Rekomendasi Film Indonesia Terbaik Menurut Ngelantur, The Raid hingga Denias Jadi Pilihan Utama

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 12:30 WIB
Rekomendasi film Indonesia terbaik versi Ngelantur menempatkan Denias, The Raid, dan Daun di Atas Bantal sebagai film yang wajib ditonton (Pinterest).
Rekomendasi film Indonesia terbaik versi Ngelantur menempatkan Denias, The Raid, dan Daun di Atas Bantal sebagai film yang wajib ditonton (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Rekomendasi film Indonesia terbaik menjadi pembahasan utama dalam video terbaru kanal YouTube Ngelantur. Kreator konten tersebut membagikan daftar film favorit versinya, mulai dari film aksi, drama, hingga film bertema pendidikan, lengkap dengan alasan mengapa karya-karya tersebut layak ditonton.

Dalam video tersebut, pembuat konten menegaskan bahwa daftar yang disampaikan bersifat subjektif. Ia mengakui belum menonton seluruh film Indonesia sehingga rekomendasi yang diberikan hanya berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai penikmat film.

Menurutnya, meski selama ini lebih banyak menonton film Barat, ada sejumlah film Indonesia yang memiliki kualitas sangat baik dan pantas diapresiasi.

Baca Juga: 20 Tanaman Hias Indoor untuk Rumah Minimalis, Monstera hingga Bromelia Cocok Percantik Hunian

Top 3 Dibuka dengan The Raid

Posisi ketiga dalam daftar ditempati The Raid yang dirilis pada 2012. Film garapan Gareth Huw Evans ini dinilai sebagai salah satu tonggak penting perkembangan genre aksi di Indonesia.

Menurut pembawa acara, kekuatan utama film tersebut bukan berada pada cerita, melainkan aksi pertarungan yang intens dari awal hingga akhir.

Ia menjelaskan bahwa alur cerita The Raid sebenarnya sederhana. Film tersebut hanya berfokus pada tim khusus kepolisian yang melakukan penggerebekan sebuah apartemen yang dikuasai bandar narkoba.

Meski demikian, kesederhanaan cerita justru dianggap menjadi keunggulan karena seluruh perhatian diarahkan pada koreografi pertarungan.

Ia bahkan membandingkan kualitas pertarungan tangan kosong dalam The Raid dengan film John Wick. Menurutnya, adegan bela diri berbasis pencak silat memberikan pengalaman yang berbeda.

Disebut sebagai Pelopor Film Action Modern Indonesia

Selain kualitas adegan laga, The Raid juga disebut sebagai film yang membuka jalan bagi lahirnya banyak film aksi Indonesia setelahnya.

Dalam penjelasannya, kreator menyebut beberapa judul seperti Headshot, The Night Comes for Us, hingga film-film semesta Bumilangit seperti Gundala dan Sri Asih sebagai karya yang berkembang setelah keberhasilan The Raid.

Ia juga menyoroti peran sejumlah aktor seperti Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian, serta Ray Sahetapy yang dinilai semakin dikenal luas setelah film tersebut dirilis.

Ray Sahetapy secara khusus mendapat pujian berkat perannya sebagai Tama, bos narkoba dalam cerita. Sosok antagonis tersebut disebut memiliki banyak adegan yang masih membekas hingga sekarang.

Pembawa acara juga mengingat salah satu dialog ikonik Tama yang menurutnya berhasil membangun ketegangan sepanjang film.

The Raid 1 Dinilai Lebih Ikonik

Meski banyak penonton menganggap The Raid 2 memiliki cerita lebih kompleks, kreator justru memilih film pertama sebagai favoritnya.

Menurutnya, The Raid sejak awal memang dirancang sebagai film yang berfokus pada aksi sehingga kesederhanaan cerita tidak menjadi masalah.

Ia juga menilai banyak adegan dalam film pertama yang jauh lebih mudah diingat, termasuk beberapa pertarungan yang kemudian menjadi bahan meme di internet.

Selain itu, ketegangan dari lantai demi lantai menuju pertarungan terakhir disebut terus meningkat hingga akhir film.

Baca Juga: 10 Tanaman Hias Tahan di Dalam Rumah, Monstera hingga Peace Lily Jadi Rekomendasi

Daun di Atas Bantal Masuk Posisi Kedua

Urutan kedua ditempati Daun di Atas Bantal, film produksi 1998 yang disutradarai Garin Nugroho.

Kreator mengakui sebagian besar penonton muda kemungkinan belum mengenal film tersebut karena usianya yang sudah cukup lama.

Film ini mengikuti kisah tiga anak jalanan bernama Heru, Sugeng, dan Kancil yang diperankan oleh anak-anak jalanan asli, bukan aktor profesional.

Sementara tokoh utama dewasa diperankan oleh Christine Hakim.

Mengangkat Kritik Sosial

Menurut pembawa acara, Daun di Atas Bantal memiliki gaya penceritaan yang berbeda dibanding kebanyakan film.

Ia menilai film tersebut tidak menawarkan konflik yang disusun secara konvensional, melainkan mengajak penonton mengikuti perjalanan para tokohnya hingga memahami gambaran besar yang ingin disampaikan.

Film ini juga disebut menghadirkan suasana yang sangat realistis karena menggunakan anak jalanan asli.

