JAKARTA - Kerajaan Majapahit menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah Nusantara yang pernah menguasai hampir seluruh Asia Tenggara. Berdiri pada 1293 di bawah kepemimpinan Raden Wijaya, Majapahit berkembang menjadi imperium maritim besar sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara, perebutan takhta, dan pergeseran jalur perdagangan internasional.
Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang berhasil mempersatukan berbagai wilayah Nusantara melalui kekuatan militer, diplomasi, dan perdagangan. Nama kerajaan ini semakin harum ketika Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara di bawah satu panji kekuasaan.
Di masa keemasannya, terutama saat pemerintahan Hayam Wuruk pada abad ke-14, Majapahit mengendalikan jalur perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan Tiongkok, India, hingga Timur Tengah. Namun kejayaan itu perlahan memudar setelah konflik internal dan bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Jawa.
Baca Juga: Vivo V50 Resmi Hadir, Bawa Baterai 6000 mAh dan Desain Baru, Tapi Benarkah Lebih Baik dari Vivo V40?
Berdirinya Kerajaan Majapahit Berawal dari Kejatuhan Singasari
Lahirnya Kerajaan Majapahit tidak bisa dilepaskan dari runtuhnya Kerajaan Singasari pada 1292. Saat itu, Raja Kertanegara tewas akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kediri yang memanfaatkan lemahnya stabilitas internal kerajaan.
Di tengah kekacauan politik tersebut, muncul Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang berhasil menyusun strategi licik namun efektif. Ia memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol dari Dinasti Yuan yang dikirim Kubilai Khan untuk menghukum Singasari karena penghinaan terhadap utusannya.
Raden Wijaya berpura-pura bekerja sama dengan pasukan Mongol untuk menjatuhkan Jayakatwang. Setelah Kediri berhasil dikalahkan, Raden Wijaya justru berbalik menyerang pasukan Mongol hingga mereka terpaksa meninggalkan Jawa.
Kemenangan itu menjadi tonggak berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293. Nama “Majapahit” sendiri berasal dari buah maja yang rasanya pahit dan banyak ditemukan di wilayah pusat kerajaan.
Pada masa awal pemerintahannya, Raden Wijaya fokus membangun fondasi kerajaan. Ia memperkuat birokrasi, membangun sistem pertahanan, dan mengembangkan pelabuhan perdagangan di pesisir utara Jawa.
Wilayah Trowulan yang kini berada di Mojokerto, Jawa Timur dipilih sebagai pusat pemerintahan karena strategis. Lokasinya dekat Sungai Brantas sehingga memudahkan distribusi perdagangan dan pertanian.
Meski begitu, Majapahit belum sepenuhnya stabil. Setelah Raden Wijaya wafat pada 1309, penerusnya Jayanegara menghadapi berbagai pemberontakan internal seperti pemberontakan Nambi, Rangga Lawe, dan Lembu Sora yang nyaris mengguncang fondasi kerajaan muda tersebut.
Gajah Mada dan Hayam Wuruk Membawa Majapahit ke Puncak Kejayaan
Puncak kejayaan Kerajaan Majapahit terjadi ketika Tribhuwana Tunggadewi memerintah dan mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubhumi pada 1336.
Dalam pelantikannya, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menjadi simbol ambisi penyatuan Nusantara. Ia bertekad tidak akan menikmati kesenangan hidup sebelum seluruh wilayah Nusantara tunduk kepada Majapahit.
Di bawah kepemimpinan Gajah Mada, Majapahit melakukan ekspansi besar-besaran ke Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga Semenanjung Malaya. Strategi yang digunakan tidak hanya perang, tetapi juga diplomasi dan kerja sama politik.
Majapahit kemudian mencapai masa emas saat Hayam Wuruk naik takhta pada 1350. Hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada dianggap sebagai duet paling sukses dalam sejarah politik Nusantara.
Pada masa ini, Majapahit menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhan seperti Tuban dan Gresik dipenuhi pedagang dari Tiongkok, India, Arab, dan Asia Tenggara.
Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi rempah-rempah, beras, kain, logam mulia, dan kayu cendana. Sistem pajak dan upeti yang tertata membuat kas kerajaan sangat kuat.
Majapahit juga mengalami kemajuan budaya yang luar biasa. Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca mencatat luas wilayah kekuasaan kerajaan, sementara Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular melahirkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Selain ekonomi dan budaya, Majapahit dikenal memiliki armada laut yang kuat. Kapal perang jong mampu membawa ratusan prajurit dan menjadi simbol dominasi maritim kerajaan di Asia Tenggara.
Perang Paregreg hingga Bangkitnya Demak Jadi Awal Keruntuhan Majapahit
Keruntuhan Kerajaan Majapahit dimulai setelah wafatnya Hayam Wuruk pada 1389. Sosok pemersatu yang selama ini menjaga stabilitas kerajaan hilang, sementara perebutan kekuasaan mulai memecah elite istana.
Konflik terbesar terjadi dalam Perang Paregreg pada 1404–1406 antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi. Perang saudara tersebut menguras kekuatan militer, ekonomi, dan politik Majapahit.
Akibat perang berkepanjangan, banyak wilayah taklukan mulai melepaskan diri. Aktivitas perdagangan menurun drastis dan pelabuhan-pelabuhan penting kehilangan pengaruhnya.
Di saat yang sama, kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Jawa seperti Demak, Gresik, dan Cirebon mulai tumbuh menjadi pusat perdagangan baru. Pedagang internasional lebih memilih pelabuhan yang stabil dibanding wilayah Majapahit yang dilanda konflik.
Menurut sejumlah catatan sejarah, tahun 1478 menjadi simbol runtuhnya kekuasaan pusat Majapahit setelah serangan Demak yang dipimpin Raden Patah. Meski beberapa sisa kekuasaan masih bertahan di wilayah timur Jawa dan Bali, pengaruh politik Majapahit tidak lagi dominan.
Namun warisan Majapahit tetap hidup hingga kini. Konsep persatuan Nusantara, filosofi Bhinneka Tunggal Ika, hingga sistem budaya dan pemerintahan menjadi bagian penting dalam identitas Indonesia modern.
Kerajaan Majapahit menjadi bukti bahwa Nusantara pernah memiliki kekuatan besar yang disegani dunia. Di balik kejayaannya, sejarah Majapahit juga memberi pelajaran bahwa perpecahan internal dapat menjadi awal runtuhnya sebuah peradaban besar.
Editor : Divka Vance Yandriana