(Kredit Foto:Gemini Ai)
TRENGGALEK- IQOO Z10 menjadi sorotan setelah diperkenalkan sebagai smartphone dengan baterai terbesar di Indonesia saat ini. Mengusung kapasitas jumbo 7.300 mAh, perangkat ini langsung mencuri perhatian karena berhasil melampaui rekor sebelumnya yang bertahan di angka 7.000 mAh. Tak hanya soal kapasitas, IQOO Z10 juga menawarkan desain yang tetap ramping dan ringan, sesuatu yang jarang ditemui pada ponsel dengan baterai besar.
Dalam ulasan yang beredar di YouTube, IQOO Z10 disebut menggunakan teknologi baterai terbaru berbasis silikon karbon yang dinamakan BlueVolt Battery Technology. Teknologi ini memungkinkan kepadatan baterai lebih tinggi tanpa harus menambah ketebalan bodi secara signifikan. Hasilnya, ponsel ini tetap memiliki ketebalan sekitar 7,89 mm dan bobot di bawah 200 gram.
Baca Juga: 7 HP 1 Jutaan Terbaik Maret 2026, Spek Gahar Mulai 120Hz hingga Baterai 7000 mAh!
Desain Tipis dengan Baterai Jumbo
Secara tampilan, IQOO Z10 tampil ergonomis dengan sudut melengkung di seluruh sisi. Layar depan menggunakan panel P-OLED 6,77 inci dengan resolusi Full HD Plus dan refresh rate 120 Hz. Tingkat kecerahan layar bahkan diklaim mencapai 5.000 nits, membuatnya tetap nyaman digunakan di bawah sinar matahari.
Desain ini menjadi nilai jual utama karena biasanya smartphone dengan baterai besar identik dengan bodi tebal dan berat. Namun, IQOO Z10 justru menghadirkan kombinasi antara daya tahan baterai ekstrem dan kenyamanan penggunaan harian.
Uji Ketahanan Baterai yang Impresif
Dalam pengujian penggunaan, baterai IQOO Z10 menunjukkan performa yang sangat efisien. Streaming musik selama 8 jam hanya menguras sekitar 32 persen baterai, atau rata-rata 4 persen per jam. Angka ini lebih hemat dibandingkan ponsel dengan baterai 5.000–6.000 mAh yang biasanya menghabiskan 5–6 persen per jam.
Untuk penggunaan navigasi seperti Google Maps, konsumsi baterai hanya sekitar 6 persen dalam 30 menit. Sementara untuk gaming, Mobile Legends dengan pengaturan 90 fps hanya menguras 6 persen dalam satu jam. Bahkan game berat seperti Genshin Impact hanya menghabiskan sekitar 7 persen dalam 30 menit.
Tak hanya tahan lama, pengisian daya juga tergolong cepat. Dengan dukungan charger 90W, baterai bisa terisi 30 persen dalam 15 menit dan mencapai 100 persen dalam waktu sekitar satu jam.
Performa Kencang di Kelasnya
Di sektor performa, IQOO Z10 ditenagai chipset Snapdragon 7s Gen 3 dengan skor AnTuTu sekitar 800 ribuan. Pilihan RAM tersedia hingga 12 GB dengan penyimpanan maksimal 512 GB. Kombinasi ini membuat performa ponsel cukup stabil untuk berbagai kebutuhan, termasuk gaming.
Menariknya, suhu perangkat tetap terjaga di kisaran 40 derajat Celsius saat digunakan bermain game. Hal ini menjadi nilai tambah karena performa tinggi biasanya identik dengan suhu panas.
Harga Jadi Penentu Utama
Salah satu daya tarik lain dari IQOO Z10 adalah harganya yang berada di kisaran Rp3 jutaan. Bahkan, pada masa promo awal, tersedia cashback hingga Rp500 ribu yang membuatnya semakin kompetitif.
Namun, tanpa promo tersebut, harga dianggap kurang menarik untuk beberapa varian. Terutama karena ada beberapa kompromi yang harus diterima pengguna.
Kamera dan Fitur yang Perlu Ditingkatkan
Di sektor kamera, IQOO Z10 hanya dibekali satu kamera utama tanpa lensa ultrawide. Hasil foto di kondisi terang tergolong baik dengan warna dan detail yang tajam. Namun, performa menurun cukup signifikan saat kondisi minim cahaya, dengan noise yang terlihat jelas.
Selain itu, mode malam justru disebut menghasilkan gambar yang terlalu gelap, diduga akibat bug pada software. Kamera depan juga mampu merekam hingga 4K, tetapi tanpa fitur stabilisasi.
Kekurangan lain terletak pada speaker mono yang dinilai kurang memuaskan, serta rating IP65 yang hanya tahan terhadap percikan air, bukan perendaman.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, IQOO Z10 menawarkan kombinasi menarik antara baterai besar, desain tipis, dan performa stabil. Namun, keputusan membeli sangat bergantung pada harga yang didapat. Jika tersedia dalam harga promo, ponsel ini menjadi salah satu pilihan terbaik di kelasnya. Sebaliknya, tanpa diskon, pengguna mungkin akan mempertimbangkan alternatif lain dengan fitur lebih lengkap.
Editor : Izahra Nurrafidah