap hari.

Sebagai contoh, apabila seseorang mulai makan pada pukul 12.00 siang, maka ia dapat mengonsumsi makanan hingga pukul 20.00 malam. Setelah itu, ia harus kembali berpuasa selama 16 jam hingga pukul 12.00 siang keesokan harinya.

Metode ini banyak dipilih karena sebagian besar waktu puasa berlangsung saat tidur. Dengan demikian, rasa lapar dinilai lebih mudah dikendalikan dibandingkan metode lainnya.

Selama menjalani puasa, konsumsi air putih maupun minuman tanpa kalori tetap diperbolehkan sehingga tubuh tetap memperoleh cairan yang cukup.

Baca Juga: Jadwal Semifinal SEA V League 2026 Putra Leg 2 Hari Ini: Indonesia vs Vietnam Main Jam 19.00 WIB

Eat Stop Eat, Puasa 24 Jam dalam Sepekan

Metode berikutnya dikenal dengan nama Eat Stop Eat. Sesuai namanya, metode ini menerapkan pola makan, berhenti makan, kemudian kembali makan.

Berbeda dengan metode 16/8, Eat Stop Eat mengharuskan seseorang berpuasa selama 24 jam penuh sebanyak satu hingga dua kali dalam satu minggu.

Sebagai ilustrasi, apabila puasa dimulai pada pukul 20.00 malam, maka seseorang baru diperbolehkan makan kembali pada pukul 20.00 malam di hari berikutnya.

Durasi puasa yang lebih panjang membuat metode ini dinilai lebih menantang. Seseorang harus mampu mengendalikan rasa lapar dalam waktu yang jauh lebih lama dibandingkan pola 16/8.

Karena tingkat kesulitannya lebih tinggi, metode ini biasanya dipilih oleh mereka yang sudah terbiasa menjalani intermittent fasting.

Diet 5:2 Membatasi Kalori Selama Dua Hari

Selain dua metode sebelumnya, terdapat pula metode 5:2 yang juga cukup populer.

Dalam pola ini, seseorang dapat makan secara normal selama lima hari dalam seminggu. Namun pada dua hari lainnya, jumlah asupan dibatasi hanya sekitar 500 hingga 600 kalori per hari.

Sekilas metode ini terlihat lebih mudah karena tidak mengharuskan puasa penuh. Namun pelaksanaannya membutuhkan kedisiplinan yang tinggi.

Pengguna harus menghitung jumlah kalori dari setiap makanan yang dikonsumsi agar tidak melebihi batas yang telah ditentukan.

Meski membutuhkan perhatian lebih terhadap jumlah kalori, metode ini disebut tetap memberikan hasil yang efektif bagi pelaku diet.

Mengapa Intermittent Fasting Dinilai Efektif?

Salah satu alasan intermittent fasting banyak diminati adalah manfaat yang dikaitkan dengan proses pembakaran lemak di dalam tubuh.

Selama menjalani periode puasa, kadar insulin di dalam tubuh disebut mengalami penurunan. Pada saat yang sama, jumlah growth hormone atau hormon pertumbuhan meningkat.

Perubahan tersebut diklaim membantu tubuh membakar lemak dengan lebih baik sehingga mendukung proses penurunan berat badan.

Selain itu, pembatasan waktu makan secara otomatis membuat kesempatan untuk mengonsumsi makanan menjadi lebih sedikit.

Akibatnya, jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh cenderung berkurang dibandingkan pola makan tanpa pengaturan waktu.

Berkurangnya total kalori yang dikonsumsi inilah yang disebut turut berkontribusi terhadap proses penurunan berat badan.

Baca Juga: 5 Tanaman Liar Berkhasiat untuk Kesehatan, Dokter Ungkap Manfaat Meniran hingga Rumput Teki

Pengaturan Waktu Makan Menjadi Kunci

Intermittent fasting tidak mengharuskan seseorang menghindari kelompok makanan tertentu. Yang menjadi perhatian utama adalah kapan waktu makan dimulai dan kapan harus berhenti makan.

Pendekatan tersebut membuat metode ini terasa berbeda dibandingkan pola diet yang mewajibkan pembatasan menu tertentu.

Bagi sebagian orang, konsep ini dianggap lebih sederhana karena hanya perlu mengikuti jadwal makan yang telah ditetapkan.

Meski demikian, setiap metode memiliki tingkat kesulitan yang berbeda sehingga perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.

Metode 16/8 dinilai paling mudah diterapkan karena sebagian besar waktu puasa berlangsung ketika tidur.

Sementara Eat Stop Eat membutuhkan komitmen lebih tinggi karena mengharuskan puasa selama satu hari penuh.

Adapun metode 5:2 menuntut ketelitian dalam menghitung kalori setiap makanan yang dikonsumsi pada dua hari pembatasan.

Tiga Metode dengan Karakteristik Berbeda

Ketiga metode intermittent fasting menawarkan pendekatan yang berbeda meski memiliki tujuan yang sama.

Metode 16/8 mengatur jendela makan harian selama delapan jam.

Eat Stop Eat menerapkan puasa 24 jam sebanyak satu hingga dua kali setiap minggu.

Sedangkan metode 5:2 lebih menekankan pembatasan kalori menjadi sekitar 500 hingga 600 kalori selama dua hari dalam seminggu.

Masing-masing metode memberikan fleksibilitas bagi pelakunya untuk memilih pola yang paling sesuai dengan rutinitas harian.

Intermittent Fasting Menjadi Alternatif Pola Diet

Bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan, intermittent fasting menjadi salah satu alternatif pola makan yang banyak dipilih.

Dengan mengatur waktu makan dan mengurangi total kalori yang dikonsumsi, metode ini disebut dapat membantu proses pembakaran lemak di dalam tubuh.

Selain itu, perubahan kadar insulin dan peningkatan growth hormone selama masa puasa disebut menjadi faktor yang mendukung efektivitas metode tersebut.

Pilihan metode dapat disesuaikan dengan tingkat kenyamanan masing-masing, mulai dari pola 16/8 yang relatif ringan, Eat Stop Eat yang lebih menantang, hingga metode 5:2 yang berfokus pada pembatasan kalori.

Pada akhirnya, intermittent fasting menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan diet konvensional. Alih-alih menentukan apa yang boleh dimakan, metode ini lebih menitikberatkan pada kapan seseorang sebaiknya makan dan kapan harus berpuasa.

Baca Juga: 5 Tanaman Liar Berkhasiat untuk Kesehatan, Dokter Ungkap Manfaat Meniran hingga Rumput Teki

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
metode intermittent fasting diet puasa manfaat intermittent fasting menurunkan berat badan Intermittent fasting