TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Wisata Goa Lowo kembali mencuri perhatian setelah sebuah video perjalanan wisata keluarga memperlihatkan keindahan kawasan gua yang berada di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Dalam perjalanan tersebut, pengunjung membagikan pengalaman menjelajahi Goa Lowo, mulai dari jembatan masuk, lorong bawah tanah, hingga formasi stalaktit dan stalagmit yang menjadi daya tarik utama.
Sejak memasuki kawasan wisata, rombongan terlihat menikmati panorama perbukitan di sekitar lokasi sebelum akhirnya tiba di pintu masuk Goa Lowo. Mereka kemudian membeli tiket masuk dan parkir sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan gua.
Dalam video itu juga diperlihatkan suasana alami Goa Lowo yang dipenuhi batuan kapur, lorong-lorong bawah tanah, tetesan air, serta mata air yang masih tampak jernih.
Pengunjung Menikmati Perjalanan Menuju Goa
Perjalanan menuju Goa Lowo diawali dengan pemandangan bukit yang terlihat jelas dari jalur menuju lokasi wisata. Pengunjung beberapa kali mengungkapkan kekaguman terhadap panorama alam di sekitar kawasan tersebut.
Setibanya di lokasi, rombongan terlebih dahulu membeli tiket masuk di loket wisata. Mereka menjelaskan bahwa tiket dihitung untuk tiga orang karena salah satu anggota keluarga masih berusia kecil.
Selain tiket masuk, pengunjung juga membeli tiket parkir kendaraan. Dalam percakapan disebutkan biaya parkir mobil sebesar Rp5.000.
Usai menyelesaikan proses pembelian tiket, perjalanan dilanjutkan menuju area utama Goa Lowo.
Menyeberangi Jembatan Menuju Kawasan Wisata
Salah satu pengalaman yang paling menarik perhatian adalah saat rombongan harus melewati sebuah jembatan sebelum memasuki kawasan wisata.
Beberapa anggota keluarga tampak berhati-hati ketika melintasi jembatan tersebut. Mereka mengaku sedikit gugup karena jalurnya terasa menantang.
Meski demikian, perjalanan tetap berlangsung lancar hingga seluruh rombongan berhasil mencapai area seberang.
Di sekitar kawasan wisata juga terlihat taman bermain yang cukup luas. Namun, pengunjung menilai kondisi taman tersebut tampak kurang terawat sehingga mereka memilih langsung menuju kawasan gua.
Baca Juga: Wujudkan Literasi dan Prestasi Peserta Didik
Lorong Bawah Tanah Menjadi Pengalaman Pertama
Sebelum memasuki ruang utama Goa Lowo, pengunjung terlebih dahulu melewati sebuah lorong atau terowongan.
Lorong tersebut memiliki pencahayaan sehingga masih cukup nyaman dilalui. Di sepanjang jalur juga terlihat beberapa area yang dijadikan lokasi berfoto.
Anak-anak yang ikut dalam perjalanan sempat merasa penasaran dengan kondisi di dalam gua. Mereka kemudian dijelaskan mengenai bentuk gua yang merupakan rongga alami di dalam batuan.
Selama perjalanan melewati lorong, suasana masih terasa aman sehingga rombongan terus melanjutkan eksplorasi menuju bagian dalam Goa Lowo.
Keindahan Stalaktit dan Stalagmit Jadi Daya Tarik
Memasuki area utama, perhatian pengunjung langsung tertuju pada formasi batuan yang menggantung di langit-langit gua.
Dalam penjelasan yang terdengar di video, batuan yang berada di bagian atas disebut sebagai stalaktit.
Sementara itu, formasi batuan yang tumbuh dari bawah dijelaskan sebagai stalagmit.
Pengunjung juga membahas proses terbentuknya kedua batuan tersebut. Mereka menyebut stalaktit dan stalagmit terbentuk dari tetesan air yang berlangsung dalam waktu sangat lama hingga akhirnya mengeras.
Di beberapa titik masih terlihat tetesan air yang terus menetes dari langit-langit gua.
Menurut penjelasan dalam video, tetesan air tersebut diyakini akan terus membentuk lapisan batuan baru seiring berjalannya waktu.
Suasana Goa Terasa Lembap dan Minim Cahaya
Selama berada di dalam Goa Lowo, pengunjung mengaku merasakan suasana yang berbeda dibandingkan lokasi wisata pada umumnya.
Kondisi di dalam gua terasa lembap karena tidak mendapatkan sinar matahari secara langsung.
Pencahayaan di area wisata sebagian besar berasal dari lampu yang dipasang di beberapa titik jalur pejalan kaki.
Meski suasana cukup gelap, jalur yang tersedia masih memungkinkan wisatawan berjalan dengan aman sambil menikmati pemandangan batuan di dalam gua.
Sesekali terdengar tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua sehingga semakin menambah kesan alami kawasan tersebut.
Baca Juga: Backlog Perumahan Capai 118 Ribu
Pengunjung Mengenang Kisah Persembunyian di Dalam Goa
Saat menjelajahi bagian yang lebih dalam, rombongan sempat membahas fungsi gua pada masa lampau.
Dalam percakapan disebutkan bahwa gua-gua seperti ini pernah dimanfaatkan sebagai tempat bersembunyi ketika menghadapi penjajah.
Menurut penjelasan tersebut, lorong-lorong alami dianggap dapat menjadi tempat perlindungan karena sulit diketahui dari luar.
Percakapan itu muncul ketika rombongan melewati beberapa celah batu yang terlihat cukup besar di sepanjang jalur wisata.
Ruang Goa yang Luas Memukau Pengunjung
Semakin jauh memasuki kawasan Goa Lowo, ukuran ruang di dalam gua tampak semakin besar.
Pengunjung beberapa kali mengungkapkan rasa kagumnya melihat langit-langit gua yang tinggi dengan dinding batu kapur yang menjulang.
Mereka juga memperhatikan banyaknya celah batu alami yang membentuk pemandangan unik di sepanjang perjalanan.
Meski begitu, rombongan tetap berjalan perlahan karena jalur di dalam gua cukup licin akibat kondisi yang lembap.
Beberapa anggota keluarga saling mengingatkan untuk berhati-hati saat melangkah.
Mata Air Alami Menutup Perjalanan
Menjelang akhir perjalanan, rombongan menemukan sebuah mata air yang berada di dalam kawasan Goa Lowo.
Air tersebut tampak jernih dan terus mengalir dari sela-sela batu.
Salah seorang pengunjung sempat bertanya apakah terdapat ikan di dalam mata air tersebut.
Namun, mereka memutuskan untuk membiarkan kondisi alam tetap apa adanya tanpa mengambil apa pun dari lokasi.
Keberadaan mata air itu menjadi penutup perjalanan eksplorasi Goa Lowo yang dipenuhi panorama batuan alami, lorong bawah tanah, serta suasana khas gua yang masih terjaga.
Bagi rombongan tersebut, pengalaman menjelajahi Goa Lowo menghadirkan kombinasi antara keindahan alam, edukasi mengenai proses terbentuknya stalaktit dan stalagmit, serta sensasi menyusuri lorong gua yang lembap dengan pencahayaan alami dari lampu-lampu di dalam kawasan wisata.
Baca Juga: Cegah Mafia Tanah, Genjot Digitalisasi Sertifikat
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest