TRENGGALEKNJENGGELK,JAWAPOS.COM - Intermittent fasting masih menjadi salah satu metode diet yang banyak dipilih untuk membantu menurunkan berat badan maupun menjaga kesehatan. Namun, dokter mengingatkan bahwa pola makan ini bukan sekadar mengurangi frekuensi makan, melainkan mengatur waktu makan dan waktu berpuasa secara konsisten. Kesalahan dalam menjalankannya justru dapat membuat manfaat yang diharapkan tidak tercapai.
Hal tersebut disampaikan Dr. Santi, Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia, dalam program Kamus Sehat bersama Sony Wicaksono. Menurutnya, konsep utama intermittent fasting berbeda dengan diet pada umumnya yang lebih berfokus pada jenis makanan.
Dalam intermittent fasting, yang diatur adalah kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berhenti mengonsumsi makanan berkalori. Karena itu, disiplin terhadap jadwal makan menjadi faktor penting agar metode ini berjalan sesuai tujuan.
Intermittent Fasting Mengatur Waktu Makan
Dr. Santi menjelaskan bahwa kebanyakan program diet mengatur jenis makanan yang dikonsumsi untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menurunkan berat badan atau mengendalikan gula darah.
Sebaliknya, intermittent fasting lebih menitikberatkan pada pengaturan waktu makan.
"Kalau intermittent fasting yang diatur itu kapan dimakan," jelasnya.
Menurutnya, konsep tersebut memiliki kemiripan dengan puasa Ramadan karena sama-sama memiliki periode makan dan periode berpuasa.
Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua intermittent fasting sama dengan puasa Ramadan. Seseorang yang menjalankan puasa Ramadan otomatis melakukan intermittent fasting, tetapi pelaku intermittent fasting belum tentu menjalankan puasa sesuai syariat Islam.
Ada Dry Fasting dan Wet Fasting
Dr. Santi menyebut intermittent fasting secara umum terbagi menjadi dua jenis, yakni dry fasting dan wet fasting.
Pada dry fasting, seseorang tidak diperbolehkan makan maupun minum selama periode puasa.
Sementara pada wet fasting, konsumsi air putih tetap diperbolehkan selama menjalani waktu puasa.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu karakteristik yang membedakan berbagai metode intermittent fasting.
Baca Juga: Jadwal Semifinal SEA V League 2026 Putra Leg 2 Hari Ini: Indonesia vs Vietnam Main Jam 19.00 WIB
Mengenal Konsep Jendela Makan
Dalam praktiknya, satu hari dibagi menjadi waktu makan dan waktu berpuasa.
Menurut Dr. Santi, minimal seseorang menjalani puasa selama 12 jam dan memiliki waktu makan selama 12 jam.
Sebagai contoh, apabila seseorang selesai makan malam pukul 20.00, maka ia tidak lagi mengonsumsi makanan maupun minuman berkalori hingga pukul 08.00 keesokan harinya.
Dengan pola tersebut, seseorang telah menjalani intermittent fasting selama 12 jam.
Namun, durasi puasa dapat diperpanjang sesuai metode yang dipilih.
Beberapa pola yang umum diterapkan antara lain 14 jam puasa dengan 10 jam makan, 16 jam puasa dan delapan jam makan, hingga 18 jam puasa dan enam jam makan.
Ada pula metode yang hanya memberikan waktu makan satu jam dalam sehari sehingga seseorang berpuasa sekitar 23 jam.
Puasa Harus Dilakukan Secara Berurutan
Dr. Santi menegaskan bahwa waktu puasa tidak boleh diselingi dengan makan.
Artinya, apabila seseorang memilih puasa selama 12 jam, maka periode tersebut harus dijalani secara penuh tanpa mengonsumsi makanan berkalori.
Setelah jendela puasa selesai, barulah waktu makan dimulai hingga batas waktu yang telah ditentukan.
Menurutnya, apabila waktu makan dan puasa terus diselingi, konsep intermittent fasting tidak lagi terpenuhi.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Salah satu kesalahan yang paling sering ditemui adalah menjalankan puasa terlalu lama tanpa perencanaan yang jelas.
Dr. Santi menjelaskan bahwa sebagian orang melakukan puasa lebih dari 23 jam, bahkan hingga dua hari, tiga hari, lima hari, atau satu minggu.
