TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Catatan penting sejarah Kerajaan Tarumanegara mengungkap bahwa Sungai Bekasi merupakan sungai buatan hasil karya peradaban Hindu-Buddha tertua kedua di Nusantara. Pembangunan saluran air tersebut dilakukan untuk mengatasi ancaman banjir tahunan sekaligus menyediakan sarana irigasi pertanian di wilayah Jawa Barat.
Kerajaan yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-5 hingga ke-7 Masehi ini memiliki wilayah kekuasaan yang membentang luas. Guru Besar Filologi Prof. Poerbatjaraka menjelaskan bahwa pusat pemerintahan kerajaan berada di Bekasi, dengan cakupan wilayah meliputi Banten, Jakarta, Bogor, hingga Cirebon.
Eksistensi peradaban agraris dan maritim ini berhasil direkonstruksi oleh para sejarawan melalui tujuh prasasti batu, kompleks percandian, arca kuno, serta naskah kronik Tiongkok.
Catatan Penjelajah Tiongkok dan Hubungan Diplomatik
Bukti tertulis tertua mengenai sejarah Kerajaan Tarumanegara tersimpan dalam catatan perjalanan pendeta Buddha asal Tiongkok, Fahien, bertajuk Fakochi. Fahien mencatat pernah menetap selama lima bulan pada tahun 414 Masehi di wilayah yang ia sebut Yepoti.
Dalam catatannya, Fahien melaporkan bahwa mayoritas penduduk kala itu masih memeluk kepercayaan animisme dan dinamisme, sementara penganut Hindu dan Buddha terbatas pada kaum Brahmana, bangsawan, serta pedagang. Kondisi ini terjadi lantaran pengaruh ajaran Hindu-Buddha masih berada pada tahap awal penyebaran.
Selain catatan Fahien, kronik Dinasti Sui (581–618 M) dan Dinasti Tang (619–907 M) menyebut kerajaan ini dengan nama Tolomo. Catatan Dinasti Sui merekam kedatangan utusan dari Tolomo pada tahun 528 dan 535 Masehi, disusul kunjungan diplomatik berikutnya pada tahun 630 dan 669 Masehi menurut catatan Dinasti Tang.
Setelah tahun 669 Masehi, catatan mengenai Tolomo berhenti, yang mengindikasikan runtuhnya kerajaan akibat serangan Kerajaan Sriwijaya.
Kejayaan Raja Purnawarman dan Proyek Kanal Raksasa
Masa keemasan sejarah Kerajaan Tarumanegara terjadi di bawah kepemimpinan Raja Purnawarman yang dipuji sebagai sosok jujur, adil, tegas, dan arif. Rakyat menganggap Raja Purnawarman sebagai titisan Dewa Wisnu yang bertugas melindungi serta memelihara ketenteraman negeri.
Kepemimpinan Sang Raja diabadikan dalam Prasasti Tugu yang ditemukan pada tahun 1879 di Desa Tugu, Tanjung Priok, Jakarta, sebelum dipindahkan ke Museum Nasional Indonesia pada tahun 1911. Prasasti yang dibuat untuk memperingati 22 tahun masa pemerintahan raja tersebut memerintahkan penggalian Sungai Gomati selama 21 hari serta pembuatan Sungai Candrabaga yang kini dikenal sebagai Sungai Bekasi.
Sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan proyek irigasi dan penanggulangan banjir tersebut, Raja Purnawarman menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.
Deretan Prasasti dan Peninggalan Arkeologis
Selain Prasasti Tugu, peninggalan bertuliskan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta berbentuk syair ditemukan di berbagai titik. Prasasti Ciaruteun yang ditemukan tahun 1863 di Cibungbulang, Bogor, memuat cap telapak kaki Raja Purnawarman sebagai lambang kekuasaan dan identik dengan aliran Hindu Siwa.
Arkeolog Belanda N.W. Hoepermans pada tahun 1864 turut menemukan Prasasti Kebun Kopi berlukiskan telapak kaki gajah Airawata, Prasasti Muara Cianten beraksara ikal, serta Prasasti Pasir Awi di Jonggol. Penemuan lain meliputi Prasasti Jambu oleh Jonathan Rigg pada tahun 1854 di Bogor, serta Prasasti Cidanghiang yang dilaporkan oleh Tubagus Rusjan pada tahun 1947 di Pandeglang, Banten.
Situs peninggalan fisik juga mencakup Kompleks Percandian Batujaya di Karawang yang memiliki sekitar 24 situs, seperti Candi Jiwa, Candi Blandongan, Candi Serut, dan Candi Semur sebagai pusat ritual Buddha. Penemuan dua patung Dewa Wisnu asal abad ke-7 Masehi di Karawang semakin memperkuat bukti hubungan budaya dengan India Selatan, Thailand, Kamboja, dan Semenanjung Melayu.
Sistem Perekonomian Agraris dan Perdagangan Luar Negeri
Masyarakat Tarumanegara mengandalkan sektor pertanian, perburuan, peternakan sapi, dan perdagangan sebagai mata pencarian utama. Jalur perdagangan berkembang pesat, baik melalui darat menggunakan transportasi tenaga sapi maupun jalur perairan laut.
Komoditas ekspor utama yang diperdagangkan dengan pedagang asal India dan Tiongkok meliputi cula badak, gading gajah, emas, serta perak. Hubungan baik antara raja, kaum Brahmana, dan rakyat menjadi pondasi utama yang membawa stabilitas dan kemakmuran ekonomi kerajaan selama berabad-abad.
Seluruh bukti arkeologis ini menegaskan bahwa Tarumanegara merupakan salah satu peradaban tertua yang berhasil membangun sistem tata kelola air dan diplomasi internasional di Nusantara.
Baca Juga: Baby Soleil Zebora Ghazali Lahir, Kain Bedong Putri Al Ghazali dan Alyssa Daguise Jadi Sorotan
Sumber : You Tube