Kesan dokumenter menjadi salah satu alasan mengapa film tersebut terasa begitu kuat.

Selain itu, sinematografi dan penggunaan warna juga mendapat pujian.

Ia menilai komposisi warna dalam setiap adegan dibuat dengan sangat baik sehingga tetap nyaman dinikmati meski mengambil latar kawasan kumuh.

Mengangkat Kejahatan Asuransi

Kreator juga menyoroti kritik sosial yang diangkat film tersebut.

Menurut penjelasannya, Daun di Atas Bantal mengangkat praktik kejahatan asuransi terhadap anak-anak jalanan.

Dalam cerita, anak-anak jalanan didaftarkan sebagai peserta asuransi sebelum akhirnya dibunuh agar pelaku memperoleh uang pertanggungan.

Tema tersebut disebut membuat film terasa tragis sekaligus memiliki pesan sosial yang kuat.

Ia juga mengingat sejumlah adegan Christine Hakim yang menurutnya sangat berkesan.

Baca Juga: 10 Drama Korea Terbaru Tayang Juli 2026, A Shop for Killers Season 2 hingga The East Palace Siap Ramaikan Watchlist

Honorable Mention Berisi Film Populer

Sebelum mengungkap film terbaik versinya, pembawa acara menyampaikan beberapa rekomendasi tambahan.

Film-film tersebut antara lain:

Comic 8 dipuji karena penulisan cerita yang dianggap rapi dan memiliki kejutan pada akhir film.

Selain itu, kehadiran banyak komika dinilai berhasil menghasilkan komedi yang efektif.

Film 5 cm mendapat apresiasi karena hubungan antarkarakter yang terasa hidup.

Sementara Laskar Pelangi dipuji melalui pesan moral dan kualitas visualnya meski menurut kreator bagian klimaksnya kurang memuaskan.

Petualangan Sherina disebut sebagai salah satu film anak terbaik Indonesia berkat lagu-lagunya yang ikonik serta akting Sherina Munaf ketika masih kecil.

Sedangkan Merry Riana mendapat pujian melalui penampilan Chelsea Islan sebagai pemeran utama.

Di bagian ini, kreator juga mengungkap kerinduannya terhadap film Indonesia bertema keluarga dan pendidikan.

Ia menilai belakangan bioskop Indonesia lebih banyak diisi film horor maupun drama percintaan.

Denias Jadi Film Indonesia Terbaik Versi Ngelantur

Posisi pertama ditempati Denias, Senandung di Atas Awan yang dirilis pada 2006.

Film tersebut disebut sebagai karya yang paling berkesan karena memadukan keindahan visual, pesan moral, unsur budaya, komedi, hingga drama emosional.

Menurut kreator, Denias bahkan lebih disukainya dibanding Laskar Pelangi.

Film ini mengambil latar Papua dan memperlihatkan kehidupan masyarakat pedalaman, termasuk tradisi Suku Dani.

Salah satu tradisi yang disorot adalah pemotongan jari sebagai simbol duka ketika anggota keluarga meninggal.

Adegan tersebut disebut menjadi salah satu bagian yang paling diingatnya.

Mengangkat Pentingnya Pendidikan

Selain budaya Papua, Denias juga mengangkat pentingnya pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil.

Pembawa acara mengisahkan bagaimana tokoh-tokoh dalam film sangat menghargai kesempatan bersekolah.

Ia mencontohkan adegan ketika anak-anak menerima seragam sekolah dan merasa sangat bahagia hingga tetap mengenakannya saat tidur.

Menurutnya, adegan tersebut memperlihatkan betapa berharganya akses pendidikan bagi mereka.

Baca Juga: 15 Drama Korea Kolosal Terbaik di Netflix Sepanjang Masa, Alchemy of Souls Duduki Posisi Pertama

Emosi dan Komedi Berjalan Seimbang

Kreator juga memuji keseimbangan antara drama dan komedi dalam Denias.

Ia mengingat karakter Enos yang dinilai menghadirkan banyak adegan lucu, terutama ketika harus berlari jauh untuk mengambil rapor agar bisa melanjutkan sekolah.

Di sisi lain, film juga menyuguhkan berbagai adegan emosional yang dinilai mampu membuat penonton terharu.

Kombinasi visual alam Papua, budaya lokal, serta kisah perjuangan memperoleh pendidikan menjadi alasan utama Denias dipilih sebagai film Indonesia terbaik versinya.

Daftar Bersifat Subjektif

Menutup video, pembawa acara kembali menegaskan bahwa seluruh daftar tersebut merupakan pendapat pribadi.

Ia mempersilakan penonton memberikan rekomendasi film Indonesia terbaik versi masing-masing melalui kolom komentar.

Beberapa judul lain seperti Pengabdi Setan, Pintu Terlarang, Habibie & Ainun, hingga Dilan juga sempat disebut sebagai contoh film yang mungkin dipilih oleh penonton.

Selain mengajak berdiskusi, ia juga mengundang penonton bergabung ke grup WhatsApp komunitas Ngelantur untuk membahas film dan serial televisi.

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Rekomendasi Film Indonesia Terbaik Denias Senandung di Atas Awan Daun di Atas Bantal Film Indonesia Terbaik the raid