Pola tersebut dikenal sebagai extended fasting.
Menurutnya, extended fasting sebenarnya masih dapat dilakukan dalam kondisi tertentu, terutama jika hanya sesekali dan berada di bawah pengawasan dokter.
Namun, apabila dilakukan terlalu sering tanpa evaluasi maupun tujuan yang jelas, risiko kekurangan gizi dapat meningkat.
Baca Juga: 5 Tanaman Liar Berkhasiat untuk Kesehatan, Dokter Ungkap Manfaat Meniran hingga Rumput Teki
Risiko Kekurangan Zat Gizi
Dr. Santi menjelaskan bahwa tubuh manusia tidak mampu memproduksi seluruh zat gizi yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, vitamin C harus diperoleh dari makanan atau minuman yang dikonsumsi.
Demikian pula beberapa jenis asam amino yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh.
Karena itu, puasa berkepanjangan tanpa asupan makanan berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi apabila dilakukan secara tidak tepat.
Ia menegaskan bahwa bukan berarti extended fasting dilarang, tetapi pelaksanaannya memerlukan pendampingan tenaga kesehatan.
Jangan Balas Dendam Saat Jendela Makan
Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah mengonsumsi makanan secara berlebihan setelah waktu puasa berakhir.
Dr. Santi menyebut kondisi tersebut mirip dengan kebiasaan sebagian orang saat berbuka puasa Ramadan yang langsung menyantap berbagai makanan dalam jumlah besar.
Padahal, menurutnya, apabila tujuan intermittent fasting adalah menurunkan berat badan, menjaga kesehatan, atau mengendalikan gula darah, maka pilihan makanan saat jendela makan tetap harus diperhatikan.
Walaupun definisi intermittent fasting hanya mengatur waktu makan, kualitas makanan tetap berperan dalam mendukung hasil yang diharapkan.
Tujuan Menentukan Cara Menjalankan Diet
Dr. Santi mengatakan setiap orang memiliki alasan berbeda menjalankan intermittent fasting.
Ada yang ingin menurunkan berat badan, mengontrol kadar gula darah, menjaga kesehatan, bahkan menghemat pengeluaran.
Namun, apa pun tujuannya, pola makan selama jendela makan tetap sebaiknya mengikuti prinsip gizi seimbang.
Dengan demikian, manfaat yang diharapkan dari intermittent fasting dapat diperoleh secara lebih optimal.
Minuman Berkalori Hanya Saat Jendela Makan
Mengenai konsumsi minuman berkalori, Dr. Santi menjelaskan bahwa hal tersebut hanya diperbolehkan ketika seseorang berada dalam jendela makan.
Sebaliknya, selama memasuki periode puasa, minuman yang mengandung kalori tidak dianjurkan.
Aturan tersebut berlaku agar tubuh tetap berada dalam kondisi puasa sesuai konsep intermittent fasting.
Olahraga Tetap Bisa Dilakukan
Dr. Santi juga menyinggung aktivitas fisik selama menjalani intermittent fasting.
Menurutnya, olahraga dengan intensitas berat tetap dapat dilakukan saat seseorang sedang berada pada jendela puasa.
Namun, hal tersebut hanya berlaku bagi mereka yang sudah terbiasa berolahraga dan memiliki kondisi fisik yang memadai.
Olahraga berat memerlukan stamina, kemampuan tubuh, serta teknik yang benar.
Karena itu, aktivitas fisik selama intermittent fasting perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.
Intermittent Fasting Perlu Disesuaikan dengan Kondisi Tubuh
Dr. Santi menekankan bahwa intermittent fasting pada dasarnya merupakan bagian dari gaya hidup sehingga tidak perlu dianggap terlalu rumit.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak takut mencoba, tetapi tetap memahami prinsip dasar dan menghindari kesalahan yang dapat mengurangi manfaatnya.
Pengaturan waktu makan, pemilihan makanan yang tetap sehat, serta menghindari puasa berlebihan tanpa pendampingan menjadi hal penting agar intermittent fasting dapat dijalankan dengan aman dan sesuai tujuan kesehatan.
Baca Juga: 7 Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan, Disebut Bantu Turunkan Gula Darah hingga Jaga Daya Ingat
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest