Intermittent Fasting Diklaim Efektif Turunkan Berat Badan, Ini Manfaat, Risiko, dan Cara Menjalankannya

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:15 WIB
Intermittent fasting disebut efektif membantu menurunkan berat badan. Simak manfaat, risiko, kelompok yang tidak disarankan, dan tips menjalankannya (Pinterest).
Intermittent fasting disebut efektif membantu menurunkan berat badan. Simak manfaat, risiko, kelompok yang tidak disarankan, dan tips menjalankannya (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Intermittent fasting menjadi salah satu metode diet yang masih populer untuk membantu menurunkan berat badan. Pola makan ini mengatur waktu makan dan waktu berpuasa, bukan sekadar membatasi jenis makanan. Menurut nutrisionis Dr. Andrea dari Jakarta Farises Klinik, metode ini dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan apabila dilakukan secara konsisten, benar, dan disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Dalam penjelasannya melalui DRV Channel, Dr. Andrea mengatakan intermittent fasting telah menjadi tren diet selama hampir satu dekade. Namun, ia mengingatkan bahwa metode ini bukan solusi instan dan tidak selalu cocok untuk semua orang.

Selain membantu proses penurunan berat badan, intermittent fasting juga disebut dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan risiko diabetes, hingga mendukung kesehatan jantung. Meski demikian, manfaat tersebut baru dapat diperoleh apabila pola makan dijalankan secara tepat dan tetap dibarengi gaya hidup sehat.

Apa Itu Intermittent Fasting?

Intermittent fasting merupakan pola diet yang mengatur waktu makan dalam satu hari atau satu minggu. Fokus utamanya bukan membatasi jenis makanan tertentu, melainkan menentukan kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berpuasa.

Menurut Dr. Andrea, terdapat beberapa pola intermittent fasting yang umum diterapkan. Salah satunya adalah berpuasa selama 16 jam dan mengonsumsi makanan hanya dalam jendela makan delapan jam setiap hari.

Selain itu, ada pula metode yang lebih ketat dengan puasa selama 20 jam dan waktu makan hanya empat jam. Metode lainnya adalah pola makan normal selama lima hari dalam seminggu, kemudian membatasi asupan kalori pada dua hari sisanya.

Perbedaan waktu makan tersebut membuat tubuh memasuki fase metabolisme yang berbeda dibandingkan pola makan biasa.

Baca Juga: 15 Tempat Wisata Favorit di Jawa Timur, dari Gunung Bromo hingga Gili Iyang yang Dijuluki Pulau Oksigen

Bagaimana Intermittent Fasting Membantu Menurunkan Berat Badan?

Dr. Andrea menjelaskan bahwa ketika seseorang tidak mengonsumsi makanan dalam periode tertentu, kadar insulin di dalam tubuh akan menurun.

Saat kadar insulin berkurang, tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Proses inilah yang menyebabkan pembakaran lemak meningkat sehingga membantu menurunkan berat badan.

Selain berkontribusi terhadap penurunan berat badan, mekanisme tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan sensitivitas insulin.

Dengan sensitivitas insulin yang lebih baik, risiko seseorang mengalami diabetes disebut dapat menurun. Tidak hanya itu, intermittent fasting juga dikatakan mampu membantu mengurangi zat-zat peradangan di dalam tubuh.

Penelitian Menunjukkan Beragam Manfaat

Menurut Dr. Andrea, berbagai penelitian telah menunjukkan manfaat intermittent fasting apabila dilakukan secara benar dan konsisten.

Manfaat pertama yang paling sering dikaitkan dengan metode ini adalah membantu proses penurunan berat badan melalui peningkatan pembakaran lemak.

Selain itu, intermittent fasting juga disebut berpotensi membantu mencegah terjadinya diabetes dengan meningkatkan sensitivitas insulin.

Manfaat lainnya adalah mendukung kesehatan jantung. Hal ini dikaitkan dengan kemampuannya dalam membantu menurunkan tekanan darah serta kadar kolesterol.

Meskipun demikian, hasil yang diperoleh setiap orang tidak selalu sama.

Ada individu yang merasa tubuhnya lebih bugar setelah menjalani intermittent fasting. Namun, ada pula yang memerlukan waktu lebih lama agar tubuh dapat menyesuaikan diri dengan pola makan tersebut.

Adaptasi Tubuh pada Minggu Pertama

Dr. Andrea menjelaskan bahwa pada satu hingga dua minggu pertama menjalani intermittent fasting, tubuh biasanya masih berada dalam tahap adaptasi.

Pada masa tersebut, seseorang dapat merasakan tubuh lebih lemas, keinginan makan atau craving meningkat, emosi menjadi lebih sensitif, hingga energi yang terasa kurang stabil.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh terhadap perubahan pola makan.

