
KOTA, Radar Trenggalek - Tidak semua kegemaran lahir dari cita-cita yang terpatri sejak kecil. Sebagian justru tumbuh dari persimpangan ketidakpastian, dorongan kawan, hingga rasa terpaksa yang pelan-pelan bermetamorfosis menjadi karya bermakna.
Perjalanan itulah yang dilakoni Tsabita Suhaila Umrotin (22), mahasiswi Program Studi PGSD STKIP PGRI Trenggalek.
Lahir dan tumbuh di tengah keluarga yang akrab dengan dunia seni—dengan sosok ayah seorang pelukis—tak lantas membuat Tsabita otomatis menggemari dunia kuas dan kanvas sejak dini.
Justru saat menginjak usia 16 tahun di kelas IX pondok pesantren, benih ketertarikan itu mulai menyembul.
Berawal dari dorongan serta ajakan teman-teman untuk mewakili lomba melukis di pondok, rasa penasaran dara muda ini mulai terusik.
Dari sekadar ketidaksengajaan dan rasa terpaksa, muncul letupan minat yang kemudian ia tekuni secara mendalam.
Baca Juga: Dari Meja Billiard hingga Panggung Fashion Show, Hanung Terus Merajut Prestasi
Langkah Tsabita kian mantap saat duduk di kelas XI. Kepercayaan dari pihak pesantren membawanya melangkah ke ajang Komsos Kreatif tingkat Kodim Tuban tahun 2021, di mana ia berhasil menyabet Juara 3 hingga melenggang ke tingkat Korem (Provinsi).
Pada tahun yang sama, ia juga dipercaya menjadi kontestan Porseni tingkat Kabupaten Tuban.
Pengalaman ini menjadi titik balik penting: hobinya bukan lagi sekadar pengisi waktu luang, melainkan keahlian yang dapat terus diasah.
Konsistensi Tsabita kian teruji lewat gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) cabang seni kaligrafi dalam kurun waktu 2021 hingga 2026.