Meski demikian, setiap orang tetap perlu memperhatikan respons tubuh masing-masing selama menjalani program diet ini.

Baca Juga: Daun Pegagan Disebut Bermanfaat untuk Otak hingga Kulit, Dokter Jelaskan Cara Mengolahnya Menjadi Ramuan Herbal

Tidak Cocok untuk Semua Orang

Meski memiliki berbagai manfaat, intermittent fasting tidak dianjurkan diterapkan oleh semua kelompok.

Dr. Andrea menegaskan bahwa penderita penyakit kronis tertentu, termasuk diabetes, tidak boleh langsung menjalankan intermittent fasting tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.

Menurutnya, penderita diabetes memerlukan penyesuaian jendela makan sesuai kondisi tubuh dan jenis diabetes yang dialami. Karena itu, konsultasi dengan dokter atau nutrisionis menjadi langkah penting sebelum memulai diet tersebut.

Selain penderita diabetes, intermittent fasting juga tidak disarankan untuk anak-anak dan remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan.

Kelompok lain yang sebaiknya tidak menjalankan metode ini adalah ibu hamil serta ibu yang sedang menyusui.

Dr. Andrea juga menyebut penderita sakit maag perlu berhati-hati. Puasa dalam waktu yang cukup lama berpotensi memicu peningkatan asam lambung sehingga dapat memperburuk peradangan pada lambung.

Karena alasan tersebut, pemilihan metode diet sebaiknya selalu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Tips Memulai Intermittent Fasting

Bagi masyarakat yang ingin mencoba intermittent fasting, Dr. Andrea membagikan beberapa langkah agar proses adaptasi berjalan lebih nyaman.

Langkah pertama adalah memulai secara bertahap.

Ia menyarankan agar seseorang tidak langsung menerapkan jendela makan yang terlalu sempit. Sebagai awal, waktu makan dapat dibatasi selama 10 jam dalam sehari.

Apabila tubuh sudah mulai terbiasa, jendela makan dapat dipersempit menjadi delapan jam, kemudian enam jam secara bertahap.

Menurutnya, pendekatan bertahap akan membantu tubuh beradaptasi sehingga tidak terasa terlalu ekstrem.

Tetap Pilih Makanan Sehat

Dr. Andrea menegaskan bahwa keberhasilan intermittent fasting tidak hanya ditentukan oleh waktu makan.

Pemilihan jenis makanan tetap memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan sekaligus mendukung penurunan berat badan.

Ia menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan pembatasan kalori dan konsumsi makanan sehat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan hanya menjalankan intermittent fasting dengan pilihan makanan yang bebas.

Karena itu, selama berada dalam jendela makan, masyarakat tetap dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Baca Juga: 5 Tanaman Liar Berkhasiat untuk Kesehatan, Dokter Ungkap Manfaat Meniran hingga Rumput Teki

Perbanyak Minum Air Putih

Tips berikutnya adalah memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi.

Menurut Dr. Andrea, intermittent fasting bukan berarti seseorang tidak boleh minum sama sekali.

Air putih tetap dapat dikonsumsi selama menjalani periode puasa agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.

Menjaga asupan cairan dinilai penting untuk membantu tubuh tetap berfungsi secara optimal selama menjalankan pola makan tersebut.

Tidur Cukup dan Rutin Berolahraga

Selain mengatur pola makan, Dr. Andrea juga mengingatkan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat secara menyeluruh.

Tidur yang cukup dan olahraga ringan disebut dapat membantu proses penurunan berat badan selama menjalani intermittent fasting.

Menurutnya, kombinasi antara pola makan yang baik, aktivitas fisik, serta istirahat yang memadai akan memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan hanya mengandalkan pengaturan waktu makan.

Intermittent Fasting Bukan Jalan Pintas

Di akhir penjelasannya, Dr. Andrea menekankan bahwa intermittent fasting bukanlah jalan pintas untuk memperoleh berat badan ideal.

Metode ini merupakan salah satu pilihan yang dapat digunakan sebagai langkah awal menuju pola hidup sehat.

Keberhasilan menjalankannya tetap bergantung pada konsistensi, pemilihan makanan bergizi, penerapan gaya hidup sehat, serta kemampuan seseorang dalam mengenali kondisi tubuhnya sendiri.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter atau nutrisionis sebelum memulai intermittent fasting agar pola diet yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.

Baca Juga: Jadwal Semifinal SEA V League 2026 Putra Leg 2 Hari Ini: Indonesia vs Vietnam Live Moji TV Jam 19.00 WIB

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
manfaat intermittent fasting diet intermittent fasting penurunan berat badan cara intermittent fasting Intermittent fasting